Sang Pembeda
2-Namanya telah masyhur sejak sebelum cahaya islam menyinari daratan Arab. Ia telah menjadi duta muda yang senantiasa diutus kaumnya untuk menyelesaikan berbagai masalah yang berhubungan dengan kaum lain. Dan sungguh, sifat berani dan tegasnya pun jadi hal yang begitu ditakuti khalayak, termasuk oleh para setan seba’da keislamannya.
Berkatalah Rasulullah tentang hal ini: “Wahai ‘Umar bin Al-Khaththab, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah ada satu pun setan yang bertemu denganmu di suatu jalan melainkan dia akan mencari jalan yang lain yang tidak dilalui olehmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Ya, ia adalah Umar bin Khaththab bin Nufail, seorang sahabat yang berasal dari Bani ‘Adi, lebih muda tiga belas tahun dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Masuk islamnya Umar pada tahun ke enam setelah turunnya risalah kenabian adalah sebuah kabar gembira yang besar bagi kaum muslimin yang kala itu masih sangat sedikit jumlahnya. Yang awalnya belum ada seorang pun yang berani sholat secara terang-terangan di dekat ka’bah, bersama Umar, kaum muslimin pun mulai menampakkan batang hidungnya.
Begitu banyak keutamaan yang dimiliki oleh khalifah kedua pengganti Abu Bakar ini, demikian banyak riwayat yang meceritakan keutamaannya. Tentang keberaniannya, ketegasan dalam pemerintahannya agar senantiasa berdiri di atas syari’at islam, keadilannya, kesederhanaannya, dan berbagai keutamaan lain.
Perihal kesederhanaannya, dikisahkan bahwa saat kaum muslimin telah berhasil menaklukkan Jerussalem-dengan tanpa adanya pertumpahan darah-, seorang uskup pemegang kunci kota pun mensyaratkan kepada kaum muslimin bahwasanya kunci yang ia pegang tak akan diserahkan kecuali bila penerimanya adalah Amirul Mu’minin Umar-yang saat itu berada di Madinah-.
Dengan menunggangi seekor keledai dan hanya ditemani seorang pembantunya, Umar pun bertukar giliran dalam menunggangi sang hewan selama perjalanan.
Saat telah mendekati gerang Jerussalem, tibalah giliran sang pembantu untuk naik ke punggung keledai. Ia menolak tersebab ‘bagaimana mungkin sang khalifah hadir di negeri orang dengan berjalan kaki,’. Umar pun memaksa, ia tak ingin mendzalimi hak orang lain.
Dengan berjalan kaki sembari memegangi ikatan sang keledai, Umar pun menerima kunci dari tangan sang uskup.
Adakah dari kita yang pernah membayangkan seorang presiden dari sebuah negara adidaya yang sungguh begitu besar dan kuat, pergi ke egara lain tanpa adanya pengawal dan berpakaian lusuh tapi tak kehilangan kewibawaannya?
Ya, umat begitu rindu dengan sosok pemimpin semisal Umar bin Khaththab.















