Sebatas
Bukan hanya teori. Perempuan memang melebihi nalar lawan jenisnya. Lelaki mengaggapnya biasa, tapi lain hal nya dengan perempuan, ini bukan hal biasa.
Mungkin kita seringkali menemukan persahabatan antara lelaki dan perempuan. Keduanya hanya mengganggap kita sebatas teman, tanpa melibatkan perasaan. Benarkah?
Benarkah wahai kamu yang hatinya lembut, ketika ada sosok yang lebih perhatian, maka hatimu biasa?
Benarkah wahai kamu yang hatinya perasa, akan nampak biasa, jika terus bermain bersama?
Lantas apa makna dari sebuah kata-kata,
"Tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan kecuali diantaranya mempunyai perasaan"
Perempuan seringkali menjadi 'korban'. Lelaki menganggap itu hal wajar, tanpa mau tahu apa yang menggeliat di hati perempuannya. Bercerita padanya, tentang citanya, bahkan pujaan hatinya. Dan perempuan adalah sosok paling pandai menyembunyikan percikan-percikan cinta yang perlahan ia redam.
Sebatas bersama. Sebatas teman mengobrol. Sebatas teman curhat. Sebatas teman main. Sebatas teman. Atau mungkin sebatas teman satu arah.
Tapi perempuan seringkali melibatkan nurani, rasa, dan apa-apa yang tanpa logika.
Inginnya,
Melebihi batas pertemanan, lebih dari sebatas mengobrol, lebih dari sebatas bercerita, atau bahkan ia akan lebih tertarik mendengar citamu ketimbang siapa dambaanmu. Ia berharap, pendamping citamu adalah sosoknya sendiri.
Adakah kamu merasakan hal itu?
Berharap teman yang selama ini kau anggap memberi perhatian lebih benar-benar dimilikimu. Atau sekedar berharap teman tapi menikah.
Adalah hal wajar. Karna hati pun sama seperti besi. Bisa memuai, kuat, rapuh, atau berkarat. Perempuan mana yang hatinya biasa jika jelas-jelas kamu diperlakukan tak biasa oleh lelaki yang katamu 'teman'.
Pulang diantar, perlu apa-apa dibantu, minta ini itu diberikan. Dengan alih-alih pertemanan.
Baiknya kata 'sebatas' tadi tak membuat kita merugi dengan menjadi 'tanpa batas', karna hidup ini berbatasan dengan keterbatasan. Khusunya hati juga perasaan.
Boleh jadi, kita mengganggap itu hal biasa, tapi ternyata penerimaan lawan jenis kita berbeda. Jangan sampai tanpa kita sadari, saat ini kita sedang menanam benih-benih di pekarangan hatinya. Membuatnya menunggu, meragu, juga gusar tak menentu.
Ternyata, berbuat baik pun perlu kehati-hatian. Terutama keseringan saling mengandalkan antara laki-laki dan perempuan yang lama kelamaan membuat hati menjadi nyaman. Tanpa ikatan. Juga kepastian.
Lantas harus bagaimana?
Berbuat baiklah yang sewajarnya. Khususnya bagi kita yang sering mengandalkan lawan jenisnya. Dan kecenderungan hati akan senang diperhatikan. Lawan. Kalau perlu hentikan. Selagi bisa meminta tolong kepada sesama mahrom mu untuk dimintai pertolongan.
Sebatas boncengan, lalu timbul ketertarikan. Dan mustahil tidak timbul perasaan, jika terus saling mengandalkan.
Selamat mendewasa, menjadi pribadi yang kelak dirindukan surga. Aamiin.
-Dari temanmu yang banyak alpa-
@janatunrahmilah
Bandung, 17 Oktober 2017
















