Today is May 4 and I owe 4 prompt writing.
Get back to you later after i find some prompts to work with 👠
seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom

seen from Switzerland

seen from Switzerland

seen from Malaysia
seen from Ecuador
seen from United Arab Emirates

seen from Switzerland
seen from Austria
seen from China
seen from Australia

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Austria
seen from United States
seen from United States

seen from United Arab Emirates

seen from Türkiye

seen from Malaysia
Today is May 4 and I owe 4 prompt writing.
Get back to you later after i find some prompts to work with 👠
Kita tidak bisa memilih masalah,
Tapi kita bisa memilih dalam penyelesaian masalah,
Memilih untuk menjalankan solusi,
Atau bertahan.
.
Sebab,
Tidak semua masalah harus dengan solusinya.
"Seseorang akan tenang hidup dimanapun, asal dia menjaga hubungannya dengan Allaah Ta'ala." —Ustadz Khalid Basalamah hafidzahullah
"Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil)." (QS. Hud : 56)
Beberapa keutamaan berinfak, dalam surah Al-Baqarah
Apapun kebaikan yang engkau berikan kepada yang lainnya sebagai bentuk infakmu terhadap mereka, sungguh akan kembali kepadamu menjadi sesuatu yang jauh lebih baik.
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allaah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allaah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allaah Mahaluas, Maha Mengetahui." —(QS. Al-Baqarah ayat 261 )
Beberapa ayat dalam surah Al-Baqarah tentang keutamaan berinfak :
Tidak menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan penerima)
"Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. "—(QS. Al-Baqarah : 262)
>>>
"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun."— (QS. Al-Baqarah : 263)
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." —(QS. Al-Baqarah : 264)
Balasan jika berinfak karena mencari ridha Allaah
"Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." —(QS. Al-Baqarah : 265)
Keutamaan menginfakkan sesuatu yang baik, bukan yang buruk
"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji." —(QS. Al-Baqarah : 267)
Menampakkan infaq itu baik, jika tujuannya untuk memberikan motivasi kepada yang lain, jika untuk riya' maka sebaiknya disembunyikan saja
"Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."—(QS. Al-Baqarah : 271)
Apapun yang kita infakkan, akan kembali ke diri kita sendiri
"... Apapun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan)." —(QS. Al-Baqarah : 272)
Allah memberi pahala bagi orang-orang yang senantiasa berinfak
"Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati." —(QS. Al-Baqarah : 274)
Dalam surah Al Baqarah dari ayat 261-274 diterangkan tentang keutamaan-keutamaan berinfak, yang tak lain semuanya saling berkaitan. Meskipun demikian, setelah surah Al-Baqarah, keutamaan-keutamaan lain tentang berinfak masih akan tetap kita temukan, misalnya dalam surah Ali Imran ayat 92, menjelaskan bahwa ada keutamaan menginfakkan sesuatu yang kita cintai, dan masih banyak ayat-ayat lainnya. Insyaa Alllaah juga saling berkaitan satu dengan yang lainnya, dan masing-masing memiliki keutamaan yang baik.
Masyaa Allaah, semoga Allaah beri kemudahan dan kekuatan untuk kita terus menginfakkan sebagian dari nikmat yang Allaah titipkan pada kita. Aamiin yaa Rabb..
Kepada manusia kita menggantungkan harapan, dari manusia-lah juga kita bisa mendapat kekecewaan.
Kepada Allaah kita menggantungkan harapan, dari-Nya jugalah kita bisa mendapat pertolongan dan kemudahan.
