seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from France
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from Yemen

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Sweden

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Finland

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
Since '98. #smasa (at HUGO Grillery)
Hai, Acara. Aku rindu pada setiap keseriusan kalian. Aku rindu pada kegilaan yang meledak akibat titik jenuh itu mencapai puncaknya. Aku rindu kalian.
Might be the size of a boat but so damn sexy! #smasa #chevrolet #impala
Dari sekian banyak pilihan mengapa kau pilih dengannya ~ #weareone #smasa #smasareborn #smasareborn2k15 #pewegaskin #pasuruanhits #pasuruancetar #mahasiswamalang (di GOR Untung Suropati)
Diklat KIR (2) ; Apa Arti Sekolah?
KIR SMASA, Generasi Platinum!
Nggak terasa, sudah setahun berjalan sejak diklat KIR pertama yang aku ikuti. Kunjungan terlaksana, Spectrum pun terjual. Meski bukan menjadi bagian yang penting, aku merasa ikut berbahagia. Masa bakti anggota KIR periode 2014-2015 sudah berakhir, dan waktunya anggota KIR periode 2015-2016 mengambil alih.
Selama setahun mengikuti KIR, meski absenku juga bolong-bolong, aku jadi tahu dan belajar banyak hal. Mengenai artikel, cerpen, KTI, manipulasi simpel dari sebuah foto pas, teknik dan ilmu jurnalistik, belajar tanggung jawab, juga memenuhi deadline sampai lembur dua hari. Dari sini juga, berkat pesan-pesan Kak Thifa, aku belajar mencintai novel-novel Indonesia kelas atas--dan sekarang merambah ke lagu-lagu Indonesia juga.
Sama seperti tahun lalu, diklat diadakan hari Sabtu-Minggu dan bertempat di sekolah. Bedanya, kalau dulu kami yang didiklat, sekarang kami yang menjadi panitia diklat. Susah seru senang, campur menjadi satu. Aku merasakan kebahagiaan yang tidak bisa kudapatkan di dalam kelas ketika kegiatan belajar berlangsung. Dari kegiatan-kegiatan berorganisasi serupa yang pernah kuikuti, aku jadi tahu mengapa beberapa anak menjadi candu terhadap kegiatan-kegiatan seperti ini, bahkan tak sedikit yang sampai tak terlalu memedulikan PR dan tugas sekolahnya.
Dalam kegiatan-kegiatan seperti ini, kita diajarkan mengenai tanggung jawab, toleransi, dan kerja sama. Aku yakin kalian sudah cukup besar untuk bisa menemukan perbedaannya dengan pelajaran di kelas. Benar. Meski aku masih sangat buta untuk berjalan di area politik, pendidikan, sosial budaya, dan cabang-cabang ilmu lain yang memerlukan kekritisan pikiran, aku setuju terhadap salah satu pernyataan dalam sebuah buku yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia sekarang ini adalah pendidikan kapitalis.
Sebelumnya mohon maaf, ya ... Di sini aku hanya ingin mengutarakan sepotong pemikiranku. Jadi, Teman, correct me if I’m wrong.
Siapa sih yang tidak tahu makna dari kapitalis? Kalau di ekonomi, yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Lalu, bagaimana kalau di dunia pendidikan?
Intinya, kapitalis berarti berdiri sendiri-sendiri. Lewat LKTI yang baru kuikuti bersama Cherry juga, aku mulai berpikir mengenai hal ini. Bagaimana, sih, sistem pendidikan di sekolah kalian? Apa kalian secara bebas dan ‘resmi’ diizinkan menyalin jawaban teman dengan dua pengawas ujian yang sedang mengamati? Apa kalian pernah mendapat kata ‘boleh’ untuk pertanyaan bilamana jawaban PR kalian sama persis dengan teman kalian?
Aku yakin semuanya akan menjawab tidak. Intinya, pendidikan di sekolah meminta kita untuk mengerjakan semuanya secara mandiri. Mandiri, atau malah menjadi individualis? Apalagi ditambah dengan adanya passing grade. Kadang-kadang, hal itulah yang membentuk siswa menjadi egois, menjadikan mereka berprinsip pokoknya nilai bagus, bukan pokoknya nilai jujur. Sebagian juga--yang terlalu berorientasi pada sekolah--malah menjadi memiliki ambisi yang terlalu tinggi, hingga menghalalkan segala cara, juga merebut kesempatan belajar yang dimiliki orang lain.
Lalu, bisakah aku membuat kesimpulan bahwa sekolah hanya mengedepankan IQ tanpa diiringi EQ--bahkan SQ?
Lalu, apa arti kita sekolah TK 2 tahun, SD 6 tahun, dan sekolah menengah 6 tahun? Hanya untuk menjadi seseorang yang saling menyikut teman sekelasnya sendiri untuk mendapatkan nilai tertinggi?
Rasanya terlalu egois mencampur-adukkan antara post mengenai diklat KIR dan opini pribadi. Tapi berangkat dari diklat inilah pemikiranku muncul ke permukaan. Apalagi ketika Fauzan--ketua KIR periode baru--mengutarakan pengantar singkat yang menyatakan bahwa: “dalam KIR kita menggunakan bahasa jiwa dan hati, bukan bahasa pikiran”, pemikiran tersebut makin menguat karena kalimat Fauzan benar-benar menohok hati.
Baik. Kita hentikan sampai di sini saja sebelum opiniku menyebar ke mana-mana. Kita semua mau tak mau harus mengikuti alur pendidikan saat ini, sambil melatih EQ dan SQ, untuk kemudian menduduki posisi yang memegang peranan penting untuk membuat sebuah reformasi pendidikan. Karena pepatah itu kadang-kadang ada benarnya juga: memangnya orang yang tak mempunyai apa-apa bisa melakukan apa-apa?
Oke. Cukup demikian. Kirim inbox ya, kalau ingin menyanggah atau sekedar ingin berdiskusi ringan denganku, akan kuterima dengan senang. Kalau KIR periode 2014-2015 adalah Generasi Platinum, maka yang sekarang bukanlah Generasi Gold maupun Silver, melainkan Generasi Uranium yang sekali dipicu akan langsung meledak! (--Fauzan)
Pasuruan, 6 September 2015.
Keluarga "Putih Abu-abu" ‼️🎉❤️ #buber #SMASA #rongewurolas (at SMA Negeri 1 Probolinggo)