Perempuan itu makhluk perasa. Kadang ia tak mengerti mengapa sanggup menggenggam kesal sekaligus rindu. Pun, marah sekaligus menangis dalam waktu yang bersamaan.
Hanya kadang ia berusaha menutupi salah satunya.
seen from Japan
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Romania

seen from United States
seen from United States
seen from Ukraine

seen from Malaysia
seen from Lithuania

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
Perempuan itu makhluk perasa. Kadang ia tak mengerti mengapa sanggup menggenggam kesal sekaligus rindu. Pun, marah sekaligus menangis dalam waktu yang bersamaan.
Hanya kadang ia berusaha menutupi salah satunya.
Kau tahu, perempuan mampu menyembunyikan perasaannya. Diam-diam mencintaimu dengan sangat tapi kau tak pernah tahu. Diam-diam terluka dengan sangat tapi kau tak pernah tahu. Diam-diam ia menyembuhkan segalanya sendirian dan tanpa pernah kau tahu. Satu yang tak pernah mampu disembunyikan; rasa cemburunya.
Sebab, perempuan memang kadang segois itu, selalu ingin menjadi prioritas utamamu, selalu ingin menjadi pertama yang kau dengarkan, selalu ingin menjadi pertama yang kau pahami. Dan selalu ingin menjadi pemenang di hatimu. Ia hanya tidak ingin dibandingkan dengan siapa-siapa. Tidak ingin pula perlakuanmu sama terhadap perempuan lain kecuali dirinya. Karena kadang kebaikanmu sangat mungkin menumbuhkan harap-harap di hati yang lain. Sedangkan kepada ibumu ia tak akan pernah mampu menaruh rasa cemburu.
Jangan terlalu percaya dengan apa yang kutulis. Bukan berarti itulah yang sedang dirasa. Bukan berarti secara lugas/kiasan utuh mengkisahkan diriku. Kadang, hanya bagian dari imaji atau potongan cerita orang lain atau potongan ceritaku sendiri yang tertunda - lama.
Barangkali jika kau telah jauh mengenal diri seorang penulis, kau akan mampu membedakan tulisan mana yang sebenar-benarnya sedang dirasakan dan mana yang hanya sekadar saja.
Pernah, kaukatakan jika kau tak suka melihatku dipenuhi air mata. Pernah, kaukatakan jika kau tak suka melihatku membenamkan diri dengan luka. Inginmu aku dihujani bahagia saja. Kau bersedia menggariskan warna-warni hidup denganku. Namun, mengapa sekarang kau tak acuh; membiarkanku menari-nari di bawah rintik kesedihan yang menyayat berulangkali?
Aku yang telanjur salah sangka atas rasa yang kubuat sesak. Atau memang sejak awal kau ingin menitipkan bahagia sesaat, lalu memintaku menggenggam duka sepanjang masa sebagai kenangan?
Hadirmu bukanlah air mata yang ikut rebas kala hujan. Bukan pula pelipur lara di antara secangkir kopi dan kepulan sepi. Hadirmu; penghangat dari segala ruang yang terbujur dingin
Mudahnya kau anggap apa-apa sebagai angin lalu. Mudahnya kau mengemasi segala sisi agar kembali kosong. Dan mudahnya kau berkata-kata. Namun sebatas prakata manis sebagai sapaan kisah yang berakhir pisah. Padahal tanpa kau tahu, aku masih berusaha mengumpulkan potongan kisah yang masih tersisa. Dan aku masih mengheningkan pergimu yang belum terlampau jauh. Barangkali sewaktu-waktu kau berbalik.
Berharap pun tidak. Hanya saja berbaliklah, sekedar menarik kembali kata-kata yang pernah kauucap - yang pernah menumbuhkan sebait cahaya di hati seseorang.
Sesempurna, seideal, atau seirama apapun yang mengatasnamakan penilaian dari diri sendiri atau orang lain, pastilah tetap ada ha-hal yang tak bisa disatukan antara dua individu. Suatu perbedaan yang jarang dirasa. Karena merasa cukup bahwa segala hal yang bercorak sama selalu menjadi pemenang dari sekian yang berjurang. Mungkin semua akan dikenali setelah berada dalam jangka waktu lama. Setelah pola pikir kita tak terkotakkan dengan berhenti di satu titik. Tetapi terus berjalan; mengamati dengan seksama. Karena bersanding tak cukup dengan menerima sisi baiknya saja.
Cobalah sesekali perhatikan bagaimana cara-cara ayah dan ibu kita menasehati atau cara-cara mereka mendebatkan sesuatu. Mereka tetap berdiri dalam pijakan masing-masing. Namun, saling menghargai satu sama lain. Terlebih selalu berhasil meredam banyak arus yang pernah mencekam. Mereka pun sampai kini terus belajar yang mungkin secara verbal tak terlacak. Namun, tersirat bahwa mereka selalu ingin mengenalkan pada anaknya mana yang perlu dipahami, mana yang perlu diteladani, dan mana yang perlu dihindari.
Kita tidak akan merasa kelelahan ketika dalam mengerjakan apapun dengan setulus hati, tanpa banyak mengeluh dan tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih dari apa yang kita kerjakan.
Sebab sumber keberkahan adalah niat. Sumber konsistensi adalah tujuan. Dan sumber kekuatan adalah berserah kepada-Nya - Yang Maha Tahu apa yang harus kita dapatkan terlebih dahulu.