Aku Tak Benar-Benar Merasa Kehilangan(mu)
Tak masalah jika kau enggan membaca apapun yang kutuliskan untukmu. Tanpa meminta balasan, aku sudah cukup puas menjadi penulis sekaligus pembaca bagi diriku sendiri.
Waktu terus merangkak maju, sudah habis masanya jika kita masih mengungkit sesuatu yang telah berlalu. Atau mencari-cari jati diri, melalui serangkaian patah hati yang berulang-ulang. Baik menyematkan luka atau pergi tanpa alasan.
Aku tak merasa kehilanganmu. Bukan karena tidak ada peduli atau rasaku hambar oleh luka. Kau sama sekali tak meninggalkan luka apapun. Aku tahu, masa lalu dan peristiwa lainnya memiliki makna yang bisa kita simpan sebagai pelajaran. Maka dengan berbagai kemungkinan atas persangkaanmu padaku selama ini, dengarkan aku bukanlah perempuan yang memaksamu untuk lekas memberi kepastian. Aku juga bukan perempuan yang hanya sekedar menunggumu; melingkarkan janji di jari manisku kemudian mengikatku dalam akad. Karena bagiku perlu banyak tanggungjawab yang harus kita rapikan. Begitu banyak persiapan yang harus disemai. Begitu banyak usaha dalam meyakinkan diri tanpa ragu. Dan begitu banyak mimpi yang harus dituntaskan sendiri sebelum bersama-sama.
Aku bukan lagi aku yang waktu itu selalu membuatmu cemas dalam menentukan prioritas mana antara memperjuangkan mimpimu lebih dulu atau diriku. Sedangkan waktu itu, aku masih saja mempertanyakan poisisiku dimana. Padahal jelas aku bukanlah siapa-siapa.
Dari sekian ceritamu soal apa-apa yang ingin kau raih saat ini, begitu jauh jika kita memikirkan sesuatu yang belum kita katakan tepat. Apalagi sebatas nafsu. Ada banyak mimpi yang ingin kuwujudkan nyata. Maka, dengan ini aku tak benar-benar merasa kehilanganmu. Karena kau yang baru menjadi lebih bijaksana dan tak tergesa-gesa. Karena kau akupun menjadi lebih bijaksana dan tak terlalu memburu perasaan tanpa ikut berjuang. Dan karena kau yang baru menjadi nyawa, hingga membuatku ikut bangkit.
Kehilanganmu bukan berarti duniaku terhenti. Atau aku meratapinya diam-diam. Aku tak merasa demikian. Kata orang, “Tak masalah kita kehilangan seseorang asal bukan diri kita. Tak masalah kita kehilangan seseorang asal bukan iman kita. Sebab Tuhan berhak memberi batas agar kita tak menjadi Hamba yang ingkar”
Aku melepasmu seperti kau melepasku. Sebab kita perlu jeda. Aku percaya bahwa cinta sejati pasti akan kembali; sejauh apapun untuk menjauh. Dan hati tak akan sedikitpun berpaling arah.