Apakah Menjadi Ambisius itu Perlu?
Setelah sekian lama tidak mengisi laman biru tua. Bersama anjuran #dirumahaja kemudian sepertinya apapun pemikiran yang ada, bahan obrolan yang selalu muncul akhirnya lebih baik menjadi sebingkis renungan dengan wadah tulisan. Harusnya memang seperti itu bukan? Namun faktanya, makhluk semesta dengan beribu alasannya, begitu sulit melepaskan diri dari pelukan “malas” yang begitu erat. Termasuk malas untuk melupakanmu, misalnya. Ehh.
Sejujurnya di tengah laman putih yang bertuliskan “BAB I PENDAHULULAN”, ada sepenuh amigdala yang berkelana menunggu balas singkat atas pesan obrolan yang selalu berjudul rindu (meski si penerima tidak kunjung tahu). Ada sebuah sambatan sejatinya menuntut menenggak obat penenangan, yang semua itu adalah kalimat biasa darimu.
Aku kadang ingin bertanya, Apakah menjadi ambisius sepertimu itu perlu? Bagaimana tidak? Kamu entah bagaimana selalu punya cara untuk bertahan dalam koridor mimpi yang tengah kau bangun, kamu yang kadang menyebalkan karena menurutku terlalu berlebihan dalam menghukum diri akibat kegagalan mencapai target. Hei, saat ini, andai aku bisa sedikit ambisius, setidaknya hanya sampai segala sesuatunya selesai.
Tapi bukankah aku adalah aku? Seseorang yang hanya mengerti bahwa hakikat tertinggi dari mencintai adalah menjaga kenyamanan meski selalu menimbulkan rinai rindu beterbangan. Aih, barangkali dalam hal ini aku bisa dimasuk dalam kategori ambisius bukan? Meski mungkin lebih tepatnya keras kepala, untuk tetap memendam dan menyapa dalam hening malam nan panjang.
Karena sesepi apapun aku dari kabarmu, hakikatnya segenap peluh masih selalu bersimpuh atas keheningan malam menjelang pagi datang. Karena membuatmu tidak nyaman adalah hal terakhir yang ingin aku lakukan, maka membuatku tidak nyaman adalah pilihan pertama yang selalu aku kecup perlahan.
Balon harapku masih sama, berisi segenap doa, semoga bahagia mengiringimu, salju menghangatkanmu, juga Pemilik Semesta berkenan menghadiahkan temu.
Purworejo, 01 April 2020 -d


















