PopCon dan Segala Kecanggungan Addiction
Minggu 9 Agustus kemarin, bareng Sese dan Intan, saya pergi ke PopCon 2015. Awalnya agak malas gara-gara mau UAS dan harus ngurusin skripsi. Tapi kata Intan, daripada stress dan gesrek, mending main-main sekaligus penyegaran. Oke deh. Lagian saya juga belum pernah. Dari dulu kalau ada event beginian rasa malas selalu menang dibandingkan motivasi menggerakan pantat. Karena kali ini yang ajak antusias, ya sudah.
Dan ternyata….
Saya jemput Intan jam 11 siang dan itu cewek keluar dari kosan….jam 12-an. Satu jam saya nunggu macam anak-bimbingan-skripsi-menunggu-dosen-yang-enggak-datang-datang. Berkali-kali ditanya, jawabannya selalu “sebentar”. Huh. Mungkin dimensi waktu di teras dan di kamarnya beda. Ketika saya mengomel-ngomel, Intan cengengesan bilang… namanya juga cewek. Cowok harus maklum.
Laaaah. Apa hubungannya ngaret sama gender? Saya yakin dia baru bangun waktu saya samperin.
Dan ternyata lagi… Sese enggak jauh beda dengan Intan. Itu anak entah makan di mana. Alasannya agak variatif. Dia menyalahkan tempat makan dengan bilang pesenannya enggak dateng-dateng. Ya sudah. Saya dan Intan menunggu di Pondok Ranji, memelas lihat kereta lewat. Begitu Sese datang, kita AKHIRNYA berangkat ke PopCon.
PopCon itu apa sih? Semacam konvensi gitulah. Tujuannya untuk mengumpulkan artis, creator dan orang-orang di industri kreatif. Fokusnya di komik, game, mainan, film dan animasi. Menjadi anomali, sepertinya Penerbit Haru satu-satunya penerbit fiksi novel. Lewat RT Orizuka, saya tahu beberapa penulis nongkrong di sana. Ini salah satu inceran saya. Ada novel baru Orizuka. Kebetulan saya belum beli. Sekaligus bisa foto bareng dan minta tanda tangan.
Di JCC, setelah antri, bayar tiket, dan ambil booklet, kami masuk ke lorong agak remang-remang ala-ala luar angkasa. Tadinya mau foto di situ tapi hasilnya buram. Muka-mukanya enggak bisa dikenali. Di dalam JCC, ada banyak staff dan cosplayer yang lalu-lalang. Saya sudah enggak terlalu tahu tentang anime. Jadi waktu Intan dan Sese foto bareng cosplayer, saya menikmati saja.
Putar-putar, sampai juga ke booth Sweta Kartika. Sayangnya incaran saya habis. Saya pengen beli komik Grey dan Jingga tapi sudah sold out. Yang dijual tinggal pin dan keychain. Ada juga beberapa komik tapi… bukan tipe yang saya suka. Hehehe. Mas Sweta ramah banget. Beberapa mahasiswa DKV mengobrol lama. Intan, fans garis keras Sweta, gerak-gerak gak sabar. Sese cuma ketawa aja lihat Intan sampai bersemu merah dan maju mundur minta foto. Yang lucu adalah setelah saya berfoto, saya bersalaman dengan Sweta. Intan langsung iri dan…. minta salaman juga. Maunya sih mengobrol tapi apa daya, udah banyak yang ngantri ketemu Sweta.
Enggak jauh dari sana, ada booth penerbit Haru. Lumayan rame. Target saya tercapai. Ori ada di situ. Langsung saya beli novel dan minta tanda tangan. Sayang enggak bawa buku satu dan dua. Mungkin lain waktu saya bisa ketemu lagi dengan Orizuka.
Selanjutnya Intan dan Sese narik saya ke panggung utama. Katanya ada idol grup Jepang yang mampir. Dengan nafsu membara, Intan ambil barisan depan. Kameranya sudah standby siap ambil foto. Sese cekikikan. Saya… saya mulai enggak nyaman karena cuma cowok sendiri diantara gerombolan cewek-cewek. Kami dapat barisan depan tengah, langsung menghadap panggung, persis di belakang cameramen.
MC masuk memperkenalkan member. Dengan bahasa Indonesia yang patah-patah, mereka menyapa penonton. Suasana riuh. Musik dimulai dan di sinilah kecanggungan dimulai.
To be honest, sebagai penikmat saya suka beberapa idol grup. Asal lagunya enak dan videonya keren, pasti saya ikuti. Baik cowok maupun cewek. Tapi saya belum pernah datang ke acara live apa pun. Entah itu konser atau showcase. Alasannya satu. Harga tiketnya ampun-ampunan. Bisa seharga uang makan dua minggu. Kan gila. Satu minggu uang makan dibarter dua jam. Apalagi kalau punya daftar barang lain yang pengen dibeli. Tiap tergoda, pasti selalu kebayang barang-barang substitusi lain. Ujung-ujungnya batal beli tiket (kenyataanya barang substitusinya juga enggak kebeli sih).
Agak menyimpang sedikit, sedari dulu saya punya teman-teman yang unik. Saya sendiri sadar kalau saya sering absurd. Sering bertingkah yang bikin orang geleng-geleng kepala. Dan ternyata orang absurd menarik orang absurd lainnya. Semacam hukum Newton di ranah psikologi. Contohnya adalah Sese. Orang normal cicil rumah kalau bukan buat investasi ya buat ditinggali. Sese cicil rumah karena di kosnya enggak boleh pelihara kucing. Contoh lainnya adalah Intan. Teman saya yang satu lagi, adalah maniak idol yang enggak sayang beli tiket pesawat buat nonton konser. Intan pernah bilang, “saya kerja keras begini buat cari nafkah. Kalau bukan saya, siapa yang bakal menafkahi dan kasih makan dedek-dedek lucu itu?”
