#Reposting @kartika.ayoe We make a living by what we get, but we make a life by what we give. ~ Winston Churchill #bloodforothers #bloodforlife #blooddonation #savelife #beahero #bealifesaver #dondarbdg #bandung #pmibandung
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from India
seen from United States
seen from India

seen from Taiwan

seen from Saudi Arabia

seen from Russia

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Italy
seen from Ukraine

seen from United States
seen from Russia
seen from Taiwan
seen from United States

seen from United States

seen from Chile
seen from Netherlands
seen from United States
#Reposting @kartika.ayoe We make a living by what we get, but we make a life by what we give. ~ Winston Churchill #bloodforothers #bloodforlife #blooddonation #savelife #beahero #bealifesaver #dondarbdg #bandung #pmibandung
Donor++ (lebay &baper)
PMI Bandung, 4 Mei 2015
Bimbang. Walaupun ini bukan kali pertama aku donor darah, tapi ada perasaan sedih yang menggantung. Perasaan yang sempat bikin aku gentar untuk terus ngegas motor sampai ujung jalan Aceh, menuju PMI.
Ini pertama kalinya buat aku donor darah sambil ngendarain motor sendiri donor darah tanpa didampingin siapapun donor darah sendirian
Kekhawatiran di poin pertama, oke, beralasan. Yang sudah-sudah, meskipun aku selalu berhasil menuhin satu labu tanpa pingsan, tapi terakhir kali donor 11 bulan yang lalu, aku sempet sakit kepala berat setelah selesai ngisi labu. Dan aku takut, hal yang sama terulang lagi di donor kali ini. Padahal aku masih harus jemput Mama ke kantornya di daerah Soekarno Hatta sepulang dari sini.
Kekhawatiran di poin kedua. Nah ini. Ngerasa copo banget sih emang pas aku mikirin ini. Tapi setelah inget pesan seorang teman yang berujar; jomblo harus membiasakan hidup mandiri, go ahead aja.. HAHAH. Ngga deng. Ini masih nyambung ke yang poin pertama, takutnya kenapa-napa abis donor, terus ga kuat bawa motor. Bisa bikin riweuh mama ntar.
Kekhawatiran di poin ketiga. It’s absolutely sentimental reason. Tiga kali donor sebelumnya, aku selalu bareng sobat-sobat dekat. Cek tensi dan Hb bareng, nunggu bareng, donor bareng, dan biasanya kalo yang satu udah selesai, kita saling nungguin temen yang belum selesai. Nemenin dan nyemangatin kalo salah satu mendadak kondisinya drop pas lagi dalam proses tranfer darah ke labu. Sesuatu hal yang biasanya dilakukan bersama-sama, hingga muncul kesenangan dari kebersamaan tersebut, ketika dilakukan sendirian, tentu akan berbeda rasanya. Mereka-mereka yang biasa donor bareng aku itu lagi apda sibuk kerja, persiapan kuliah, dan lain sebagainya. Well, yaaaa mungkin aku lagi kangen aja kali ya sama mereka semua, sampe-sampe jadi baper gitu, hehe.
Setelah sampai di PMI, semua kekhawatiran itu aku bungkus pake kekuatan dan keinginan buat donor, dan keyakinan untuk melakukannya agar bisa bermanfaat buat orang lain (CEILAH!). Aku parkirin motor. Kemudian jalan sampai ke pintu depan PMI. Tarik nafas panjang, merem, baca bismillah, ngisi data, cek tensi, cek hb, dan dinyatakan lolos untuk donor. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, sampai dengan aku berhasil sampai ke kantor Mama dengan selamat.
Dan, aku jadi paham. Kenapa semua yang ‘++’ itu, bisa dibilang kurang baik. :)