Kusangka yang membuat gelisah selalalu datang adalah bersama yang belum menetap, ya itu dia.
todays bird
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
will byers stan first human second
d e v o n
noise dept.
Peter Solarz
Cosimo Galluzzi
he wasn't even looking at me and he found me

tannertan36

No title available
tumblr dot com
cherry valley forever
styofa doing anything
Game of Thrones Daily

❣ Chile in a Photography ❣
Claire Keane

PR's Tumblrdome
TVSTRANGERTHINGS
dirt enthusiast

Origami Around

seen from Malaysia

seen from Canada

seen from United States

seen from Taiwan
seen from Brazil

seen from Brazil

seen from France
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@bebek-kuning
Kusangka yang membuat gelisah selalalu datang adalah bersama yang belum menetap, ya itu dia.
Kupikir dengan membuat garis tipis ti sudut bibirmu membuat kau lega, kalau begitu kita saling berlempar diam saja
Langit itu lapang, langit itu menenangkan. Tapi kadang terasa lusuh.
Perjalanan 31 menuju angka 1
Perjalanan adalah salah satu cara mempertemukan satu jiwa dan jiwa lainnya. Bagaimana semuanya membaur menjadi satu, iya satu bukan dua bukan tiga apalagi sepuluh. Tanah yang dipijak pun mendukung pijakan dan langkah yang sudah mulai gemetar. Langkah dan medan yang yang selalu saja berusaha untuk dikagumi. Hanya ada bunyi makhluk alam yang sedari kemarin mempersiapkan rumah mereka untuk dicintai dan diabadikan. Saat itu matahari sedang tak menemani perjalan, bahkan bulan pun belum sempat hadir bersama. Hanya ada rintik hujan dan sedikit cahaya samar-samar di depan langkah. Berusaha menebak batang, akar dan daun-daun kering yang dipijak. Akan kah kuat menopang? Ya itu akan. Kenapa harus tidak? Selalu bahagia dipijak dengan niat tulus tanpa membuat mereka rusak dan tidak lagi dikagumi tapi disayangkan. Aahhh tak ada hiruk pikut kota yang sangat membosankan, melainkan nada indah alam yang memanjakan indra yang selalu terpapar nada-nada memekakkan telinga. Tidak ada asap lalulintas yg menyesakkan hela nafas melainkan udara bersama embun bening nan sejuk. Pagi itu tak cukup cerah untuk mengabadikan hadirnya matahari yang akan memulai tugasnya. Diputuskan untuk menikmati karya-Nya yang kadang tak ada hentinya membuat diri ini sangat rendah dan dan semakin tunduk pada-Nya. Iya pada-Nya Sang Maha Segalanya. Menemukan banyak karya-Nya yang rasanya tak sanggup dibawa pulang semua ketakjubpannya. Selalu ada rasa ingin kembali yang menjadi buah tangan. Hanya ada tanah dan daun-daun kering yang dipijak, akar dan batang pohon sebagai pegangan di tengah medan yang tak biasa, hanya ada sejejeran pohon-pohon perkasa, hanya ada hamparan ilalang yang mampu menyesatkan kagum dengan diatapi awan dan langit yang sedikit cerah pagi itu. Hari mulai sedikit panas dengan matahari yang cukup sayu. Tapi rasanya selalu tenang, dan selalu mengesankan. Ketika seharusnya matahari bertugas yang ada hanya deras air dari awan di atas tempat ini, ah waktu yang sangat nyaman untuk merenggangkan otot. Mata yang semakin sayu ter bebelalak dengan menu siang yang cukup menggoda. Lahap ditemani dengan udara dingin yang menuntun pada tidur sejenak. Jarum jam tangan yang sedari kemarin melekat menunjukkan pukul menjelang sore. Semuanya berkemas memungut memori-memori yang nantinya akan dengan senang dibagikan. Perjalanan pulang pun dimulai dengan langkah pengabadian moment di tempat yang alan selalu ingin dikunjungi. Hingga di perjalanan yang kali ini medannya terlihat jelas. Nafas yang terengah-engah menuntun kaki memperlambat langkah. Sedikit tandakan dan sedikit turunan tapi perjalanan pulang terasa pebih singkat. Warung di bawah membuat langkah semakin girang pertanda perjalanan selesai.
