Menyambut bergantinya tahun, jangan sampai kita terus menerus melamun, menerka-nerka keinginan yang belum kunjung turun. Sebab sejauh apa keinginan yang kamu susun, akan kalah dengan keinginan-Nya sebaik-baiknya penyusun
seen from China

seen from United States
seen from China

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Brazil

seen from Saudi Arabia
seen from China

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from China
seen from Spain
seen from Türkiye

seen from Switzerland

seen from China
Menyambut bergantinya tahun, jangan sampai kita terus menerus melamun, menerka-nerka keinginan yang belum kunjung turun. Sebab sejauh apa keinginan yang kamu susun, akan kalah dengan keinginan-Nya sebaik-baiknya penyusun
Evaluasi 2020 : Dialah Yang Menyembuhkan
Mungkin cukup telat untuk menuliskan evaluasi 2020. Tapi tak apalah, baru lewat sehari haha. Rasanya 2020 emang jadi tahun yang berat bagi siapapun, termasuk aku.
Awal Januari 2020 disambut dengan bencana banjir hampir di tiap sudut ibukota, rumahku juga kebagian. Cukup melelahkan, tapi udah biasa >.<
Bulan Februari, umi-ku sakit. Cukup serius dan harus menjalankan pengobatan selama 6 bulan. Bulan Maret adalah awal semua kegiatan dirumahkan, termasuk kuliah. Bulan dimana harga masker dan handsanitizer melonjak karena banyaknya permintaan. Semua orang panik, supermarket penuh, people shopping like crazy.
Bulan April, Mei, Juni, Juli sudah mulai terbiasa dengan new normal. Mulai terbiasa melakukan segala aktivitas dari rumah. Melewati Ramadhan dan hari raya juga dirumah, silaturahim dengan keluarga secara virtual.
Memasuki Agustus, giliran Abi-ku sakit. Cukup serius juga sampai harus dirawat beberapa hari dirumah sakit. Peristiwa orang-sakit tu pasti diiringi seabrek drama yang...ah begitulah.
Bulan September-November nenek-ku sakit, beberapa kerabat meninggal, sebagian karena covid. Kabar baiknya buku antologi pertama ku terbit. Itu saja.
Bulan Desember, penutup yang penuh adegan dramatis hahaha. Mulai dari umi sakit (lagi), disusul abi, tapi alhamdulillahnya hanya sekitar seminggu. Kadang rasanya rumah sendiri tu kaya rumah sakit, soalnya isinya orang sakit semua. Sodara-sodara sampe ngejulukin aku sebagai 'perawat' di private hospital ini wkwk. Pada akhirnya, sang 'perawat' pun tumbang juga.
Beberapa hari demam tinggi, entah sakit apa tapi akhirnya aku dan abangku memutuskan untuk swab test. Hasilnya...aku negatif dan abangku positif. Disinilah drama bagian 2 dimulai.
Kami berdua swab tanpa se-pengetahuan umi abi. Swab gratis di puskesmas wkwk. Resikonya kalo swab di puskesmas dan positif, data akan dikirim ke RT RW dan kabar itupun akan segera sampai di telinga warga sekitar.
Positif covid memang bukan aib, tapi gabisa dipungkiri juga bahwa beban sosial di masyarakat bagi mereka yg positif itu nyata..dan cukup mengganggu. Berhubung umi-abi ku merupakan orang yg cukup 'famous' seantero kelurahan, mereka khawatir kabar positif abangku ini tersebar. Padahal aku dan abangku santuy aja, ga begitu peduli dengan omongan orang wkwk
Belum lagi kami harus mengikuti prosedur dari satgas setempat jika ada yg positif, maka seluruh anggota keluarga orang itu harus di swab juga sebagai upaya tracing. Ini drama banget sih aslii, umi-ku bersikeras gamau di swab dengan seribu alasan—yang menurutku—berlebihan. Dengan bantuan kakak tertua umi, akhirnya umi mau di swab, begitupun keluarga ku yg lain termasuk nenek.
Abangku gimana? Karantina di wisma atlet wkwk. Aku ga begitu khawatir sih, soalnya dia OTG. Rasanya itu teguran aja dari Allah, buat orang bandel yang tiap hari keluyuran mulu dan mengabaikan protokol 3M.
Tiga hari setelah di swab, hasilnya keluar. Deg..gimana kalo ada yg positif lagi. Yang paling mengkhawatirkan tu nenek-ku. Soalnya kondisinya lagi kurang sehat dan ya pasti rentan tertular kan. Syukurlah Allah maha baik, Allah kabulkan doa yang siang-malam kami panjatkan—semoga semuanya negatif.
Tahun ini memang berat, tapi pasti bukan hanya aku yang merasakan. Jadi yaa ga pengen banyak ngeluh gitu. Hal yang bisa aku jadikan refleksi di tahun 2020 adalah tentang ujian sakit.
Allah kasih sakit biar kita bisa lebih menghargai sehat. Menyadari bahwa sehat adalah kekayaan yang sesungguhnya dan harus dijaga sebaik mungkin. Pun begitu, sakit juga mampu menggugurkan dosa selama kita sabar dan tak henti ber-ikhtiar untuk sembuh. Sakit mengajarkan kepasrahan total ditengah keputusasaan. Lalu teringat sebuah ayat;
