Terlalu sering mengeluh itu tak sehat.
Namun banyak memendam juga tak membuat kita jadi hebat.
Tingkatkan sabarmu, tinggikan ikhlasmu.
Dan jangan kau lupakan perbanyak syukurmu.

Origami Around
noise dept.
h
sheepfilms
todays bird
art blog(derogatory)
Not today Justin
Peter Solarz
Claire Keane

if i look back, i am lost
Alisa U Zemlji Chuda
Xuebing Du
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Love Begins
Sade Olutola
Mike Driver
dirt enthusiast

#extradirty
will byers stan first human second
Lint Roller? I Barely Know Her
seen from Greece

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Belarus

seen from United States
seen from Belarus

seen from Argentina
seen from Argentina

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@septiawandwi
Terlalu sering mengeluh itu tak sehat.
Namun banyak memendam juga tak membuat kita jadi hebat.
Tingkatkan sabarmu, tinggikan ikhlasmu.
Dan jangan kau lupakan perbanyak syukurmu.
Misteri Dalam Diam
Di dunia kita
Ada yang sedikit bercerita
Tak pernah menyampaikan berita
Hingga membuat sebagian tak mampu berkata-kata
Yang dulu tertawa renyah
Yang dulu senyumnya sumringah
Hanya mampu munculkan gundah
Sebagian mereka menatap dengan gelisah
Bergumam sambil menerka
Kapan waktuku tiba
Diam tanpa suara
Terbujur kaku disaksikan ribuan pasang mata
Jika Satu Itu Awal, Lalu?
Yang kita harapkan telah datang.
Masih diawal dan belum jauh dari satu.
Dulu mungkin kita pernah menyesel telah melewatinya tanpa ada yang membekas, tanpa ada yang bermakna, dan tanpa ada rasa memiliki.
Tanpa disadari telah lewat dan tak kembali.
Mungkin, bertemunya kita kali ini merupakan kesempatan terakhir, atau kesempatan awal kita untuk memeluk ramadhan lebih erat lagi.
Jangan sampai terjadi penyesalan-penyesalan berikutnya.
Atau jangan sampai nanti kita tak mampu menyesalinya lagi karena ramadhan selanjutnya tak menyapa hangat kita.
Kali ini, coba kita raih berkahnya, cari ridhoNya, dan lewati Ramadhan dengan sungguh-sungguh bahwa esok tak lagi hari kita.
Karena masih awal, masih ada kesempatan.
"Jangan sampai setelah akhir, kita diselimuti penyesalan tanpa perlawanan."
- DAgger
Tentang Waktu?
Jika semua tentang waktu,
Maka jangan kau lupakan yang lalu
Jangan kau remehkan yang sekarang
Dan jangan kau abaikan yang akan datang
Karena, waktu tak pernah ingkar janji
Meninggalkan mereka yang lalai
Mengiringi mereka yang acuh
Jalan yang kulalui tak banyak cahaya
Gelap dan sunyi tanpa sepatah kata
Kadang aku terdiam sambil bertanya
Apa yang kulakukan ini salah?
Tentang Memaknai Perpisahan
Terkadang kita harus bersyukur pada pertemuan,
Darinya kita belajar banyak hal,
Tentang rasa senang, sedih, dan rasa tak tentu yang tak bisa diungkapkan.
Sehingga, jangan kau berlarut dalam kesedihan
Bisa jadi kau dipertemukan lagi di hari esok,
Di hari di mana kau dan dia sama-sama siap.
Dan jika tidak, setidaknya kau dapatkan pelajaran untuk hari ini.
"Karenanya, syukuri pertemuan, dan berikan senyuman terbaik pada perpisahan."
Yang Baru Itu Tahunnya, Kita?
Yang baru itu tahunnya,
Kita masih sama.
Masih dengan segala bentuk kemalasan,
Masih dengan segala jenis keburukan,
Masih dengan segala hal tentang kesalahan.
Semua itu masih akan sama meski tahun telah berganti baru berulang-ulang kali.
Namun semua itu bisa jadi akan berbeda meski hanya sebatas mentari terbenam nanti.
