Setelah Mati, Aku Akan Mendaftar Ulang ke Kehidupan
Di sebuah gedung berwarna abu-abu pucat, di antara antrean orang-orang yang menunggu dengan wajah kosong, aku berdiri di depan loket kaca. Entah namaku masih berlaku atau tidak. Kuisi formulirnya dengan tangan yang gemetar, pena pun terasa lebih berat dari yang seharusnya.
"Tujuan kedatangan?" tanya petugas berseragam biru tua. Wajahnya datar, seolah sudah terlalu sering melihat orang-orang seperti ini.
"Saya ingin kembali hidup," jawabku lirih.
Petugas mengangguk, mengetik sesuatu di komputer yang bunyinya seperti gerigi tua yang aus. Pendaftaran Ulang ke Kehidupan, begitulah tertulis di papan besi di atas kepala mereka. Layanan ini disediakan untuk mereka yang jiwanya sudah lelah, yang pernah percaya terlalu kuat, lalu jatuh terlalu dalam.
"Formulir ini harus diisi dengan jujur. Kami perlu tahu apakah Anda masih punya keinginan untuk merasa," ujar petugas, menyodorkan selembar kertas panjang.
• Apakah Anda masih ingin merasakan kebahagiaan? (Ya/Tidak/Bisa Tapi Takut)
• Apakah Anda siap menghadapi kekecewaan lagi? (Ya/Tidak/Bisakah Dihindari?)
• Apakah Anda ingin memiliki harapan kembali? (Ya/Tidak/Hanya Kalau Dijamin Tidak Sakit)
Aku terdiam. Pena di tanganku tak bergerak. Dulu, aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini dengan penuh semangat. Dulu, aku percaya bahwa hidup selalu bisa diperbaiki. Tapi sekarang? Sekarang aku hanya ingin tahu: jika aku menandatangani formulir ini, apakah itu berarti aku harus kembali mengulang semuanya?
"Kalau saya tidak mengisi ini?" tanyaku pelan.
Petugas menatapku sebentar, lalu menarik napas panjang. "Maka Anda boleh kembali dan menjalani mati Anda sebagaimana sebelumnya."
Aku menunduk. Jawaban petugas dan kertas di hadapanku lebih terasa seperti vonis, bukan pilihan. Aku bisa saja berjalan keluar dari sini, menjalani mati yang kualami seperti tahun-tahun sebelumnya. Dengan kosong, tanpa harapan, tanpa luka baru. Tapi apa gunanya?
Perlahan, kucoret satu jawaban. Lalu satu lagi. Sampai akhirnya formulir itu penuh dengan tulisan tanganku sendiri—tanda bahwa meski takut, aku masih memilih untuk mencoba.
Petugas mengambil formulir itu, membaca sekilas, lalu mengembalikan formulir itu padaku setelah menekan stempel di sudut bawahnya. Formulir asli. Bukan salinan. Ia bahkan tidak membuat salinan.
"Selamat, pendaftaran Anda diterima. Anda boleh hidup kembali."
Suaranya terdengar biasa saja. Seolah ini bukan sesuatu yang besar. Seolah ini bukan keputusan yang akan mengubah segalanya.
Kugenggam kertas itu erat-erat, lalu melangkah keluar dari gedung, kembali ke dunia yang dulu pernah mengecewakanku. Langit di atas sana masih kelabu, angin masih dingin. Tapi entah bagaimana, langkahku terasa sedikit lebih nyata.
Rencana selanjutnya? Sementara aku akan mengalir dengan apa yang datang. Mungkin itu yang terbaik—menghadapi setiap momen, tanpa beban terlalu jauh ke depan.