BIJAK BERTUMBUH DALAM HENING
Bulan ini Ada Yang berbeda. Aku genap memasuki usia 30 tahun. Usia dimana menurut orang-orang sudah cukup dewasa dan matang. Namun bagiku usia 30 Belum apa-apa. Rasanya aku Masih ingin merengkuh mimpi kala muda. Menjejakan Kaki kesana kemari, keberbagai belahan dunia. Merasakan banyak pengalamn, dan meraih segala mimpi yang belum dicapai. Pendidikan doktoral misalnya. Akan tetapi segala mimpi seolah buyar, seolah mendekati titik akhir. 30 tahun hidup ini Aku merasa tidak menyesal, segala prestise dunia sudah kugenggam. Minimal bekerja dan berpenghasilan sendiri, keluarga Yang baik, Dan pendidikan strata dua Yang lebih Dari cukup untuk seorang wanita ditengah budaya patriarki. Namun aku merasa Belum settle merasa belum cukup, belum mampu sepenuhnya meringankan Beban Ibuku. Membahagaikannya dengan caraku yang menurutku cukup pantas. Iya aku Masih harus berbenah, Dan mengejar ketertinggalan.
Aku semakin mengerti untuk bertumbuh Kita tidak cukup gegap gempita. Tidak perlu perhatian dan notifikasi seluruh semesta. Tidak perlu dengan selebrasi mewah dan membuang2 apa yang tidak perlu dikala musim musibah melanda dimana2. Aku hanya mengambil jarak Dan jeda. Berpikir dalam hening. Menenangkan batin akan perasaan berapi-api untuk membuktikan. Meredakan emosi yang membuncah. Dan mengajak diri ini lebih banyak berkontemplasi, Dan berbicara. Apa Yang sebenernya diri ini mau. Seperti apa kehidupan Yang ingin direngkuh. Dan siapa yang benar-benar tulus.
Jeda dan hening memberikanku banyak pertanda. Siapa saja yang dapat Aku percaya Dan Aku pertahankan Dan Aku Bela sampai titik darah penghabisan. Hal-hal apa saja yang menjadi penting. Aku memilih jalan dengan menarik diri, pergi tanpa pamit Dan tanpa pertanda apapun. Untuk mampu mengobservasi lebih jauh hal mana Yang berharga Dan penting.
Akhirnya diri ini sampai pada kesimpulan. Kita tidak benar2 dibutuhkan Banyak pihak tanpa jabatan Yang mumpuni. Kita hanyalah cecurut Yang dianggap kecil apabila tidak menampilkan diri. Dan keluarga adalah lingkar utama, Dalam hal apapun. Aku yang kadang lebih asyik membela teman2 beberapa tahun belakangan, tanpa peduli lebih jauh dengan siapa Yang benar-benar peduli padaku. Perasaan bersalah itu kian terasa waktu Demi waktu. Dan Aku berjanji untuk memanfaatkan waktu lebih banyak dan memperhatikan keluargaku. Semoga Masih Ada waktu untuk menebus segala kesalahanku.
Hening mengajarkanku untuk lebih memahami arti dari sekedar impresi. Memang yang banyak cakap dan suka perhatian Akan Naik lebih cepat. Tapi kadang tidak dengan Cara Yang baik bukan?. Semesta itu Luas. Gusti Allah mboten Sare. Tuhan itu tahu kok kapan waktunya. Aku memilih untuk diam Dan tidak berperang Dan bertikai dengan sesuatu Yang bodoh. Karena diam Dan beranjak kadang lebih elegan dan santun. Bukan diri tak mampu membalas, hanya saja menjadi bijak Dan dewasa persoalan lain. HAL ini mengingatkanku Akan sebuah hadist diagamaku. Tetaplah berlalu sopan dan baik kepada sesuatu Yang mendzalamimu. Meski hati terbakar panas. Sabarlah Karena pertolongan Tuhan tepat pada waktunya. Jika sabar habis maka manusia mati bukan?. Aku memilih tenang dan diam. Sekali lagi bukan Aku kalah Dan mengalah namun hanya mencoba pandai menempatkan diri. Untuk tidak membuat badai makin kencang atau api makin berkobar. Aku memilih menjadi bijak dan tumbuh dengan santun.
Hening dan jeda mengajarkan Kita mengetahui makna.











