Apa Yang Sedang Kau Tunggu?
Jangan dzolim pada hati. Perut dan otakmu terisi, maka hatimu juga berhak untuk diisi.
Jangan berat sebelah, coba seimbangkan. Lagi pula, jika akal dan perutmu sudah kenyang. Tak pernahkah mendengar hatimu meraung meminta makan? Ya, rasa-rasanya memang tak pernah.
Hati terlalu diam dan tak mau membuatmu kecapaian meskipun dirinya telah kerontang sekalipun.
Aduh, kau ini bagaimana. Soal hati saja tak tahu! Hatimu itu perlu makan, Memang perutmu yang buncit itu tega sekali menutupi hati yang telah kering kerontang.
Heh, makan untuk perut saja yang kau tahu! Kapan mau memulai untuk memberi makan hati?
Oh ayolah, makanan hati tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Kau cukup duduk tenang, menikmati bacaan, menikmati lantunan ataupun dengan membaca saja maknanya yang berbahasa Indonesia itu. Tak perlu susah susah berjalan jauh untuk membeli makanan di toko. Tak perlu menabung berhari-hari untuk merasakan kelezatan dari restoran mahal. Cukup ambil Qur'anmu!
Lagi pula, bukankah pintu hatimu sudah sedikit rusak karena dipaksa masuk berkali-kali oleh mereka yang datang namun tak menetap? Oleh mereka yang hanya mengintip lalu pergi? Oleh mereka yang sudah banyak sekali melempar batu pada pintu hatimu yang rapuh itu? Oleh tumpukan debu yang sudah menggunung?
Jangan dzolim pada hati! Kau masih perlu hidup dengannya untuk beberapa tahun lagi. Kau memerlukannya untuk waras dalam berdiri.
Karena sudah sedikit rusak. Ayolah, kembali melihat hati. Sudah lama tak kau jenguk, sudah lama tak kau beri makan. Ah, kerontangnya itu sudah berbau loh! Sepertinya tak sampai setengah jam bumi ini, mau meninggal juga rupanya.
Kapan lagi mau kau beri makan bila waktumu hanya beberapa hari saja?
Sajak Bumi - Dinni Mawaddah














