“Jika sholawat masih terasa berat,
coba tanyakan pada hatimu: siapa yang sedang kau cintai?”
Sungguh,
andai engkau benar-benar tahu
bagaimana Rasulullah ﷺ dipilih sebelum engkau sempat berharap,
sebelum dunia mengenal cahaya,
sebelum rahim mengandung amanah agung itu…
dipilih dari nasab yang dijaga malaikat,
dari garis keturunan yang tak pernah Allah kotori,
dari jiwa yang bahkan setan pun tak diberi kuasa mendekat.
Andai engkau tahu
betapa setiap detak hidup beliau
adalah pilihan Langit,
bukan kebetulan sejarah…
niscaya lidahmu akan menangis
setiap kali lupa bershalawat.
Karena shalawat bukan tambahan amal,
ia adalah hutang cinta
yang tak akan pernah lunas.
kita mudah menyebut nama manusia
yang tak pernah menanggung apa-apa untuk keselamatan kita,
namun lalai menyebut nama Nabi
yang menanggung luka, hinaan, lapar, dan darah
agar kita mengenal Allah.
Beliau menangis untuk umat
yang bahkan belum lahir,
sementara kita sering hidup
seolah tak pernah berhutang apa pun padanya.
Maka jika hari ini
shalawat masih terasa berat,
mungkin bukan karena lidah kita kering,
tapi karena hati kita terlalu penuh oleh dunia.
Dan ketahuilah…
tidak ada penyesalan yang lebih sunyi kelak,
selain berdiri jauh dari telaga Kautsar
sambil sadar:
kita pernah punya ribuan detik di dunia
untuk bershalawat…
tapi kita memilih diam. 😭😭
Maka sebelum ajal datang tanpa salam,
sebelum lidah kelu oleh penyesalan,
sebelum kita berdiri di padang Mahsyar
tanpa tahu harus berlindung ke mana…
jangan biarkan satu hari pun berlalu
tanpa menyebut nama
manusia yang paling mencintai kita
meski tak pernah kita temui.
Karena di hari ketika semua nama
tak lagi berguna,
hanya satu nama
yang mampu membuat wajah kita dikenali oleh langit.
Dan andai hari ini kita tak punya apa-apa
untuk dibanggakan di hadapan Allah,
pastinya shalawat yang sering kita lantunkan
menjadi alasan
kita tidak dipulangkan dengan tangan hampa.
Jika engkau ingin satu amalan
yang ringan di lisan
namun berat di timbangan,
peganglah ini…
jangan lepaskan sampai napas terakhir.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
صَلَاةً تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ
وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ
وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ
وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ
وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ
مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ.
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad,
dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad.
Dengan shalawat itu, selamatkanlah kami dari seluruh ketakutan dan bencana,
penuhi untuk kami semua kebutuhan kami,
sucikan kami dengannya dari seluruh dosa,
angkatlah kami dengannya ke derajat yang paling tinggi di sisi-Mu,
dan sampaikanlah kami dengannya kepada puncak segala tujuan kebaikan,
baik di kehidupan dunia maupun setelah kematian.”


















