19 Agustus 2017: Pernikahan Orang Tuaku ke-23 Tahun.
23 tahun lebih mereka telah bersama. Merajut cinta dengan kesadaran penuh. Sadar, bahwa komitmen mereka 22 tahun lalu bukan main-main. Sadar bahwa harus menjadi pribadi yang patut di contoh. Oleh lingkungannya, dan terutama, buah hatinya. Sadar, bahwa harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi. Namun, harapan mereka lebih dari mendapatkan kenikmatan kenyangnya perut sendiri. Mereka tetap berusaha memenuhi gizi tubuh mereka dan buah hatinya. Ditambah, usaha menyenangkan dan mengeyangkan perut masyarakat. Harapan itu kini telah berdiri kokoh sebagai kenyataan. Berada di pojok jalan kecil di kota Metropolitan. Aku besar dengan kenyataan itu. Makan enak ku diberinya. Sekolah setinggi-tinggi langit. Bermimpi senyata-nyatanya. Eksplorasi hidup sebebasnya. Semuanya mewarnai hidupku. Garis merah pasti ada. Apalagi debat kusir beda pendapat. Kesal hatinya dibuatku. Tetapi, mereka tetap berdoa untukku. Aku tahu itu. Denyut nadi yang kurasakan sekarang. Hembusan nafas dari hidungku. Kenikmatan menuntut ilmu. Keikhlasan meski terlambat di jenjang sarjana Semuanya bukti otentik dari bisikan doa. Doa yang didengar Semesta dan Pencipta-Nya. Tiada pantas, aku membalas semua usaha mereka. Usaha berpeluh keringat dan darah. Ya, darah, ketika aku dikeluarkan dari dunia rahim. Namun, hatiku berbisik ingin memberikan yang terbaik untuk mereka Aku paham pula, bahwa terbaik versi mereka belum tentu untukku. Aku akan berusaha berdiri di titik keseimbangan. Demi Semesta dan Pencipta-Nya. Demi kedua manusia yang menjadi orang tuaku. Terima kasih telah berusaha selalu. Terima kasih telah bersabar. Terima kasih telah berdoa tiada henti. Terima kasih telah menjadi orang tuaku. Selamat atas jalinan cinta yang semakin kokoh di tahun ke-23 ini. -- Untuk Bapak dan Ibu. Jakarta, 19 dan 20 Agustus 2017






