“Sinta.” Aku terus memanggil namanya. Lirih. Tak terdengar aku kira. Sedang Sinta tak bergeming. Bahkan kelopak matanya tak bergerak.
Dia perempuan yang lincah. Tak pernah satu agenda terlewatkan olehnya. Terutama saat berkaitan dengan kebudayaan dan sejarah. Sinta adalah perempuan yang membanggakan. Terlalu luar biasa untuk perempuan seumur dia. Dia memang masih muda. Tapi, prestasinya cukup membuat setengah kamar nya penuh dengan tanda kemenangan.
Tapi sekarang, Sinta diam. Hanya suara detik jam yang terus berputar. Suara itu bersanding dengan suara jantung Sinta. Aku terus menggenggam tangan Sinta erat. “Bangun Sinta. Aku sudah di sini. Aku sudah menjadi imam mu sekarang. Ingin mu sudah terpenuhi. Ayo bangun.”
Tangan Sinta bergerak pelan. Aku lalu bangkit. “Dokter!” aku berteriak sambil menekan tombol panggil. Dengan tergopoh, dokter pun segera memeriksa Sinta. Mata Sinta masih terpejam. “Reaksi biasa. Tidak berpengaruh apa-apa,” kata Dokter Raksa yang seketika membuatku kecewa. “Ya Dok. Terimakasih,” sahutku.
Aku kembali terduduk. Tersedu. Sinta adalah sahabatku. Aku memutuskan untuk menikahinya 2 bulan lalu. Sebulan setelah Sinta jatuh koma. Bukan karena kasihan. Tapi justru saat Sinta tak sadarkan diri itu lah semua rahasia tentang nya terungkap.
Sahabat Sinta bercerita bahwa Sinta sudah tertarik denganku sejak awal bertemu. Tapi Sinta begitu rapi dan pandai menyembunyikan rasa itu. Bahkan ia lebih suka menempatkan diri sebagai sahabatku. Bahkan aku pun tidak pernah sadar tentang hal itu. Karena Sinta sangat tulus berperan sebagai sahabatku. Ia perempuan luar biasa. Sinta yang selalu menguatkan aku saat masalah meneriaki ku untuk diselesaikan. Bahkan aku tak canggung bercerita dengannya saat aku mencintai seorang perempuan. Sinta begitu rapi menyimpan perasaannya.
Hingga waktu itu datang. Sinta hendak menemui ku setelah aku menghubunginya. Aku memang meneleponnya waktu itu. Karena waktu itu aku ingin meminta bantuannya. Sinta menabrak truk hingga koma seperti sekarang.
Aku benar-benar menyesal saat itu. Memang saat itu aku bilang ke Sinta urusan saat itu sangat penting. Hingga ia harus memacu kendaraannya lebih cepat.
Aku menghela nafas. Adzan berkumandang tepat saat alat medis yang terhubung dengan jantung Sinta berdetak makin cepat. Itu berarti jantung Sinta pun berdetak kencang.
Dokter kembali masuk dan memintaku keluar. Aku terus menunduk. Berdoa sekuat tenaga. Tak lama, dr Raksa keluar dan membuatku kembali tertunduk. Sinta meninggalkan ku. Tanpa sempat aku menunjukkan sayangku. Tanpa sempat aku lakukan kewajiban ku. Bahkan Sinta mungkin tak pernah sadar bahwa ia sudah menjadi permaisuri ku. Aku tertunduk mendekap lutut. Usai sudah cerita ini. Cerita yang amat terlambat dimulai.
Cerita yang sungguh absurd. Hadir tiba-tiba karena terbentur deadline.
@pradetahappynw Selamat malam untuk kamu. Kamu yang senantiasa mengisi doaku. Tunggu aku di kota itu☺