Awal tahun baru, resolusi baru, daftar mimpi-mimpi dan sederet target pencapaian sudah kita tuliskan pada sebuah lembar catatan dengan harapan di akhir tahun nanti kita mampu mewujudkannya.
Bahkan sejak lahir, sejak lingkungan kita mengenalkan apa yang namanya sebuah keinginan. Kita mulai belajar, kita mulai mengimani bahwa menggenggam dan meraih sebanyak-banyaknya, lebih baik.
Kita jarang sekali diajari soal melepas, mengikhlas, dan merelekan. Berita kehilangan selalu dianggap kabar buruk, melepaskan selalu dianggap tidak mampu menjaga. Hidup kita selalu dibayangi oleh ketegangan mempertahankan.
Kita lupa jika kenyataannya, mendapatkan dan melepaskan tidak pernah bisa terpisahkan dari kehidupan kita. Jika ada yang bertanya apa yang akan kita lepaskan di tahun ini? Kita tentu berpikir keras untuk menemukan jawabannya.
Sebisa mungkin, sekuat yang kita mampu, kita pasti akan mempertahankannya. Harapan kita semakin tinggi, keinginan kita mengumpulkan bertambah semakin banyak. Resolusi-resolusi kita tidak dituliskan untuk mencapai keseimbangan.
Keseimbangan hidup untuk mencapai ketenangan yang hanya bisa didapat dengan menyadari bahwa setiap hal yang kita miliki di dunia ini semuanya sementara. Jika ada yang kita dapatkan, tentu juga kelak akan ada sesuatu yang harus siap kita lepaskan.
Maka berbahagialah orang-orang yang terbiasa memberikan miliknya. Mereka yang tidak pernah takut bagiannya berkurang. Mereka yang hatinya selalu diberi kelapangan untuk melepas dan mengikhlas.
—ibnufir