Yeah, ini sampel dari sekian banyak teman saya yang absurd.
Intan selalu bilang, kalau nonton secara langsung sensasinya beda dengan menonton di Youtube. Dia bilang, sensasinya enggak bisa diterjemahkan pakai kata-kata. Harus langsung. Baiklah, kalau begitu ini kesempatan pertama saya menonton secara live idol Jepang. Kayak apa sih sensasinya.
Panggung utama PopCon pendek. Jaraknya dengan kursi barisan pertama juga enggak jauh. Enggak ada halangan apa pun di depan kami. Jadi bisa sepuasnya melihat member dari jarak dekat. Saya mulai merasakan firasat yang tidak enak waktu perkenalan member. Di sebelah saya, Sese dan Intan cari perhatian. Mereka malu-malu lempar-lempar sinyal hati yang dibentuk dari jari tangan.
Member Addiction ambil posisi. Musik dimulai. Teriakan histeris melengking di sekitar saya. Ada yang ikutan nyanyi. Addiction dengan enerjik meloncat-loncat. Saya sendiri… pandangan saya pelan-pelan turun. Pipi saya kerasa panas. Tiba-tiba pola karpet di depan saya tampak sama menariknya dengan Monalisa.
Super akward.
Well, selama Addiction manggung, saya enggak tahu harus mandang kemana. Sekeliling saya semangat gila-gilaan. Apalagi waktu gerakan yang… umm… apa ya yang pas? sugestif? Tahulah maksudnya apaan.
Dilema. Mau berdiri pergi kok ya enggak sopan. Udah duduk paling depan tapi pas lagi perform, saya malah pergi begitu saja. Saya paksain untuk nonton tapi… tiap dua atau tiga detik kemudian saya nunduk lagi.
Cooooy. Ini kapan selesainya? Dia yang goyang-goyang, saya yang merasa malu.
Iya sih sensasinya beda. Tapi ya enggak begini juga rasanya. Saya maksain nonton monitor kecil di kameramen. Kayaknya saya lebih intens lihat kameramen jongkok daripada nonton member joged-joged.
Lagu selesai. Agak napas sebentar.
Keadaan diperparah tingkah Sesa dan Intan. Enggak ngerti. Kayaknya mereka punya misi supaya tiap member melihat ke arah kita duduk. Yang mana ternyata berhasil. Satu member merespon yang diikuti oleh member lain. Semacam fanservice gitulah.
Ala makjang.
Duo cewek ini cekikikan. Makin berani gara-gara dibales. Makin heboh. Udah enggak malu-malu lagi lempar hati. Member yang di atas sambil senyum ngedipin mata yang sukses bikin volume cekikikan lebih tinggi dari kutilanak. Dalam hati, masih ada tiga lagu lagi. Yang berarti, ada tiga lagu dimana saya merhatiin cameramen.
Setelah showcase, saya pikir sudah selesai. TERNYATA ENGGAK SOSODARA.
Ada booth dimana member berdiri, semacam direct selling dengan bantuan penerjemah. Bisa foto bareng juga dengan membeli tiket. Oh, jangan salah. Satu tiket buat satu member. Foto grup beda lagi harganya. Jadi kalau mau semuanya, siap-siap aja kantong jadi bolong. Sese dan Intan, berdiri di pojokan booth, mirip stalker mesum yang menunggu mangsa. Awalnya member Addiction enggak sadar. Tapi karena kami enggak pergi-pergi, akhirnya satu per satu sadar. Mereka bales curi-curi pandang. Enggak sekali, tapi beberapa kali. Dalem hati, astaga. Ini jago banget mancing duitnya. Macam minta mendekat dan beli merchandise mereka.
DAN BERHASIL.
Duo cewek ini akhirnya membuka dompet untuk foto bareng pake Polaroid. Sese lagi mujur. Dia sempet handshake yang sukses bikin Intan ngiri. Setelah selesai foto, mereka berdua enggak mau pindah dari booth Addiction. Dua-duanya tetap mantengin member foto-foto dengan cewek-cewek lain.
“Ntan, ini kita nungguin sampai selesai?”
“Iya lah.” Jawab Intan dengan ekspresi masa-gitu-aja-nanya.
Waktu merasa hasil polaroidnya enggak bagus, duo cewek itu mau pakai bedak sama sisiran. Jadi kita cari toilet yang ternyata ada di luar area konvensi. Enggak mau kelamaan, mereka cari pojokan terus mulai rapihin penampilan.
Yang kocak adalah berbarengan dengan kami mendekati booth, member Addiction keluar. Acaranya selesai sosodara. Jadi kehebohan duo orang itu sia-sia.
Kocak. Kocak banget.
Secara keseluruhan, acaranya seru. Agak-agak miris juga sebetulnya. Di acara ini, kelihatan sekali bedanya yang beken dan yang enggak. Artis yang sudah punya nama, karyanya cepat sekali habis. Bahkan sebelum acaranya selesai. Di beberapa booth, ada yang pasrah langsung beres-beres begitu jam 6 sore. Dagangannya enggak laku. Yah, namanya juga hidup.
Aniwei, ini pengalaman pertama yang mengesankan. Saya menikmati hal-hal baru, bersenang-senang dan terhibur. Moga-moga nanti PopCon ada lagi di 2016. Tentunya dengan harapan lebih keren lagi dari tahun ini.
Ciao,
Purba
��T5���













