Self-counseling (Part.1)..
Yosh! Selamat datang dalam tulisan keluhan Suci mengenai kehidupan semester tujuh dimana kamu sudah harus menghadapi kenyataan bahwa sebelum kamu jadi sarjana kamu musti menyelesaikan tugas akhir dulu a.k.a skripsi.
Jadi ceritanya aku sedang dalam tahap penyusunan skripsi padahal semester tujuh ini penuh dengan kesibukan tugas (atau setidaknya itu yang aku tanamkan dalam diri sebagai bentuk alasan tidak sanggup lagi skripsian). Dulu mengapa aku memutuskan ingin mengambil skripsi di semester tujuh ini adalah alasan mengenaskan yang klise dan pada akhirnya ku sesali yaitu “ingin cepat lulus”. Padahal saat itu aku juga tidak begitu yakin dengan draft skripsiku tapi dengan nekatnya aku mendaftarkannya.
Alasan lain mengapa aku (dulu) ingin sekali ambil skripsi di semester 7 adalah karena kebanyakan teman dekatku sudah pada ngambil juga. Sepertinya kebiasaan lama Suci yang tidak ingin kalah dari teman-temannya masih ada dan jiwa kompetitifnya masih tersisa. Selain itu tuntutan keluarga yang mempunyai harapan besar terhadapku juga menjadi salah satu faktor mengapa aku ingin cepat mengambil skripsi. Semua alasan inilah yang membawaku kepada ketidaksiapan secara mental dan kognitif dalam menjalani prosesnya.
Menyesal? Ya pastinya rasa penyesalan itu ada, dan sejujurnya cukup besar, tapi bukan berarti menghilangkan pembelajaran yang sudah kudapatkan sejauh ini. Hanya saja yang menjadi tekanan buatku adalah tuntutan untuk dapat menyelesaikannya secepat mungkin. Dulu di awal sebenarnya sudah diingatkan agar serius dalam menjalaninya, jika tidak lebih baik mundur. Tapi kemudian aku abaikan peringatan itu dan jujur dulu aku menganggap semua ini mudah tidak akan sesulit ini. Padahal aku sudah banyak melihat fenomena dimana kakak tingkat banyak yang masih belum lulus, dulu aku sempat menganggap remeh hal itu. Ucapan “jangan menilai sesuatu sebelum kamu merasakannya sendiri” itu nyata adanya. Rasanya benar-benar tertampar. Seolah-olah ada yang berkata di depan wajahku, “TUH RASAIN MAKANYA JANGAN SOK TAU DAN ASAL MEREMEHKAN ORANG LAIN”.
Sejujurnya ada alasan dimana aku bisa dengan mudahnya menganggap semua ini mudah. Aku selama ini terbiasa berada di posisi atas dimana aku (cukup) lebih baik daripada orang-orang seumuranku dalam hal akademik. Aku terbiasa mendapatkan peringkat teratas di kelas dan hal itu membuatku menganggap diriku “pintar” dan berada di atas orang lain, lagi-lagi ini dalam hal akademik. Selama 12 tahun aku terbiasa (sering) berada dalam posisi itu sehingga hal itu membuatku menjadi sombong dan merasa ‘tinggi’. Aku merasa diriku mempunyai kemampuan lebih dan +++ berlebih ini mengarah ke hal negatif dimana aku menjadi terlalu santai dan menganggap mudah segala hal. Terkadang rasa optimis yang berlebihan bisa mengarahkan diri menjadi “takabur”. Dan ini menjadi suatu permasalahan.
Rasa ‘takabur’ ini tidak dibarengi dengan motivasi yang tinggi, baik internal maupun eksternal. Motivasiku hilang entah kemana sehingga tiga bulan ini berlalu begitu saja tanpa progres yang signifikan. Keadaan dimana dosen pembimbing sulit ditemui dan motivasi internal yang kurang membuatku menjadi santai dan tidak serius dalam mengerjakannya. Aku selalu merasa “ah, masih ada waktu” begitu terus-menerus sehingga pada akhirnya aku menyadari bahwa waktuku sudah tidak banyak lagi.
