Petarung
Apa yang terlintas dipikiran pada saat mendengar kata bertarung??. Apakah seperti sebuah perang yang ternyata memutuhkan sekuat tenaga melawan segala sesuatu. Menghadapi musuh dan memenangkan peperangan. Mungkin seperti itulah kehidupan manusia. Kadang peprangan itu adalah kehidupan itu sendiri. Dan lawannya kadang adalah orang-orang terdekat atau bahkan diri sendiri.
Menjadi petarung kadang melelahkan bukan?. Selalu mempersiapkan serangan yang tidak diperkirakan, selalu menatap waspada dan sulit mempercayai orang lain, bahkan mungkin ada beberapa saat untuk tidak dapat bergantung bahkan pada pasukan sendiri. Sebab adakalanya ada penyusup dan pemberontak. Bertarung sangat melelahkan baik tenaga, perasaan, dan psikis. Apalagi ketika harus menjadi petarung solo, dan bertarung seorang diri.
Bukan pilihanku untuk menjadi keras, dan bertarung melawan apa yang Nampak tidak baik dan jahat, atau bahkan merugikan sesama. Kadang sekitar yang menempaku menjadi petarung, menghadapi kerasnya kehidupan, menyusuri jalanan kehidupan tanpa petuah dan petunjuk. Ibarat kata masuk medan hutan beantara, bertemu harimau atau lumpur hidup, atau bahkan tanaman obat. Tidak ada yang tahu, singkat kata terperosok sendiri, terjerembab sendiri, dan jatuh sendiri.Lalu disanalah ditempa untuk mempercayai insting sendiri, karena kalua bukan diri sendiri mau siapa lagi yang benar-benar peduli. Ada peribahasa yang mengatakan. Keraslah terhadap dirimu sendiri, sebelum orang lain dan dunia keras kepadamu.
Kadang bukan pilihanku untuk menjadi keras kepala,menajdi pemberontak, atau menjadi pembangkang. Adakalanya kalian dan mereka yang memaksaku membuat pilihan. Iya bisa saja pilihan itu terus diinjak dan disakiti, kemudian nerimo saja, berharap Tuhan membalaskan karma suatu saat kelak. Tidak kehidupan tidak mengajarkan hanya untuk diam, tetapi untuk bergerak. Semua harus diperjuangkan, semua harus dimenangkan. Karena tidak semua hal harus diikhlaskan. Maaf aku tidak mmemilih menjadi petarung, tetapi ketidakadilan membuatku harus bersikap. Kita harus membayar apa yang sudah dilakukan, dan menerima buah dari apa yang kita tanam.