Jika,
Kita mampu mengurangi kemalasan,
Mampu menghilangkan keburukan,
Dan mampu memperbaiki kesalahan yang lalu.
Esok dan Hari Ini
Tak ada bedanya akhir tahun dan awal tahun.
Sama seperti sebelumnya, bagaikan hari ini dan hari esok.
Namun ada harapan yang selalu sama seperti hari ini, dan harapan yang bertambah untuk hari esok.
Hari esok harus lebih baik dari hari ini? Tentu, itu sudah pasti.
Perbaikilah diri selagi sempat.
Mantapkan hati serta luruskan niat.
Semoga duniamu tak melupakan akhirat.
"Hari ini berkah, kemarin sejarah, dan esok adalah kemungkinan"
- Rasa Syukur
Tak Pasti, Namun "Ada"
Yang pergi bisa jadi tak kembali,
Ada?
Yaitu kepercayaan.
Yang datang bisa jadi menetap,
Ada?
Yaitu kenyamanan.
Yang sesaat bisa jadi penyesalan,
Ada?
Yaitu amarah dan emosi.
Karena Waktu Tak Mengenal Nanti
Semua berjalan pada garisnya
Pernah sekali menyimpang kemudian kembali pada jalurnya
Ketika kedua kali lari dari jalurnya, Ia datangkan resah akan dosa Ia hadirkan penyesalan atas kemaksiatan Kemudian ia kembali pada jalur yang digariskan
Saat ketiga kalinya Ia hadirkan sakit yang mendalam Bukan murka, bukan pula azab Itu hanya teguran
Semoga Allah tidak lelah menegur kita Semoga kita lelah dalam dosa dan maksiat
Cepat lambat itu perkara waktu Entah waktu yang mendatangi kita atau kita yang menjemput waktu
Tentang Aku, Bukan Dia, Apalagi Mereka
Tulisanku bukan tentang dia dan bukan pula tentang mereka. Semua itu hanya tentang aku dan sekelilingku.
Tulisanku hadir seiring dengan waktu yang diberikan oleh Allah kepadaku. Berkembang dan terus berkembang tanpa terbatas oleh satu hal saja.
Kenapa demikian? Apakah aku sehebat itu hingga mampu menulis tanpa batas? Justru sebaliknya, aku hanya seorang “pemula” yang berusaha mengekspresikan emosi, pikiran dan kejadian dalam suatu tulisan. Tak sehebat kalian atau mereka yang mampu menulis meski dalam batas-batas yang digariskan.
Hari ini aku bisa saja menulis tentang bumi dan mungkin besok aku akan menulis tentang laut atau langit. Atau bisa jadi aku hilang ke dalam bumi bersama dengan semua emosi yang belum mampu aku tuliskan. Karena yang terlintas dalam pikiran, yang terlihat oleh mata, dan yang kudengar dengan telinga, serta yang kurasakan dalam hati, itulah yang akan aku tulis untuk diriku.
Tentang kenangan masa lalu yang kualami, masa kini yang kurasakan, dan tentang masa depan yang kuharapkan. Tentang masa lalu yang menjadi pelajaran hingga mampu membuat aku lebih baik di masa kini. Dan tentunya dengan pengharapan, jika itu semua menjadi pelajaran untuk semua orang yang membaca. Dan jika orang lain tak mengambil pelajaran dari masa lalu yang aku tuliskan, cukup semua itu menjadi hal yang akan kuselami dan kurenungi sendiri.
Tentang kejadian hari ini yang setiap langkahnya mampu mengolah setiap emosi dalam diriku. Semuanya menjadi benih ide dalam setiap tulisanku. Menunggu disemai, hingga berbuah hikmah dan pelajaran yang berharga bagi diriku dan sekitarku.
Tentang harapan hari esok yang menjadikanku semangat untuk melangkah. Tentang mimpi-mimpi seorang anak kaki gunung yang saat ini tak lagi muda. Karena tak mampu melukis mimpi, aku hanya berharap pada pena dan tinta untuk menuliskan mimpiku. Dan itu menjadi salah satu “tentang” yang aku tuliskan.
