Kapan Sentimen Dibutuhkan?
Sering aku berlari dengan alasan tak masuk akal, bahwa itu hanya sentimen belaka.
Kesalahan, entah pengalaman buruk terjadi. Dan sudah terjadi. Yang lebih berbekas di dalam pikir ini.
Semua tentang kecewa, dan rasa yang menjadi pemicunya, pemilunya.
Bukan menyalahkan keadaan, atau mencoba menuduh kenyataan. Tapi itu yang selalu kita rasakan, dan sebabnya sama. Kita saja yang tak mau terima.
Namun di setiap sisi hidup. Kita tak bisa memungkiri bahwa sentimen lah yang menjadi pengerat hubungannya. Yang membuat kita terikat hingga akhir perjalanan kita. Bahkan, saat itu semua berakhir. Masih banyak yang ingin kita lakukan bersama, mengulang kejadiannya, atau sekedar mengingat indahnya.
Akupun pernah merasakannya, bertujuh kita mempimpin dunia. Dua diantara mereka yang paling kuat sentimennya. Kita berlima mengikuti dengan baik.
Meski ada saat-saat tangis, ada saat-saat kita menjerit, banyak juga saat kita terpuruk. Yang akhirnya menjadi tawa, nyata, saat semua sudah mendekati akhir.
Entah, apakah itu hal yang baik atau sesuatu yang pantas disesali. Setelah mempelajari kehidupan. Aku berubah pikiran.
Yang kutahu, sentimen tak akan berjalan sendirian. Kebahagiaan memang ada, canda tawa itu ada, bukan di awal. Tapi di akhir. Saat semua sudah selesai, saat kita siap tuk melangkah lebih jauh. Akhir. Untuk memulai.
Bukan berarti aku tak suka padamu. Bukan berarti aku tak ingin bercanda denganmu. Namun ada prioritas yang harus kita pikiran dahulu.
Setelah itu, sebut saja satu tempat dan kita rayakan bersama.









