Aku tahu ini tidak akan lebih baik dari sebelumnya, tapi jika aku bertahan maka niat baikku tentu akan berhenti sampai disitu saja. Aku memilih menjadi pengangguran yang selalu saja di "cek-cok-in" oleh ayah dan ibu. Setidaknya ini lebih baik dari aku yang bertahan di pekerjaan itu dan meninggalkan ibadahku yang sedang baik-baiknya. Aku riya banget yah ini.
Aku berhenti bekerja karena atasanku melarang untuk ibadah, untungnya dia tidak melarangku bernafas. Awalnya aku bertahan dengan tidak ibadah seperti sebelumnya, tapi iman yang sedang aku bangun ternyata begitu terusik. Lalu, tanpa bekal apa-apa, akh tidak, aku berbekal janji dari Allah di surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6 yang berbunyi:
Fa-inna ma'al 'usri yusran (5) Inna ma'al 'usri yusron (6)
Karena sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5) Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6)
Aku berhenti dari pekerjaanku dengan resiko akan selalu di sindir, bahkan tak jarang dengan kata kasar oleh kedua orangtua. Itu sudah tabiatnya. Aku sudah kebal saat aku menganggur beberapa tahun lalu. Bahkan aku sudah terlatih.
Aku percaya bahwa ini lebih baik daripada aku harus bertahan disana. Sampai saat ini aku juga masih percaya bahwa keputusanku pergi adalah yang terbaik.
Aku masih pengangguran dengan ibadah yang masih baik, Alhamdulillah. Setidaknya ada yang baik yang aku kerjakan.
Aku kirim banyak lamaran, tapi belum ada yang memanggil untuk bekerja. Belum jodoh mungkin. Setidaknya aku lebih baik begini daripada harus mengorbankan iman yang sedang ku bangun.
Jika dunia miskin setidaknya kelak Akhiratku tak semiskin duniaku. Semoga saja. Aamiinn.