MEANINGFUL LIFE : Menjadi Manusia yang Allah Mau.
Sebuah catatan podcast nasihat ustadz Harry Santosa; merangkum ini sebagai bahan refleksi diri sendiri. :')
Hamka menulis, kaum muslimin sejak runtuhnya Turki Utsmani, kemudian menjadi bangsa terjajah yang kehilangan identitas (Loss of Identity). Hamka menulis ini tahun 50, maka kehilangan identitas ini bukanlah sesuatu yang baru, hingga kini masyarakat muslim masih juga bingung mau dibawa kemana arah hidupnya.
Banyak guru, dokter, hakim yang bukunya satu gudang tetapi ketika tiba di masyarakat menjadi orang yang mati, karena hidupnya hanya utk mementingkan dirinya, gelar diplomanya hanya utk mencari harta, hatinya sudah seperti batu. Tidak punya cita-cita lain, selain untuk kesenangan dirinya, pribadinya tidak kuat, ia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akalnya, kepandaiannya yang banyak itu kerap kali justru menimbulkan takut pada dirinya, bukan menimbulkan keberanian dirinya memasuki lapangan hidup. Pendidikan hanya menjadikan dirinya menjadi human thinking dan human doing, tetapi tidak menjadi human being.
"Kalau hidup sekedar hidup, babi dihutan pun hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja." (Buya Hamka)
Melejitkan omset jangan disamakan dengan mencari rezeki. Hidup bukan tentang itu, melainkan bagaimana kita bisa mencari makna hidup diri kita, mencari makna panggilan jiwa kita. Menemukan maksud-Nya menghadirkan diri kita berada di muka bumi. Karena kita dihadirkan ke muka bumi ada Grand Design dari Allah, karena Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu dengan sia-sia, apalagi manusia ya kan? makhluk hidup yang unik, yang paling tinggi derajatnya dari makhluk hidup lainnya.
Dalam pandangan Islam, hidup itu seperti Journey, maka hiduplah kalian seperti seorang musafir, yg berangkat dari titik tumpu kepada titik tuju, maka ketika ada musibah kita selalu diajarkan utk mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ; ucapan itu sebenarnya bukan hanya ucapan musibah, tapi itu menyadarkan kita ketika ada kematian, ada musibah itulah saatnya kembali ke titik awal, dari Allah lah kami berasal dan kepada Allah pula lah kami kembali.
Orang-Orang Barat itu menyebutnya Becoming (menjadi). Sampai istri Presiden Obama menjadikannya sebuah judul buku. Becoming itu; sesuatu yang tidak jelas berangkatnya dan tidak jelas pula ujungnya kemana. Karena bagi mereka hidup itu progresif (berkembang). It's okay hidup itu memang berkembang, tetapi dalam Islam itu, perkembangan yg ada awalnya dan ada akhirnya.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda: "Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)."
Jadi kita ini sedang dalam perjalanan menuju Allah, perjalanan yang penuh misteri. Maka ada hadist yang mengatakan "Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu". (HR. Al-Bukhari, no. 6416; At-Tirmidzi, no. 2333; Ibnu Majah no. 4114)
Oleh karena itu, karena kehidupan kita dari titik tumpu menuju titik tuju maka kita diminta tidak banyak berangan-angan. Kita diberi timeline untuk menemukan peta jalan hidup agar bermakna di dunia. Allah bekalkan dengan fitrah.
The mission of life; Ihdinash shiraathaal mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus).
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-Araf: 179)
Kenapa disebutkannya hati untuk memahami bukannya akal? Karena akal itu hanya untuk menyerap ilmu dan membuat gagasan, hati (qolbu) lah yang membuat keputusannya. Dan ukuran hina itu bukan terletak pada kekayaan dan kenikmatan.
Jiwa yang tenang, ialah jiwa yang sudah menjadikan Allah sebagai tujuan.