Berkali-kali aku menambatkan hati pada beberapa persinggahan
Berkali pula melepas setelah kasih saling mengaitian jari jemari
Kerelaan terberatpun berkali-kali memaksa melipat angan untuk sekadar kembali mengenali senyum indah di persinggahan yang baru
Kutemui ia dengan lakonan megah bertuliskan "Matikan matamu, Nyalakan hatimu"
Perlahan kupejamkan mata persis pintanya
Kita adalah pelakon yang hebat
Kuurungkan niat untuk kembali singgah
Namun ia malah menawarkan sehelai ingatan akan kita di persinggahan terakhir
Kala itu kita ibarat dua kutub berbeda yang memaksa untuk saling bersinggungan
Lalu memilih untuk tak lagi saling tatap dalam pelarian masing-masing
Semesta memang terlalu lihai menyajikan kejutan-kejutan manis yang menyakitkan.
Makassar, 23 Februari 202