Wa idzaa maridltu fa huwa yasyfiin
"Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku." (QS. Asy-Syu'ara: 80)
Refleksi Tahun 2020
Tahun 2020 adalah tahun yang dipenuhi pergolakan pikiran. Di penghujung tahun ini aku ingin merefleksi pikiran-pikiranku. Apa saja fokus pikiran-pikiranku, gimana kontradiksi yang terjadi, gimana perubahannya, apa saja yang banyak mempengaruhiku di 2020.
1. Keresahanku terhadap sistem perkuliahan di Azhar Di Desember 2019 aku mulai mengalami keresahan tentang pendidikan. Aku resah di sistem perkuliahan Azhar. Aku galau. Sistem perkuliahan s1 (khusus ilmu syar'i) Azhar cuma mencetak mesin penjawab soal. Azhar sangat miskin "assessment". Kemampuan mahasiswa cuma dinilai lewat ujian semester 1&2. Itupun cuma berbentuk hafalan. Tak ada melibatkan kemampuan critical sama sekali. Aku resah sekali, karena kuliah di Azhar tak membentuk kompetensi sama sekali.
Melapangkan
2020 mengawali tahun dengan kondisi bumi yang sakit di belahan negara lain dan qadarullah mengakhiri tahun dengan kondisi yang sama namun kasusnya nampak sangat dekat. Banyak peristiwa diluar kepala terjadi, sebagian besar orang melakukan pengorbanan mulai dari hal kecil hingga merubah planning atau malah banting setir, tidak sedikit pula diantara kita yang terus menerus belajar merelakan, melapangkan dan mengikhlaskan.
lagi-lagi banyak hal yang di risaukan tanpa henti, tapi nyatanya lupa berserah diri pada Illahi. kebanyakan dari kita menyalahkan kondisi, padahal hikmahnya lebih banyak jika di terima dengan lapang hati.
segala kejadian yang kita lalui selama 2020 ini bukan tanda Allah tak sayang, namun Allah sedang mendidik kita agar terus tegar dan selalu berusaha dengan senantiasa menyertakan-Nya pada setiap pijakan.
mengawali 2021, semoga doa-doa kebaikanmu selalu dipanjatkan, bukan hanya untuk diri sendiri melainkan orang-orang yang sedang susah payah berjuang diluar sana dan untuk bumi ini kembali sehat. Barakallahu fiikum.
Klaten, 31 Desember 2020
BISMILLAAH! ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻝ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ Bersyukur foto penuh makna sempat diarsipkan. Alhamdulillaahilladzii bini'matihi tatimushshoolihaat... Bernostalgia momen Ramadhan 2019 di Yogyakarta talkshow "Keluar dari Zona Nyaman" dan buka bersama dengan salah satu influencer muda 🇲🇨 kak @sherlyannavita 🤗 Quotes yang terngiang-ngiang dari Beliau "Berani mengambil keputusan & resiko untuk keluar dari zona nyaman adalah batu loncatan guna menaiki tangga hingga mencapai kesuksesan" 💪 Quotes yang bisa dijadikan pelecut bagi kita tentang tahun nano² (2020). Anggap saja 2020 itu batu loncatan yang dapat dijadikan hikmah sebagai bekal menuju 2021! Bahkan pelajaran yang sangat berharga untuk tahun² berikutnya! Ayoo semangatttzzz buat kita melukis kisah baru dengan tulus dari hati demi NKRI mau tersenyum kembali 🇲🇨😊🙂 Semoga kita bisa sukses dunia-akhirat. Aamiin Yaa Robbal'alamiin🤲. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيلَتِي أَدْرِكْنِي يَا رَسُولَ الله #Inspirasi #Catatan #Ramadhan2019 #Refleksi2020 #visioner #LaeliMariaUlfah #yuk #keephamasahlillaah #quotes #motivasional #milenial #janganmenyerah #tetapsemangat #insyaaAlloohkitapastibisa #suksesdanberkah #aamiin_alloohumma_aamiin ALHAMDULILLAAH! (di Viglosia Building) https://www.instagram.com/p/CJbdAQnnc5Y/?igshid=19msij13adaim
Refleksi 2020
Mengulas balik kisah-kisah yang terjadi selama tahun 2020. Tahun ini merupakan tahun yang unik, bagi yang mampu mengambil pelajaran dari semua intrik yang terjadi maka akan menyisahkan kisah-kisah yang menarik. Namun bagi mereka yang tak pandai mencari celah dan pelajaran maka hanya menyisahkan tahun yang pelik.
Aku akui bahwa tahun ini menyisahkan beberapa hal yang entahlah, sulit untuk dideskripsikan. Di awal tahun 2020, aku merasakan pengalaman pertama patah hati huahaha. Ternyata patah hati itu ngga enak loh saudara. Sebelum merasakannya sendiri, aku sering “ngenyek” teman-teman yang lemah karena persoalan cinta. Setelah merasakannya waduh mantap sekali. Disamperin ke Jakarta, terus diputusin didepan kantor di waktu office hour menjadi pengalaman yang tidak mau aku lupakan.