Manusia itu tidaklah sempurna, jadi wajar saja kalau kita bisa kecewa dengan harapan yang kita gantungkan pada manusia. Sedang Allaah yang Maha Sempurna, pasti tidak akan kita temukan kekecewaan ketika kita benar-benar menempatkan harapan dan doa kepadaNya. Wallahu a'lam.
"Dia (Zakaria) berkata, Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku." (Qur'an Surah Maryam ayat 4)
Fafirru ilaallaah
Semua agar engkau kembali kepada Allaah
Jika saat ini engkau merasa stres, depresi, cemas, takut, tidak aman, tidak nyaman, sepi, hampa, diabaikan, dilupakan, disalahkan, tersingkirkan, tidak disayangi, tidak dipedulikan, tidak berdaya, tidak didengarkan, tidak dimengerti, dll.
Maka, ketahuilah, apa yang engkau rasakan ini adaalh sinyal dari tubuh, jiwa dan hatimu, agar dirimu kembali (inabah) kepada Allaah.
—Ustadz Abu Salma Muhammad hafidzhahullah
Berkaitan nasehat di atas, juga ada tulisan serupa yang amat indah :
Your life is nothing more than a love story. Between you and Allah. Nothing more. Every person, every experience, every gift, every loss, every pain is sent to your path for one reason and one reason only: to bring you back to Him. —@thehijabiquote
Bahwasanya benarlah kisah hidup kita itu tak lain adalah tentang kita yang kembali kepada Allaah, segala keadaan yang terjadi semestinya mengantar kita untuk kembali kepada Allaah (dalam artian kembali mengingat Allaah dalam keadaan apapun, bukan hanya saat sedang merana pun juga saat sedang berbahagia).
Ya, seharusnya keadaan apapun yang kita rasakan, tetap kepada Allaah kita kembali. Bahagia, maka bersyukur dan berterima kasih kepadaNya (kembali mengingatNya). Sedih, maka sabar dan tetaplah beribadah kepada-Nya (tetap kembali mengingatNya). Tak ada yang perlu disesali, baik itu kenikmatan yang membuat kita bahagia ataupun ujian yang membuat kita sedih, semuanya cuma cara atau jalan yang Allaah karuniakan karena Dia ingin kita tetap bersamaNya, atau ingin kembali padaNya, banyak-banyak mengingat-Nya.
Karena, bagaimanapun juga, Allaah-lah tempat kita kembali, bagaimanapun itu. Fa firru ilallaah..
Jangan pernah engkau meremehkan hal-hal (kebaikan-kebaikan) kecil, bisa jadi lewat hal-hal kecil itulah hatimu bisa menjadi lebih lembut dan semakin dekat denganNya. Tentu, dengan izin-Nya.
—note to self
Siapa kita sebenarnya?
Kita yang sebenarnya bukanlah kita yang ada di hadapan mata-mata manusia. Namun, kita yang sebenarnya adalah ketika tidak ada mata apapun yang melihat kita kecuali mata Allaah (perumpamaan bahwasanya hanya Allaah yang Melihat kita dimanapun kita berada), kita yang sebenarnya adalah ketika tidak ada seorangpun yang tahu sedang apa kita dari manusia-manusia yang banyak ini.
Adapun ketika kita bersama banyak manusia, kita tidak akan berbuat dosa. Kenapa ? Ada orang yang melihat kita. Namun, di saat kita sendiri, siapa kita?
Kalau kita ingin tahu siapa kita, lihat siapa kita di saat tidak ada manusia menatap kita (tidak ada keluarga, tidak ada teman, tidak ada sahabat, tidak ada tetangga, hanya kita sendiri di dalam kamar, dan kamar kita kunci, sedang apa kita di kamar itu, itulah kita yang sebenarnya).
Maka sejatinya tak ada yang benar-benar mengetahui diri kita, kecuali diri kita sendiri dan Allaah Ta'ala.
Semoga Allaah Ta'ala limpahkan perasaan muraqabatullah kepada diri kita, agar ada ataupun tidak ada orang di sekitar kita, kita tetap takut kepada Allaah, sehingga ketaatan kepadaNya tetaplah berjalan.
—Ustadz Maududi Abdullah hafidzhahullaah, dengan sedikit tambahan.