Fajar telah menyingsing, dan waktu perlahan menantikan pergantiannya. Seperti manusia pada umumnya, aku bangun dan beraktifitas.
Namun...
"Ah, aku bukan manusia pada umumnya. Akulah pria yang selalu menunggu untuk diumumkan."
—innalillahi wa innailaihi raji'un, telah berpulang ke Rahmatullah...
seolah sudah letih memikul beban dunia dan ekspektasi, dan berharap Allah menugaskan malaikat nya menjemput jiwaku atau meniupkan sangka kala.
Hanya saja, aku bukan subjek yang ketika berdo'a, doa-doa yang ku panjatkan langsung diijabah. Semuanya tersimpan dalam arsip ketuhanan yang mungkin saja akan mendapat pertimbangan atau perwujudan sesegera mungkin.
Pagi ini tak seperti biasanya, malam yang lalu dihabiskan dengan menjadi pria platonis—dini harinya menjadi pria agamis dan paginya menjadi realis sosialis.
Malam itu, perbincangan tentang "manusia bertuhan" antara si platonis dan platonis lainnya. Seperti mengisi kanvas kosong dalam ruang gelap gulita, ada imajinasi, ada data, ada perdebatan, ada resolusi, ada yang mengada-ada.
Pertanyaannya cukup relevan dengan retorika saat ini, mungkin sebenarnya bukan retorika. Tentang romansa intelektual "Tuhan kepada manusia, manusia kepada mushaf-nya, dan manusia kepada manusia lain." Perbincangan ini menyangkut romansa sufi Rabiah Al-adawiyah.
Platonis dari Pulau Dewata beranggapan menjadi sufi seperti beliau adalah bentuk keegoisan namun ia tidak memperdulikan itu, seakan jatuh dan cintanya hanya karena Allah. Platonis lain dari Negeri Segantang Lada mengungkapkan bahwa romansa seperti beliau adalah romansa spiritual, tidak mencintai bentuk dan tidak membutuhkan eksistensi.
Namun aku, Rabiah Al-adawiyah adalah bentuk romansa paling sunyi. Tiada pergolakan birahi hanya ada kepemilikan yang abadi.
Perbincangan ini tidak pernah tembus pada inti kesimpulan akhir, ia melambung dan dikejar dan dibiarkan melambung hingga menghilang. Bukan seperti layangan putus, ini lebih seperti balon hidrogen yang terjebak dipermukaan air yang bergelombang ataupun terbang.
Jeda panjang, keheningan, hilang distraksi malah menjadi intermezzo di malam itu. Seakan pulang dan terlelap adalah koenci, dan mereduksi emosi negatif yang terpancar kala argumentasi di lawan.
Jeda dan usai.
Kembali ke peraduan ku—buku dan ruang sesak yang berdebu. Seorang aku berpikir tentang romansa apa yang seharusnya sesuai pada seorang platonis? Apakah platonis hanya akan bertemu dan bertamu pada platonis saja? atau ada kesempatan menguraikan romansa nya pada bentuk atau makhluk lainnya?
"tak seorangpun 'kan merayu. Tidak juga kau" ucapku pada potret wanita yang menjadi cover salah satu novel terlaris.
Pria platonis dan agamis ini meraung dalam gelap dan sesaknya malam, menghabiskan penghayatan bait per bait syair Nizar Qabbani dan naskah Chairil Anwar.
"dimanakah mencinta itu berhak?"
Pergi dan musnah ketika ia usai atau menetap dan terlelap panjang atau abai dengan say good bye.
Mereka yang bertemu lagi hari itu, menanyakan tentang kenapa tak memiliki istri ataupun calon istri, aku hanya membalas mereka dengan senyuman sembari mengatakan: "Saya akan memilikinya ketika saya tidak siap jatuh cinta dan kami harus bersiap-siap untuk saling mencinta"
"Ah, kamu susah. Di tanya untuk dinasehati malah balik menggurui. Gimana mau ketemu jodoh" Ucap salah satu ibu-ibu yang mungkin dia sudah benar mengarahkan putra dan putrinya.
"Jodoh bukan seperti drama cina, bu. Jikalau berjodoh mungkin kami akan terbang ke Cina jikalau tidak, mungkin saja aku putra pewaris utama CEO Group Halim" ucap ku dengan nada Spongebob.
Wah, ternyata romansa itu kontroversi.