Hari ini dan seterusnya, aku akan setia menulis tentang diriku. Yang diolah dari indera yang dianugrahkan kepadaku.
Aku menulis setiap kejadian yang aku alami, setiap rasa yang aku rasakan, dan setiap emosi yang membuatku hidup.
Karena bagiku, mengomentari diri sendiri dan menuangkannya dalam tulisan, itu lebih bijak dari pada mengomentari orang lain yang mungkin mereka selalu lebih hebat dariku.
Hambatan Itu Bagai Belati Bermata Dua
Dalam dunia kelistrikan, arus yang mengalir pada suatu penghantar itu akan sangat dipengaruhi oleh resistansi atau hambatan. Semakin besar hambatan pada suatu penghantar maka akan mengakibatkan arus semakin kecil. Dan jika arus semakin kecil, maka energi listrik yang disalurkan akan semakin kecil juga. Sehingga agar energi yang sampai ke tujuan sesuai yang diharapkan, maka salah satu caranya yaitu dengan menaikkan arus listrik, agar energi yang sampai ke tujuan sesuai dengan harapan.
Begitu juga dalam dunia kepenulisan. Hambatan itu pasti hadir menghadang setiap penulis untuk berkarya. Seperti belati bermata dua, hambatan itu kadang dapat menghentikan semangat. Namun tak jarang juga menghadirkan semangat kepada setiap penulis untuk menghasilkan karya-karya terbaiknya. Jika kita menyerah, semua berhenti hanya sampai di sana. Dan jika kita mampu mematahkan setiap hambatan yang hadir, maka akhir yang indah akan menghiasi setiap jejak karya kita.
Dalam menulis, tak jarang aku menemui satu atau dua hambatan, bahkan hingga sembilan. Mulai dari yang dirasa ringan hingga yang kadang dirasa sangat berat. Mulai dari waktu yang kesibukan yang membatasi, hingga ide-ide yang kadang sukar untuk hadir meski jari-jari ini ingin sekali menari di atas keyboard. Dan masalah terbesar yang sering aku hadapi dalam menulis hingga saat ini yaitu rasa malas dan rasa jenuh. Malas memang masih menjadi musuh terbesarku saat ini. Terkadang diberikan waktu luang, namun tak pernah terisi oleh setiap kata yang terpikirkan. Diberikan nikmat sehat, namun ternyata malas lebih berkuasa atas raga ini.
Dan hingga saat ini aku masih memegang teguh sebuah prinsip. Yaitu, ”hidup akan terasa biasa-biasa saja, hingga aku melakukan sesuatu yang luar biasa”. Prinsip tersebut selalu menjadi motivasiku untuk menulis dan melawan setiap hambatan yang hadir. Selain itu, berkumpul dengan orang-orang yang memiliki komitmen dan tujuan yang sama, dapat menjadi salah satu caraku untuk menghadapi setiap hambatan yang hadir. Hadir di tengah-tengah mereka yang memiliki tujuan sama, membangkitkan semangat lewat kata. Semuanya terasa nikmat dilalui meski berat dirasakan.
Selain itu menyemangati orang lain merupakan cara untuk mengatasi setiap hambatan tersebut. Karena, bagiku, menyemangati orang lain itu berarti menyemangati diri sendiri.
Dan semoga raga dan jiwa ini mampu menaklukan setiap hambatan dan menggapai setiap jengkal mimpi yang telah kutulis.
Sepetak Ruang Untuk Sebait Kata
Mampu menulis, namun tak pandai membagikan. Mampu merangkai kata, namun tak tahu di mana kata-kata tersebut akan bertengger menyapa pembacanya. Seperti itulah perumpamaan yang tepat untukku.
Pertanyaan “di mana aku akan berbagi tulisanku?’, mampu membuatku merenung sejenak. Kubuka kembali setiap sudut ruang dalam laptop usangku. Ternyata di sana terdapat tulisanku sedari dulu yang mungkin sudah berdebu. Memang sedari dulu aku menulis untuk diriku sendiri. Menulis hanya untuk mengungkapkan keluh kesah. Menulis tak pernah ada tujuan untuk berbagi. Namun saat ini aku sadar, jika aku tak menyiapkan ruang untuk berbagi kepada pembaca, maka tulisanku tak akan pernah sampai kepada mereka.
