Sebagai anak yang punya ibu gemar memasak membuat saya sedikit kurang fasih memasak. Dari jaman kecil hingga gadis tak sekalipun saya memasak dengan serius. Yah karena sesimpel apa yang Ingin saya makan ada ibu yang memasaknya.
Sangat tertolong untuk saya yang sebenarnya "gemar" makan mulai dari SMP - kuliah jauh dari rumah. Sehingga berat badan tidak geser ke kanan terus menerus.
Setelah lulus kuliah saya yang kembali pulang kerumah orang tua. Sangat tertolong kembali dengan kesibukan. Makan saat itu bukan prioritas, mungkin karena ukuran lambung tidak sebesar sekarang 😂.
Setelah menikah, mau tidak mau saya harus memasak. Bukan karena suami menuntut untuk saya bisa memasak. Tapi lebih cara mempraktekkan di dunia nyata semua pelajaran dalam semua kajian2 yang telah diikuti bahwa sejatinya seorang istri harus mampu dan mau melayani suami. Ternyata memasak tidak sesulit yang diperkirakan, hanya mau atau tidak itu saja.
Seorang perempuan terdidik dengan cara yang indah menurut saya, dari kecil bapak ibu selalu membelikan mainan masak2an dari tanah liat atau setiap pulang dari luar kota hadiahnya boneka. Ternyata maksudnya adalah supaya aku dan sita bisa belajar menyayangi dengan lembut anak-anak kami kelak.
Perjalanan pernikahan yang manis, penuh huru hara, kadang diatas, kadang jatuh terperosok kebawah. Membuat saya yakin kalau berumah tangga memang tidak seperti di dunia dongeng atau drama korea yang so sweet saja isinya.
Tapi ada saja cara bagi saya untuk mewaraskan diri, salah satunya dengan memasak dan makan.
Memasak merupakan hal favorit kala itu saat belum punya anak. Setelah punya anak waktu terasa kejar-kejaran dan masih menyempatkan diri untuk memasak, khusus untuk Rafif.
Walaupun memasak kali ini bukan untuk orang kedua setelah bapak yang tak pernah menyela masakan saya yang kadang rasanya amburadul.
Saya mau mulai kembali. Karena ada anak yang sangat mirip ayahnya. Yang selalu memberi jempolnya saat mencicipi masakan saya ...
Saya pernah patah hati tak mau memasak, karena manusia yang memakan masakan saya sudah tidak ada di dunia.
Terimakasih Rafif sudah memasang kembali serpihan hati mama, sehingga mama mau mulai masak lagi... i love u Rafif dan Kanaya