Selalu Ada Jalan Kembali Menuju CintaNya
Jatuh cinta? Putus cinta?
Itulah kenapa makanya di dalam Al-Quran diulang berkali-kali janganlah bermaksiat dan mendekati zina. See? Kalau sudah diputusin dan masih sayang? Salah siapa? Bukan salah siapa-siapa. Karena semua itu karunia dari Allah, ia bisa hadir kapan saja dimana saja dan di hati siapa saja.
Tinggal bagaimana kita menempatkan rasa cinta yang hadir sesuai dengan fitrahnya dan pada tempatnya. Apalagi kalau belum jadi pasangan yang halal bagi kita.
Sudah terlanjur merajut kisah cinta bertahun-tahun, pada akhirnya salah satunya harus ditinggalkan entah karena sudah bosan, jenuh, benci, atau perasaan tidak suka lainnya pada pasangannya.
Tenang, Allah Maha Tahu segalanya. Ia tahu kapan kita akan diputusin pasangan kita. Sedih dan nangis itu wajar, manusiawi. Itulah sebabnya jangan menggantungkan harapan pada manusia, karena manusia juga sama-sama manusia seperti kita yang tidak bisa memberi manfaat ataupun mudharat apapun terhadap kita. Yang punya segalanya adalah Allah. Dia Yang Maha Kuasa Memberi dan Membatasi rejekiNya bagi yang Ia kehendaki. So, La Tahzan. Ambil hikmah dari semua peristiwa yang terjadi. Entah itu berupa kebahagiaan dan kesedihan. Kita tidak tahu rasa kebahagiaan jika tidak pernah tahu rasanya kesedihan, dan sebaliknya.
Ingat saja dan ingat terus. Allah Maha Baik. Allah Maha Tahu. Allah Maha Pengasih. Allah Maha Penyayang. Allah hanya hendak menguji hamba-hambaNya yang mengaku beriman. Dalam sebuah ayat dijelaskan "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS. Al-Ankabut: 1)
Sabar saja, tenang saja, semua sudah tercatat di Lauh Mahfudz segala sesuatu yang akan kita alami, bahkan daun yang berguguran pun telah tercatat di Lauh Mahfudz. Tetaplah sabar wahai hati, tetap tenanglah, Allah Maha Mendengar rintihan hamba-hambaNya, tetaplah mensyukuri segala karunia yang masih Ia titipkan pada kita. Toh semuanya hanyalah titipan, sedang kita tidak memiliki apapun, bahkan diri ini adalah milikNya. Lantas apa yang membuat kita harus bersedih? Bersedihlah sewajarnya, janganlah berlarut-larut. Karena apa yang telah berlalu tidak mungkin bisa kembali. Yang kita punya hari ini. Esok adalah milikNya.
Semakin mendekatlah kepadaNya, cari cintaNya, rebut cintaNya, jadikanlah cintaNya nomor satu yang menjadi tujuan dan impian kita, mohonlah petunjuk, kekuatan, kesabaran, kelapangan hati, dan keikhlasan atas semua kehendak-Nya. Bukankah menerima qadha dan qadarNya merupakan keimanan bagi orang mukmin?!
"Hasbunallah wa ni'mal wakiil ni'mal maula wa ni'mannashiir"
Cukuplah Allah bagiku, sebaik-baik pelindung dan penolong.
Ya Allah jaga hatiku dari cinta yang melebihi cintaku padaMu. Jika cinta itu harus hadir dalam hati ini maka biarlah itu menambah rasa cintaku padaMu. Engkau Yang Kuasa menghadirkan rasa cinta itu dan Engkau jualah Yang Kuasa mencabut rasa cinta itu. Namun, janganlah Engkau cabut rasa cintaKu padaMu.
Tetap semangat, tetap optimis, tetap tersenyum, tetap menebar kebahagiaan, jadilah orang yang berguna maka kesuksesan dan kebersahajaan hidup akan kau dapatkan. Tapi ingat semuanya hanya ditujukan untuk mendapatkan ridho-Nya.
Biarlah suatu saat yang telah ditentukan, Allah akan mempertemukanmu dengan seseorang yang jauh lebih baik setelah apa yang menempamu menjadi pribadi yang sama jauh lebih baiknya, mencintai seseorang yang akan menjadi imam dalam hidup kita (dunia dan akhirat) dengan ridhoNya. Semua terserah padaMu, Rabb. Ijinkan kami tetap dalam keistiqamahan dan menjaga iman ini. Meskipun tangis air mata ini belum tulus mengiba padaMu dan menangisi kemaksiatan padaMu. Maafkan hambaMu yang dhoif lagi fakir ini. Hanya kepadaMu lah kami berharap, hanya kepadamulah kami sandarkan segala harapan dan do'a, dan hanya kepadaMu lah kami akan dikembalikan.