Benar-Benar
Sejenak hening, menutup mata dan meraskan semua kepekaan. Menyadari telah banyak detik dilalui dengan kotak kosong. Menyadari hal-hal yang tak seharusnya dinanti. Menyadari semuanya sia-sia, semuanya tampak menyedihkan.
Menghela nafas lagi, rasa mata tak tak sekuat tanggul, biarkan saja keluar. Hening, kemudian benar-benar menyadari semuanya hanya benar-benar mimpi. Hanya mimpi dan imajinasi bawah sadar saja, mungkin. Masih berharap semuanya bertransformasi menjadi kenyataan yang benar-benar nyata.
Hanya DIA yang menakdirkan semua ini. Bukan tiada maksud melainkan diri yang belum bisa saja menemukannya dan membuatnya nyata. DIA terus saja berbisik “Bersabarlah sejenak”.
23 Tahun lalu 💛
Dari seorang wanita, iya dari seorang wanita yang dulunya pernah gadis. Wanita beranak satu berusia 4 tahun, dengan calon adiknya yang masih saja betah berada di dalam hangatnya ruangan gelap. Masih saya asyik bermain dengan dunia yang dianggapnya indah. Tapi sayang bayi mungil itu harus menghentikan permainannya di dalam ruang privatbya itu dan harus keluar menemui dunia yang sesuangguhnya bersama orang-orang yang sedati tadi menantinya. Bukan hal yang mudah bagi wanita itu untuk bisa mengajak bayi mungil itu keluar dari tempatnya, harus melalui beberapa tindakan yang menyakitkan, hingga tepat jam 4 sore 23 tahun lalu tangisnya memecah tegang yang tergambat dari wajah para suster. Seorang bayi perempuan cukup membuat keluarga kecil itu sedikit tertawa bahagia sembari menyeka air mata yang tak sadar mengalir. Seandainya seorang bayi dapat mengingat apa yang terjadi sedari mereka lahir, tentu tak habis ucap syukur dan terimakasih pada sang pemberi kehidupan. Seorang bayi perempuan melengkapi keluarga kecil itu. Tumbuh bersama dengan kakak tercintanya hingga dihadiahi kembali 2 kawan kecil untuk semakin meramaikan keluarga. Gadis itu tumbuh menjadi gadis pada umumnya. Memiliki rasa bahagia, kecewa, sedih, dan semua yang memang harus ia cicipi. 23 tahun hanyalah hitungan saja, bukan apa-apa. Karena baginya sekarang dia belum menjadi apa-apa karena memang seperti itu. Baginya dia bukan apa-apa, dan memang bukan untuk menjadi apa-apa tapi untuk menjadi apa yang memang seharusnya ia menjadi. Banyak harapan di sana, banyak doa. Hari ini ketika gema takbir berbisik kencang di telinga, genap 23 tahun Allah telah izinkan gadis itu menikmati kehidupan oleh-Nya. Dan entah sampai kapan izin itu akan ada, hingga waktunya tiba. Berharap semua yang dilakukan selama 23 tahun ini adalah semua atas ridho-Nya tapi kerap kali permainan hawa nafsu dominan di sana. Itulah mengapa hal yang paling indah saat ini adalah do'a.
Selalu percaya dengan quote "jodoh itu bukan dicari tapi dibentuk" ya...memang betapa pun menginginkan yang sempurna, tapi apakah senada dengan gerakan perubahan dari dalam diri untuk menuju sosok itu?
Kita Manusia
