Perjalanan SSN
Pertama tama saya sangat bersyukur bisa berada disini. Alhamdulillah atas izin Allah saya bisa menjadi 1 dari 75 pemakalah yang diberikan kesempatan untuk menyampaikan makalah dan pemikiran tentang historiografi Indonesia dengan tema umum tahun ini "Membayangkan Indonesia di masa depan". Duduk bersama para sejarawan, profesor, doktor, dosen mahasiswa-mahasiswa hebat dari jurusan sejarah dan para ahli di bidang sejarah yang tentunya ilmunya masya Allah. Sedangkan siapa saya? Merasa ciut? jelas! Siapalah saya yang bukan dari jurusan sejarah, lulus kuliah juga belum dan guru sejarah juga bukan. Tapi ini adalah proses hidup saya! Maka sejak awal walau pas pengumuman melihat deretan nama pemakalah rasanya grogi bertemu dengan para pakar, saya tidak mundur sekali pun. Justru sangat antusias untuk bertemu mereka para intelektual. Para sejarawan hebat yang perlu saya ikuti jejaknya dalam perjuangan menuntut ilmu. Bismillah!
Hari pertama ada pidato dari Hilman Farid tentang "profesi sejarawan". Sebagai orang yang sedang belajar ilmu sosial, saya selalu mengapresiasi bagaimana peran sejarawan dalam mengenalkan indonesia di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Sebuah profesi mulia dalam transfer ilmu pengetahuan. Apatah lagi jika kilas balik bagaimana sejarah umat islam terlebih jika bicara sejarah sirah nabawiyah dari zaman kenabian hingga kemerdekaan yang memunculkan rasa nasionalisme. Bagaimana mendapatkan informasi dan pemahaman mengenai asal-usul khazanah budaya dan kekayaan di bidang lainnya yang pernah diraih oleh umat islam di masa lampau dan mengambil ‘ibrah (pelajaran) dari kejadian tersebut . Rasanya campur aduk. Ada semangat untuk mengetahui setiap kisah heroik dari para pahlawan hebat. Dan selanjutnya membuat saya untuk mengambil manfaat dari setiap kisah tersebut.
Hari kedua, menjadi ajang untuk lebih belajar, menjajal kemampuan dan pengetahuan, pasalnya ada jadwal saya mempresentasikan makalah dalam salah satu panel. Panel yang bertema "produksi pengetahuan sejarah untuk mencerdaskan bangsa". Di dalamnya isinya orang orang hebat. Ada mas eka (Mahasiswa berprestasi UPI), mas sholeh (mahasiswa milineal UNAIR, ketua bem), mas dani (dosen sejarah), mas wijanarto (pakar sejarah dan pendiri komunitas fenomenal sejarah), dan mba hikmah (ASN, PIC revolusi mental di kementerian Pusat). Saya sih cuman mahasiswa yang baru mulai belajar.
Diluar forum intelektual, saya mendapatkan partner kamar yang masya Allah juga. Dosen ASN Muda dari UIN Bandung, alumni UNPAD dan UGM. Teh Fatiyah ini sangat humble dan rela ngajarin saya jika bertanya banyak hal dijelaskan sedetail-detailnya.
Selepas acara SSN, mumpung weekend maka dijadikan kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman. Walau pertemuan singkat, berhasil membuat saya melupakan tugas sejenak haha plus mendapatkan insight baru.
Kak anti, ahmad, riri, yang selalu sedia dari mengantar dan menjemput hingga pulang.
Dilla yang sedang diamanahkan bertugas di kerawang menyempatkan diri bertemu. Bela-belain datang jauh-jauh menemani keliling hingga ke bogor, naik KRL, jalan kaki dll.. Maafkan saya yang sungguh meropatkan. Ahh, terima kasih banyak ukhti..
Intan, ASN beacukai yang meskipun sibuknya luar biasa rela menemani dan menjemput berkeliling di kota tua. Seketika membuat flashback bahas iyoin dan project peduli Indonesia.
Pume, adik yang pengalaman kerjanya di sturt up jangan ditanyakan lagi, sharing dari masalah pekerjaan, kepercayaan diri, tips trick dunia company, belajar ielts, hingga nostalgia Makassar.
Atri, pertemuan yang tak direncanakan, ASN BKN akhirnya bertemu di kota hujan, sharing soal proses seleksi asn, hingga cerita perjuangan yang menginspirasi darinya. Selamat kembali ke kota Makassar dan mengabdi disana diks..
Kak Jannah, staf DPD RI yang kisahnya dan pengalamannya selalu menjadi inspirasi buat kami sejak menjadi volunter di PI.
Kak uppi, terima kasih telah menemani kami menjajaki kuliner Makassar yang dirindukan mulai coto Makassar, jalangkote, bikandoang..
Terkadang pertemuan yang tak direncanakan memang lebih berhasil. Dan semua teman-teman yang baru dipertemukan Jazakillah khair..
Terima kasih saya ucapkan kepada Ummi yang doanya selalu mengangkasa, guru, dosen, dan siapapun yang telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Dari apa yang telah diajarkan saya menjadi terpatik untuk menulis, menulis, presentasi dan presentasi,. Semoga saya mampu mengembangkan diri lebih dari ini. Acara SSN nya masya allah, walau saya belum bisa berbuat banyak. Akhir kata, thanks SSN also thanks to Allah.
Menuju Jogja, 08 desember 2019