Kemudian, disaat aku mulai serius mengerjakan, aku baru menyadari bahwa aku sangat tertinggal jauh. Aku merasa banyak yang kurang dan banyak yang harus diperbaiki. Semakin banyak aku mencari, aku semakin sadar bahwa banyak sekali celah dalam topik penelitianku. “wah sudah banyak diteliti” “masih kurang data awal” “yaah ini mah sudah jelas” “ini buat apa diteliti lagi” Banyak sekali monolog-monolog yang muncul selama pencarian ini. Semakin aku menyadari bahwa tiga bulan yang lalu aku memang tidak cukup serius dalam menjalani semua ini.
Apakah sudah terlambat? Aku meyakinkan kepada diriku bahwa tidak ada kata terlambat dalam hal ini. Tapi entah kenapa aku merasa tidak yakin. “Bagaimana jika orang-orang tidak menganggapnya demikian?” “Bagaimana kalau ternyata aku sudah mengecewakan banyak orang?” “Bagaimana jika aku tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain terhadapku?” Semua ini membuatku tertekan. Sungguh.
Sebenarnya ini memang adalah kesalahanku mengapa aku tidak serius dari awal, kemana perginya Suci yang gila akademik dulu, mengapa aku santai sekali, mengapa motivasiku menjadi hilang, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang seharusnya bisa ku jawab. Pada akhirnya menjadi kusesali.
Seperti halnya yang sudah kutulis pada tulisan-tulisanku sebelumnya, sepertinya hidup sendiri dengan minimnya motivasi dan kurangnya perencanaan membuatku menjadi terlalu menganggap remeh dan jadi berbuat seenaknya. Terlalu mementingkan kebahagiaan saat ini tanpa memikirkan akankah aku bisa mendapatkan kebahagiaan di masa depan jika terus melakukan hal ini. Aku kehilangan motivasi untuk mencapai masa depan. Terlalu fokus dengan masa kini tanpa perencanaan masa depan yang jelas. Benar adanya “mempunyai target yang jelas dapat mendorongmu untuk berusaha keras dan tidak kenal lelah”. Terbukti.
Selain kurangnya motivasi, banyaknya hal-hal yang mendistraksi juga membuatku semakin santai dan membawaku semakin menjauhi kenyataan yang ada. Waktu habis hanya untuk menikmati kesenangan sesaat, yang jika dilakukan terus-menerus akan menjadi kesenangan abadi. Akan tetapi tidak membawaku melangkah lebih jauh. Hanya menjadi diam di tempat dan menikmati semua itu tanpa memikirkan hal lainnya. Sungguh kesenangan non-konstruktif yang sangat menggoda. Aku tidak akan menyebutnya destruktif, tapi ya itu, hanya saja kesenangan ini membuatku menjadi jalan di tempat dan tidak maju-maju.
Lalu apa yang akan aku lakukan? Setelah mengetahui semua ini apa yang akan kau lakukan? Masalahnya sudah ada, faktor-faktor penyebabnya sudah cukup jelas, lalu solusi kedepannya seperti apa?
Hmm... tentukan target yang jelas? Tuliskan perencanaan yang jelas? Jangan terlalu berlarut dalam kesenangan sesaat? Cari hal-hal yang dapat meningkatkan motivasi? Bercerita dan sharing masalah dengan teman? Jangan terlalu memanjakan diri dan berleha-leha?
Ini sudah semacam self-counseling(?). Konseling pribadi dengan cara menuliskannya. Menemukan akar permasalahan sembari menulis. Ya, ini cukup membantu. Sejujurnya aku tidak merencanakan tulisan ini akan berujung kontruktif. Awalnya ini seharusnya menjadi ajang mengeluh. Tapi ternyata keluhannya ditindaklanjuti.
Tapi apakah beberapa solusi yang sudah kusadari sendiri ini bisa terlaksana? Tunggu sesi konseling selanjutnya ya. Kita akan bahas progres yang dilakukan Suci setelah selesai konseling pertama ini.
Selamat malam.
Jatinangor, 30 Oktober 2016