Untuk saat ini, sepertinya tak perlu susah dan gelisah untuk mencari tempat untuk berbagi tulisan. Kenapa demikian? Karena teknologi pada zaman sekarang telah mendukungmu untuk itu semua. Hampir semua orang pada zaman sekarang memiliki smartphone. Sampai-sampai seorang pemuda berceloteh di warung kopi seperti ini, ”zaman sekarang, handphone itu sama seperti kerupuk”.
Dari kondisi itulah, bagi penulis pemula seperti aku, media sosial seperti whatsapp, instagram dan tumblr merupakan tempat yang tepat jika dijadikan sebagai ruang berbagi kepada pembaca untuk setiap tulisanku. Pasti setiap hari ada orang yang berlalu lalang melintasi beranda setiap media sosial tersebut. Walaupun tak lama, namun ada saatnya mereka singgah hanya untuk sekedar membaca tulisan-tulisanku.
Mungkin berawal dari satu pembaca. Kemudian membagikan kepada pembaca yang lain, hingga menjadi empat, sepuluh, bahkan ribuan pembaca nantinya. Karena pada zaman sekarang, melalui media sosial tersebut, tulisan lebih cepat sampai ke belahan dunia lain ketimbang perjalanan kita menggunakan pesawat.
Maka dari itu, untuk membantu komitmenku menulis dan untuk tujuanku menulis, untuk saat ini aku akan menggunakan media sosial tersebut untuk dijadikan tempat memajang karya-karyaku hingga setiap orang dapat menikmatinya.
Dan dengan strategi apa yang akan aku gunakan? Aku akan terus rutin menulis setiap harinya, hingga tulisankku melekat di hati para pembaca. Dan tak lupa pula, konsisten menulis merupakan strategiku untuk mengetuk hati para penikmat tulisan.
Ada “Kapan?”, Berarti Akan Ada “Saat”
Ketika aku diajukan pertanyaan, “kapan waktu terbaikmu menulis?”, jawabnya, bisa setiap saat. Namun dalam 24 jam sehari, ada waktu yang benar-benar menjadi waktu terbaikku menulis. Yaitu setelah solat subuh hingga sebelum orang-orang berangkat kerja. Dan juga malam setelah beraktivitas. Tak menentu untuk waktu tersebut, namun bila dilihat dari kebiasaan, maka waktu yang aku sebutkan di atas yang memiliki rekor tertinggi dalam memberikan kesempatan untuk menulis.
Kenapa setelah subuh? Bisa jadi kebiasaan karena ketika kecil ibuku selalu mengajarkanku belajar setelah subuh, atau hanya sekadar untuk membaca. Karena terbiasa sejak kecil itulah, waktu subuh seperti sudah mendarah daging menjadi waktu terbaik untuk menulis, membaca, atau mengerjakan sesuatu yang butuh konsentrasi yang lumayan tinggi. Dan waktu malam menjadi salah satu yang terbaik, karena suasana malam yang sunyi membuat aku merasa itu seperti pagi. Jadi, menulis di malam yang sunyi terasa seperti menulis di pagi yang tenang.
Dan ketika diajukan pertanyan, “kapan kamu mendapatkan ide-ide untuk menulis?”.
Jawabnya, bisa setiap waktu. Kenapa bisa begitu? Karena bagiku, ide itu hadir karena suatu kejadian yang ada di sekitar kita. Namun, dari banyak waktu dan aktivitas yang aku lakukan, ide-ide terbaik yang muncul dalam pikiranku adalah ketika aku sedang berjalan-jalan.
Kok bisa begitu? Aneh ya? Terus kalau aku diam aku gak dapat ide?
