Sederhana Namun Disepelekan
Ketika saya sedang mengerjakan konsep proyek untuk CerdasMulia Institute, tempat dimana saya mengaktualisasikan diri bersama anak muda yang hebat lainnya. Pagi itu saya memilih tempat yang nyaman di sekitaran rumah saya daerah kemang Jakarta. Pilihan jatuh di sebuah restoran cepat saji 24 jam, masih pagi-pagi sekali, belum banyak orang yang berkunjung, hanya segelintir orang yang dapat dihitung dengan jari.
Panas matahari mulai menghangat, sinarnya mulai naik dan waktu beranjak. Perlahan satu persatu orang-orang makin bertambah mengunjungi restoran yang terkenal dengan kata-kata kerennya I’m lovin’ it. Semua orang mulai memesan makanannya, sebagian membawanya pulang namun banyak juga akhirnya merapat dan menyantapnya di meja-meja saji untuk dinikmati.
Saya kembali fokus untuk mengerjakan tugas saya di hadapan laptop sambil sesekali melihat sekeliling untuk menyegarkan pikiran. Namun ada yang menarik dari proses sesekali berpaling ini, bagi saya ini pantas direnungkan. Bahwa manusia sejatinya memperlihatkan apa yang dipahami, di pelajari dan diyakini sebagai sebuah perilaku. Apa yang saya lihat mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak indikator bahwa kita mesti bebenah diri dan mulai dari hal yang paling kecil nan sederhana.
Saya menghitung ada 37 orang pengunjung!. Bagi saya mendapatkan pengunjung sebanyak itu dibawah pukul 8 pagi adalah sebuah presetasi bagi sebuah bisnis terlepas dari top of mind branding tersebut dan tentunya jumlah ini akan bertambah berlipat-lipat seiring waktu berjalan.
Namun yang membuat saya bertanya dalam diri “Apakah hasil yang mereka tunjukan selama ini adalah hasil dari belajar yang mereka jalani selama hidup mereka?”. Membuat saya cukup lama memperhatikan sekitar dan menunggu dengan seksama untuk memastikan kembali apa yang saya lihat adalah yang terjadi.
Saya menyapu pandangan, melirik pelan sekitaran dan memperhatikan apa yang mereka lakukan setelah mereka makan. Sudah menjadi ciri khas bagi restoran ini bahwa mereka semua menyajikan makanan di tempat ini menggunakan piring dan gelas dari Styrofoam ditambah lagi sendok, garpu, pisau dan sedotan yang terbuat dari plastik belum lagi tambahan tetek bengek kemasan kertas serta lembaran-lembaran brosur promosi menu yang begitu banyak.
Mencengangkan! dari 37 orang pada saat itu dan sepanjang saya perhatikan hanya ada 2 orang yang pada akhir setelah makannya selesai membuang sampah pada tempatnya, sisanya 35 orang tersebut meninggalkan kemasan, bungkusan, tempat makanan dan lainnya di atas meja masing-masing.
Yah betul perilaku membuang sampah pada tempat yang ingin saya ceritakan. Terlepas di restoran ini sudah ada petugas yang membersihkan sisa-sisa bekas makanan atau tidak, tetapi hal sederhana inilah yang menunjukan hasil dari apa yang kita pelajari dalam hidup kita selama ini.
Saya hanya bilang dalam diri untuk direnungi “sisa dari apa yang kita perbuat saja tak mampu kita selesaikan, pantaslah kita tak mampu berdaya” membuang sampah pada tempatnya adalah hal sederhana namun bukan hal yang sepele, sebab sering meremehkan hal yang sepele menjadi berbukit peremehen, sering meremeh temehkan yang remeh temeh hanya menjadikan kita sebagai orang yang menunda pengertian untuk mengerti.
Bahwa membuang sampah pada tempatnya adalah pekerjaan yang begitu penuh perjuangan karena ia melalui proses yang tak penah diketahui berapa lama seseorang berhasil menerapkan nilai ini menjadi sebuah karakter diri yang lekat menjadi bagian keseharian perilakunya. Bahwa karakter ini adalah pembentukan dari kesadaran dan hasilnya adalah jika ia diterapkan dengan konsisten serta bahagia dan ikhlas menjalankannya.
Perjuangan untuk membentuk sikap ini tak pernah bisa dimenangkan begitu saja, bahkan negara yang mengaku diri sebagai negara maju juga adidaya seperti Amerika pun gagal menyelesaikannya; Departemen Pendidikan Amerika Serikat pada bulan Oktober 2010 menerbitkan sebuah laporan hasil penelitian dengan Judul Efficacy of Schoolwide Programs to Promote Social & Character Development & Reduce Problem Behavior in Elementary School Children. Yang merupakan penelitian longitudinal yang dimulai sejak musim gugur 2004 dan berakhir pada musim semi 2007 ini dilakukan oleh Konsorsium Penelitian Pengembangan Karakter dan Sosial yang berasal dari The Institute Education Science dan Divisi Pencegahan Kekerasan The National Center for Injury Prevention and Control, Center for Disease Control and Prevention (CDC). Yang dimana penelitian ini melibatkan 6600 siswa kelas 3 SD di awal studi dan berjumlah 6200 siswa di akhir studi saat mereka kelas 5 SD.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi 7 program pengembangan karakter dan sosial berbasis sekolah yang bersifat universal dan dirancang untuk membantu sekolah mengembangkan perilaku positif murid (misalnya perilaku yang menggambarkan karakter baik(salah satunya perilaku untuk membuang sampah) dan kompetensi sosial-emosional), mengurangi perilaku negatif murid dan tujuan akhirnya memperbaiki prestasi akademik murid sekolah dasar.
Hasilnya: tidak ditemukan bukti bahwa ke-7 program mampu memperbaiki kompetensi sosial dan perkembangan karakter siswa sekolah dasar
Lihat! Betapa Negara maju seperti Amerika Serikat gagal dalam membuat seseorang menjadi lebih baik. Kita tahu bahwa AS pastinya telah menggunakan segala macam pendekatan metodologi penelitian yang terkini serta teknologi psikometrik yang canggih untuk membantu mendidik orang-orang disana, namun tetap saja belum berhasil dan ini semakin menegaskan secara garis bawah dengan tinta hitam tebal: ini tak lagi menjadi hal yang sepele.
Pekerjaan sepele jika dipandang sepele hasilnya adalah tetap sepele, pekerjaan sederhana namun dilaksakana dengan tanggung jawab yang besar maka tingkat kebernilaiannya menjadi sangat besar. Bukan lagi tentang membuang sampah tetapi tentang pekerjaan yang kita dasari dengan rasa bertanggung jawab.
Apa yang saya tulis disini merupakan hal yang sederhana namun marilah kita kemas dalam tanggung jawab yang besar dan pengakuan sadar bahwa hal seperti membuang sampah pada tempatnya merupakan hal yang patut untuk diperjuangkan. Pikirkanlah masa depan, sampah menggunung jika tak diselesaikan akan mengakibatkan kegagalan dimensi yang lain secara sosial, menumbuhkan kriminalitas, kesehatan yang rawan, ekonomi carut marut; hanya karena sampah (pembahasan selanjutnya saya akan bahas hubungannya) dan secara individu dampaknya adalah kita kehilangan kepekaan, sederhananya kita berarti tak mempelajari apapun selama ini.
Salam
Maradhika Malawa
Founder CerdasMulia Institute
*Jika tulisan ini menginspirasi dan bermanfaat, mohon untuk disebarkan, share is caring
Ingin ngobrol dan sharing dengan saya follow akun twitter @dhikamalawa