Manusia itu aneh. Selalu tak puas. Satu saat ketika hujan turun, wajahnya mengadah ke langit yang sedang tak tampak baik dan menatap dalam sembari berkata lirih "bisakah kau berhenti menangis?, saya ingin melakukan blablabla hari ini" Satu saat ketika mentari mendominan, ketika pangit begitu terang dan cemerlang, lagi-lagi wajahnya mengadah ke langit yabg tampak sangat baik hari ini sembari berkata lirih "bisakah kau sedikit menyimpan cahaya panasmu? Saya ingin blablabla hari ini" Apakah semuanya terjadi hanya karena manusia ingin melakukan sesuatu? Alam punya keinginannya sendiri, seperti manusia yang sesekali bersedih sesekali ingin tertawa dan pun sesekali ingin marah dan berteriak. Keadaan ingin itu semua terjadi, kalau pun tanpa persetujuan manusia. Apa yang dirasakan manusia selalu, seandainya walaupun telah memiliki apa yang di"seandai"kannya dulu. Sulit untuk mengubah "seandainya" menjadi "harus" butuh kerja nyata bukan dalam mimpi dan imajinasi yang selalu membuat zona ternyaman dalam suatu proses pikir. Tapi terkadang banyak rasa yang membuat seseorang tetap diam di tempat, mungkin tersesat atau tak tahu harus melangkah ke arah mana dan melakukan apa. Manusia punya Tuhan, apa pun itu semua adalah kendali-Nya, Dia pemilik segalanya. Hal kecil yang Ia berikan pada kita apa salahnya untuk disyukuri, walaupun itu hanya cukup untuk memuaskan satu keinginanmu saja. Percaya satu yang kecil awalnya jika semuanya dijalani dengan nyaman, Dia akan memberika sisa bagian yang besarnya, percaya itu! Kita, manusia punya Pemilik, iya Dia Allah Sang Maha Pemilik segalanya.
Lalu pada akhirnya, segala jawab itu ada pada sebuah sujud yang panjang,
Adalah jawab yang tak perlu bernada sebuah jawaban,
Pada keangkuhan-keangkuhan yang disengaja kalah menelentang,
Pada ketundukan diri yang selama ini hampir hilang.
Bersujudlah, lalu temukan kejujuran.
Sedekat itu pulalah kita pada empunya setiap jawaban.
Kadang rasa peduli akan menang jauh dari rasa takut. Seperti saya sore ini.
Hidup itu skenario. Ada baik ada jahat. Ada sukses ada susah. Kalo skrng lagi susah, mungkin peran suksesnya keduluan sm yang lain. Simpel.
Tunggu seri berikutnya, siapa tau beruntung~
Caramu menyinggungku rasanya lucu. Kekanak-kanakan sekali nona, malu sama anak di belakang anda no-na.
Bisakah kau bilang “tidak”?
Kenapa harus selalu bilang “iya” jika memang tak sanggup? Kenapa selalu bilang “ tak apa” jika memang sedang tak baik? Kenapa harus selalu “tersenyum” jika memang seharusnya menangis? Kenapa harus selalu “diam” jika memang harus merintih? Kenapa selalu “tenang” jika memang harus risau?
Ibu, Bapak Bisakah kau bilang “ tidak”? Bisakah kau katakan “jangan, ibu dan bapak tak sanggup”? Aku pun akan menyanggupinya seperti yang selalu kalian lakukan Tuhan telah menciptakan 2 hati yang suci, selalu berusahan menyejukkan hati yang lain Tapi kenapa ibu, bapak, Tuhan selalu beri kita ketaksanggupan? Kenapa mereka tidak? Kenapa harus kita?
Tuhan, jika memang ini jalan-Mu, Bisakah Engkau bukakan kami jalan? Jalan menuju kedamaian dan kebahagiaan abadi Bisakah Engkau lumpuhkan hati yang selalu mengeluh? Bisakah kau tundukan hati kami untuk selalu bersyukur? Tuhan, jika memang ini jalan-Mu Bukakan Pintu kesanggupan untuk kami yang tak ada apa-apanya ini Bukakan selebar kuasa-Mu, Tuhan
Tuhan, Engkau telah ciptakan untuk kami ibu, bapak yang luar biasa Kalau pun dilahirkan kembali, ibu akan tetap menjadi ibu dan bapak akan tetap menjadi bapak bagi kami Sekali pun tak pernah ada pinta dari hati ingin dilahirkan sebagai seorang yang punya segalanya Cukup dilahirkan sebagai buah hati mereka lagi, dan lagi jika memang bisa Tuhan, betapa Engkau tahu tulusnya cinta mereka, berilah mereka cinta-Mu yang damai
Mereka yang selalu ingin senyum kami merekah Mereka yang selalu ingin kami damai dan bahagia Mereka yang selalu sanggup untuk memberikan isi dunia ini Mereka yang selalu ada untuk setiap keluhan Mereka yang tak pernah bosan dengan kesedihan yang selalu saja mereka terima dari kami Mereka yang selalu saja ada dalam setiap kecerobohan dan kebodohan kami Jaga mereka