Bukan begitu juga. Tapi itu juga bisa jadi benar. Karena ketika pikiranku sedang buntu, inspirasi tak kunjung hadir, aku langsung pergi jalan-jalan. Entah itu menggunakan motor, sepeda, atau berjalan kaki. Aku juga heran, namun itu semua nyata. Setelah berjalan-jalan, ide-ide itu bisa muncul dengan banyak pilihan. Dari ide sederhana hingga rumit. Dan dari ide yang masuk di akal hingga ide-ide gila.
Sebenarnya semua waktu itu baik untuk menulis dan memunculkan ide, namun dari yang baik selalu ada yang terbaik yang mampu memaksimalkan kemampuan diri kita.
Jadi, waktu terbaiku untuk menulis adalah diwaktu subuh. Dan ide-ide terbaikku muncul ketika aku sedang berjalan-jalan.
Pagi Ini Ada (Lagi) Yang Mati
Malam telah menunjukkan pukul 11.00, ketika seorang pemuda berambut ikal, bermuka pucat dan bermata sayu mulai merapikan meja kerjanya. Malam yang hening pun tahu jika wajahnya lelah dan tubuhnya tak sanggup lagi berdiri dengan tegap. Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur kusam bermotif kembang-kembang. Yang kalau diperhatikan, kembang itu mulai layu menahan beban tubuhnya.
Perlahan ia pun mulai memejamkan mata, namun setelahnya tersentak. Entah apa yang dipikirkannya hingga membuat ia bergumam, “akankah esok pagi aku terbangun?”.
Tanpa perlu berlama-lama, ia pun akhirnya tertidur pulas. Dengkurannya bersahutan dengan suara tokek di langit-langit kamarnya, hingga membuat nyamuk enggan mendekatinya.
Malam semakin larut, sementara hari telah lama berganti. Tiba-tiba alarm berbunyi dengan kerasnya, melebihi kombinasi dengkuran dan nyanyian tokek sebelumnya. Lagu Iwan Fals yang berjudul “ada lagi yang mati” menjadi tanda jika ia telah menyalakan alarm pada pukul 02.58. Dua menit sejak alarmnya berbunyi, baru tangannya meraba-raba sekitar, mencari sumber suara. Mungkin tangannya memiliki mata atau karena terbiasa, lagu Iwan Fals itu berhenti seketika meskipun Iwan Fals sedang asik-asiknya. Mungkin jika itu konser, Iwan Fals akan marah dan berteriak karena ditengah asiknya ia bernyanyi ada penonton yang menyuruhnya berhenti.
Alarm mati, malam sunyi kembali. Tanpa membukakan mata, ia melanjutkan tidurnya dengan dengkuran khas yang memekakkan telinga. Hingga beberapa saat kemudian, ada lagi alarm yang berbunyi. Kali ini dengan suara merdu dan lantang, yang jauh lebih keras ketimbang lagu Iwan Fals sebelumnya, namun ia tak merespon sedikit pun. Hingga kata Laa ilaaha illallaah menjadi penutup syahdunya alarm sang muazin berakhir, ia masih tetap mematung di kasurnya. Bahkan setelah iqomah dikumandangkan, ia masih tetap kokoh dengan pendiriannya untuk tetap pada kasurnya.
Setelah cahaya mentari masuk melalui celah ventilasi, barulah ia mulai memicingkan mata, menarik nafas dan sambil sesekali mengolet. Kemudian ia melirik jam dinding, menunjukkan pukul 06.30. Dengan langkah yang gontai karena menahan kantuk yang masih menguasai, ia menarik handuk dan menuju kamar mandi. Setelahnya ia berpakaian rapi, menyiapkan tas dan kemudian berangkat menuju ke tempat kerjanya.
Rutinitas itu pun berulang setiap harinya dengan gaya tidur yang berubah. Dengan volume dengkuran yang naik turun. Dan dengan waktu tidur yang tak menentu. Namun ada satu hal yang selalu sama setiap paginya. Yaitu, tak pernah sekalipun azan subuh menggugah hatinya. Tak pernah sekalipun azan subuh menggerakkan langkah kakinya.
Dan pagi menjadi saksi, bahwa setiap pagi ada yang mati.
Dan sunyi menjadi saksi, jika hatinya telah mati.