Tulisan ini adalah tugas esai mata kuliah penyutradaraan II di semester 3 saya kuliah di FFTV IKJ. Intinya kita disuruh menjelaskan seperti apa sutradara yang ideal di mata kita.
Steven Spielberg mengatakan: Aku bermimpi untuk hidup.
Bagi saya, semua pembuat film adalah anak-anak yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Karena, semua pembuat film adalah pemimpi, terutama sutradara. Seorang sutradara harus menjadi seorang pemimpi yang paling ulung diantara pemimpi-pemimpi yang terlibat dalam suatu film. Mengapa pemimpi? Karena pemimpi adalah orang yang memiliki rencana dan bayangan yang jelas atas apa yang Ia inginkan, pemimpi adalah orang yang tidak berhenti berangan dan selalu berpikiran positif, begitulah seharusnya seorang sutradara. Sutradara akan memiliki mimpinya sendiri setelah Ia membaca skenario, mengajak pemimpi lain untuk mewujudkan mimpi miliknya adalah tugas sutradara berikutnya.
Untuk mewujudkan mimpinya seorang sutradara harus menjadi orang yang giat bekerja, Ia harus mampu melihat segala kemungkinan kapanpun dan dimanapun. Ia harus bisa memanfaatkan kesempatan kecil sebagai pijakan untuk membuat sesuatu yang besar. Sutradara harus menjadi seperti cinta bagi orang yang sedang dimabuk asmara, seburuk apapun orang yang Ia cintai rasanya akan tetap indah, seminim apapun resource yang Ia miliki, Ia harus tetap bisa mewujudkan mimpinya menjadi sesuatu yang indah dan bermakna.
Tugas sutradara tidak berhenti hanya di bermimpi dan mengajak, Ia juga harus mampu untuk mempersatukan kepala-kepala krunya menjadi sebuah harmoni, tidak hanya untuk mewujudkan mimpinya atas skenario yang telah dibaca, namun juga mewujudkan mimpi dan persepsi setiap orang atas skenario menjadi sesuatu yang utuh. Sutradara harus bisa menerima dengan terbuka semua pendapat yang disampaikan oleh krunya, dan salah satu hal yang paling penting adalah bukan hanya menyampaikan keinginannya secara jelas, Ia harus tau cara mewujudkan keinginannya tersebut, minimal memiliki pemahaman bahwa apa yang Ia inginkan dapat dilakukan, sehingga tidak membebani orang-orang yang bertugas untuk mewujudkan keinginannya. Ketika mereka berpendapat bahwa keinginannya mustahil untuk dilakukan, sutradara harus mampu memberi petunjuk atau pengertian mengapa Ia berpikir bahwa keinginannya bisa diwujudkan dan bagaimana cara mewujudkannya, apabila Ia sendiri saja tidak tahu bagaimana cara mewujudkan keinginannya, bagaimana orang lain bisa membantu mewujudkan keinginannya?
Sutradara juga harus menjadi seperti bunglon, Ia harus bisa beradaptasi dengan orang-orang yang bekerja sama dengannya, terutama aktor dan aktris yang Ia arahkan. Ia harus bisa memahami kondisi psikologis dari aktor, aktris dan seluruh kru yang bekerja dengannya, pemahaman kondisi psikologis itu menjadi dasar bagi seorang sutradara untuk menentukan metode seperti apa yang akan Ia gunakan untuk mengarahkan pemain-pemainnya, membuat sutradara mengerti apa yang harus Ia lakukan untuk menjaga mood orang-orang yang bekerja dengannya, dan menjadi acuan untuk sutradara menempatkan diri, kapan Ia harus menjadi seorang pemimpin yang tegas, dan kapan Ia harus menjadi seorang ayah yang mengayomi. Hal ini menjadi penting karena sutradara adalah orang yang memiliki kendali atas ritme dan metode bekerja dalam proses kreatif suatu film.
Sutradara yang baik tidak hanya mampu mengarahkan kru dan pemain, Ia juga harus mampu mengarahkan penonton untuk menangkap maksudnya di dalam karya yang Ia buat. Untuk mewujudkan hal itu, sutradara harus memahami semua aspek kreatif yang ada dalam film, Ia juga harus pandai untuk menempatkan dirinya pada posisi penonton, ada kalanya Ia harus berpikir apabila Ia dipertontonkan karya yang Ia buat, apa reaksinya.
Seorang sutradara juga harus memahami bahwa setiap pembuatan film pasti memiliki keterbatasan, dari segi biaya, durasi film, panjangnya waktu kerja, dan banyak hal lainnya. Namun, sutradara yang baik tidak menjadi bingung ketika Ia dihadapkan kepada keterbatasan-keterbatasan tersebut, Ia harus bisa mencari cela untuk mengatasi keterbatasan yang Ia hadapi, bahkan menjadikan hal tersebut sebagai ajang pembuktian, bahwa dengan segala keterbatasan Ia masih mampu untuk membuat sebuah karya.
Jadi, bagi saya seorang sutradara yang ideal adalah seorang pemimpi yang rasional. Seorang pemimpi yang tidak kenal lelah untuk mewujudkan impiannya, namun dapat dengan bijaksana mengambil keputusan apabila ada bagian dari mimpinya yang tidak dapat diwujudkan, dan dengan ulet mencari cara untuk mewujudkan mimpinya di antara segala keterbatasan yang ada. Sutradara adalah seorang pemimpin yang mengarahkan segala perbedaan semua kru nya menjadi sesuatu yang harmoni dan utuh. Jadi sutradara adalah seorang pemimpi dan pemimpin.
Feel free to use this as reference. but please credit me, writing this is not easy for me.