Tuhan, Jadikan mereka tetap menjadi ibu dan bapak yang luar biasa di kehidupan selanjutnya Bangunkan mereka istana terindah di Sisi-Mu kelak di kehidupan berikutnya Iyakan semua permintaan Mereka Tuhan, Kumohon.
Apapun itu orang tua akan menjadi kunci hidup saya, bukan hanya saya tapi kita, iya kita. Bagi saya, tak ada orang tua yang berkata “tidak” untuk anaknya apa pun yang diajukan pada mereka. Oleh karena itu sekuat apapun kita beribadah, berdo’a, mengasihi mereka itu belum cukup untuk membalas jasa mereka. Tetap ada di samping mereka apa pun keadaannya. Selalu bawa mereka dalam sujud, dalam airmata bahagia, dalam cinta, di setiap langkah.
Renungan Diri, pada Diri Sendiri
Masalah adalah bayangan diri yang merupakan ujian naik kelas oleh-Nya pada hamba-Nya. Tak ada satu pun orang yang selalu hidup damai dan bahagia. Saya pun percaya itu, saat ini. Ketika ada saja masalah yang membuat sangat terpuruk, akan ada seseorang yang lebih menderita mengadu dan selalu saja meminta solusi. Pada saat itulah kadang seseorang akan sadar banyak orang diluar sana yang lbeih menderita, lebih berat hidupnya, tapi hanya sedkit yang mengeluh, dan banyak yang malah menyalahkan takdir. Takdir?
Apa itu takdir?
Bagiku takdir itu adalah Kebahagian, Kesedihan, Cinta, dan Kematian. 2 Hal dari takdir itu tidak mutlak, melaikan sesuai dengan apa yang kita inginkan dan tekatkan, tak lupa dengan doa yang selalu dipanjatkan. Adalah kebahagian dan kesedihan. Semuanya butuh banyak usaha dan banyak do’a.
Saya selalu percaya Firman Allah
…Belum tentu apa yang kau inginkan adalah baik bagimu dan belum tentu apa yang tidak engkau inginkan adalah tidak baik bagimu…
Tapi kadang, selalu ada saja pertanyan dalam pikiran yang selalu mengusik, kenapa kebahagian dan kebanggaan tak selalu berpihak?
Melainkan kesedihan dalam harap, dan kesedihan dalam penantian?
Tapi itulah kuasa Allah yang selalu menabur sedikit kerikil dalam proses hidup hamba-Nya agar menjadi hamba yang setrong taat dan semakin berjaya. Agar semakin tahu apa makna hidup damai dan bahagian dengan mencintai dan mengasihi hal-hal kecil yang manis, asam, asin, pahit.
Maaf telah sangat emosi.
Kadang amarah itu timbul ketika memang peduli
Semuanya tampak sama, tapi mereka berbeda
Kehidupan itu penuh dengan memori yang mendiami beberapa tempat, beberapa aroma, beberapa suara, beberapa suasana, beberapa wajah. Tapi mereka itu beda, hanyalah memori yang akan tetap sama.
Tempat dulu yang saya pijak akan selalu sama ketika saat ini saya berdiri di tempt yang sama. Tapi terkadang memori ini hanya seolah timbul dan hilang karena tempat itu memiliki suasana yang berbeda, aroma angin yang berbeda. Orang-orang yang selalu ingin ditemui kini mereka masih merupakan orang yang sama tapi mungkin raut mereka yang lebih dewasa, senyum mereka yang makin tegas, tawa mereka yang semakin terkontrol. Makanan yang sering kau makan mungkin rasanya sama, tapi lagi-lagi suasananya tanpak beda tak ada tawa yang dulu selalu kau bagi sembari menyantap nasi bungkus favoritmu dan kawanmu itu. Mas atau mba penjual yang dulu selalu kau datangi dengan senyum lebar mungkin sekarang telah berbeda, yang bisa kau kenang hanyalah memori. Memori hanyalah memori. Yang lampau hanyalah yang lampau, hanya sekali terjadi. Dan saat ini saya sedang me-rindu-kan memori itu.
Makassar, 31 Juli 2016
Engkau yang memutuskan segalanya, kita yang tak ada apa-apanya ini hanya bisa berusaha dan mengadu pada-Mu. Apapun itu Engakau Maha Segalanya.