Apakah Permintaanku untuk Berteman yang Baik Denganmu Itu Salah?
Sedang diputar: Perahu Kertas - Maudy Ayunda
Ada apa dengan dengan pernyataan ‘hanya sekadar teman’ dalam suatu hubungan dua manusia? Bukankah pertemanan adalah suatu hal yang begitu berharga dalam hidup manusia? Bukankah menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama seorang teman, yang sudah jelas saling mengasihi sehingga tidak butuh status kekasih, yang sudah nyata saling mencintai sehingga tidak perlu kata cinta, yang dapat bertahan abadi sehingga tidak penting adanya tanggal jadian dan putus?
Namun barangkali hanya aku yang berpikir demikian. Teman bagiku bukan hanya sekadar hubungan akibat berada di lingkungan yang sama. Satu kelas, satu kepanitiaan, satu kenalan yang sama, bukan berarti saling berteman. Butuh keterikatan yang lebih personal antara dua atau lebih orang, baru hubungan tersebut bisa dibilang pertemanan.
Maka, bila kusebut kamu adalah temanku, percayalah, kamu sangat berarti.
Bahkan bila akhirnya tumbuh rasa yang berbeda kepada salah satu temanmu dari teman-temanmu yang lainnya, maka kamu patut bersyukur menjatuhkan rasa itu kepada dia. Karena itu bukan hanya sekadar ketertarikan sesaat. Rasa itu tumbuh seiring waktu bersama-sama kalian. Kamu mengenalnya, segala baik dan buruk, tanpa polesan layaknya ciri khas pendekatan asmara dua manusia yang sudah kelewat usang.
Kepada kamu yang dijatuhi hatinya oleh seorang teman, bersyukurlah, Tuhan menganugerahkan rasa itu kepada temanmu, teman baikmu sendiri, untukmu. Temanmu tidak akan melakukan ribuan muslihat demi menjadikanmu miliknya. Seorang teman tidak akan pernah menjadikanmu properti. Dia tulus ingin membahagiakanmu dengan segala upayanya.
Kemudian, adakah kesempatan yang lebih baik ketimbang berkomitmen untuk hidup bersama, selamanya, bersama seorang yang telah teruji rasa sayangnya tanpa bantuan aneka kado dan puisi? Seorang teman yang menerimamu apa adanya, dan yang kamu terima apa adanya pula. Seorang yang tidak perlu kamu terus berpura-pura di depannya hanya agar kamu disukai. Pertemanan adalah sejujur-jujurnya suatu hubungan. Alangkah beruntungnya bisa bersama seumur hidup dengannya, teman kita sendiri.
Maka salahkah keinginanku untuk menjadi teman bagimu, teman yang sangat baik? Sadarkah kamu, sejak awal begitulah dirimu, seorang teman yang penuh makna, hingga kapan pun kamu membaca senandika ini.
Bila Tuhan menggariskan kita bersama, dan demikianlah pintaku, percayalah aku adalah orang paling bahagia di dunia. Aku tidak akan pernah ragu untuk hidup bersama teman baikku sendiri. Kita akan saling menjadi partner of life satu sama lain. Berdua menantang dunia seperti yang sudah biasa kita lakukan. Tanpa terpisahkan.
Namun bila tidak pun, maknamu tidak akan pernah hilang. Seorang teman ada untuk selamanya, dengan siapa pun kamu atau aku bersanding kelak. Tidak ada yang bisa menggeser posisi seorang teman yang baik. Kamu akan selalu punya tempat di hatiku.