Sekali lagi, tulisan ini seharusnya saya buat di bulan November lalu. Namun berhubung ada satu-dua keadaan, ditambah dengan kejadian hilangnya laptop, butuh waktu bagi saya untuk memulai kembali menulis di sini.
Di antara hal yang ingin saya biasakan dalam setiap tahunnya ialah mencoba merefleksikan kegiatan literasi saya. Sejak memutuskan untuk menjadikan literasi sebagai hobi, saya merasa perlu untuk membuat satu-dua tulisan berkenaan dengannya. Utamanya untuk melihat seberapa jauh saya menikmati hobi ini, dan seberapa bermanfaatnya hobi ini.
Menginjak tahun ke dua puluh dua saya diberi kesempatan untuk hidup, ketertarikan saya ke buku juga semakin dalam. Kondisi ini ditambah dengan lingkungan asrama yang memang mendukungnya. Coba saja, jika kalian menyempatkan untuk mampir ke Bentala, maka pemandangan yang pertama kali tersuguhkan adalah jajaran buku yang memenuhi dinding-dindingnya. Tak hanya secara fisik, seringkali, obrolan-obrolan yang menghiasi ruang asrama ini tak bisa lepas dari buku-buku itu. Maka tak heran, kami semua mau tidak mau menjadi dekat dengan dunia literasi.
Di tahun ini pula, secara kuantitas, koleksi buku saya meningkat dengan peningkatan yang lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Dari 162 buku yang saya miliki per 14 November 2019, meningkat menjadi 236 buku per 14 November 2020. Artinya, terjadi penambahan sebanyak 74 buku di jarak selama satu tahun tersebut. Angka tersebut lebih banyak daripada tahun sebelumnya yang “hanya” mengalami peningkatan sebesar 57 buku dalam setahun. Namun meskipun mengalami peningkatan, saya belum bisa berpuas diri. Saya teringat dengan perbincangan suatu ketika dengan Ustadz Anton di asrama mengenai koleksi buku yang beliau miliki. Beliau memperkirakan, koleksinya ada di kisaran 2000 buku, yang berarti koleksi saya sekarang kurang dari 15% dari total yang beliau miliki. Padahal, umur kami tidak begitu terpaut jauh, hanya sekitar 10 tahun. Artinya, jika 10 tahun ke depan penambahan koleksi buku saya diasumsikan ada di angka 100 buku per tahun, maka angkanya masih jauh dari jumlah yang beliau miliki di umur yang sama. Sehingga di titik ini saya merasa sedikit menyesal karena terlambat terjun ke dunia perbukuan.
Berkaitan dengan jenis buku yang saya beli, saya mencoba untuk menjadi semakin selektif dalam memilih buku. Pasalnya sederhana, keterbatasan anggaran ditambah dengan keperluan studi yang semakin mengerucut membuat saya mulai memilah-milah mana buku yang perlu saya beli dan mana yang tidak. Buku-buku seperti novel misteri mulai jarang saya beli, utamanya karena buku tipe ini jarang saya baca ulang (bahkan terakhir, saya memutuskan untuk menjual beberapa di antaranya). Sebagai gantinya, saya mulai mencoba menjajal novel dengan sastra khas Indonesia. Alasannya sederhana, keinginan saya untuk mengambil “rasa” dalam menulis bisa saya temukan di novel-novel tersebut. Kalau pun ada novel terjemahan yang saya beli, itu karena memang nilai yang terkandung di dalam novelnya lah yang ingin saya cari, bukan karena kesenangan semata.
Selain pergeseran jenis novel, semakin ke sini saya juga mencoba untuk memfokuskan koleksi buku saya ke tema-tema yang menjadi fokus studi saya ke depan. Sains, utamanya relasinya dengan agama menjadi prioritas tertinggi dari buku-buku yang ingin saya miliki. Tak lupa buku-buku sains populer terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) juga menjadi incaran. Hal ini tidak terlepas dengan kepentingan saya untuk membaca pemikiran sains yang tumbuh di masyarakat umum, mengingat KPG lah yang memimpin wacana sains saat ini --terlepas dari ketidaksetujuan saya terhadap nilai-nilai yang ada di buku terbitannya. Dengan fokus ini, saya berharap ke depannya untuk mampu berkontribusi secara total di wilayah keilmuan yang saya geluti, yakni sains.
Walhasil, atas segala perjalanan literasi saya selama setahun ini, perlu rasanya saya ucapkan alhamdulillaah, rasa syukur yang amat dalam atas segala kesempatan untuk bergelut di dunia yang sarat ilmu ini. Tinggal bagaimana konsistensi serta produktivitas dalam menghasilkan karya yang perlu ditingkatkan ke depannya. Semoga kita semua senantiasa diberikan semangat untuk belajar dan tak pernah lelah untuk mencari ilmu. Aamiin
nb: daftar koleksi buku saya dapat diakses di sini.
Yogyakarta, 29 Januari 2021
Dan Yusuf, mari kembali serius
Iya, akhir-akhir ini aku sangat gila akan stationery. Dimulai dari kegabutan yang berujung pada keasyikan menonton video stationey haul dan kawan-kawan di yutub. Ditambah lagi dengan adanya shopee yang mempermudah belanja online dan promo=promo gratis ongkirnya, semakin menjadi-jadilah kegilaan ini. Selain itu juga keadaanku yang sudah mulai mempunyai penghasilan tetap juga membuatku semakin seenak jidat menghabiskan uang untuk kegilaan ini. Memang dari dulu ga jago menabung, kalau ada duit bawaannya mau langsung dihabiskan :)
Itu semua koleksi stationery yang berhasil aku kumpulkan selama setahun belakangan ini. Yang awalnya hanya ketertarikan pada brush pen dan peralatan handlettering lainnya, kemudian merambah ke berbagai jenis washi tape, sticker, dan sticky notes dikarenakan sering menonton video journaling meskipun sampai sekarang itu barang-barangnya belom banyak yang terpakai ha ha ha
Berbagai macam pena, spidol, dan kawan-kawan
Haul-ku ini dimulai dari keinginan untuk belajar handlettering sehingga berbagai jenis brushpen pun aku coba beli dan tes sendiri. Mulai dari tombow dual brush pen, koi sakura brush pen, artline stix, artline supreme, fudebiyori brush pen, lyra dual brush pen, snowman brush pen, snained sharpie, tombow fudenosuke brush pen dan pentel touch brushpen. Selain brush pen, aku jua membeli berbagai jenis fine liner pen, markers, dan highliters. Untuk belajar watercoloring, aku punya sakura koi watercolor hibahan dari Vera ehe. Aku juga beli stationery lain seperti correction tape, glue tape, hekter, clip, dan lain-lain.
Berbagai macam washi tapes
Istg I obsessed with washi tape sahdjsdhfmsdfsf I had more than 100 washi tapes already can u believe it? Ahahahahaha ini dibeli buat koleksi aja kayaknya karna setiap mau pake bawaannya ga rela aja takut ntar washi tape nya abis padahal ya kalau abis kan karna dipake juga kan ya masa’ buat dipajang doang gitu.
Berbagai macam stickers
Itu stikernya berbagai jenis dan bahannya mulai dari sticker flakes yang udah dipotong kecil-kecil itu dampai dengan sticker lembaran yang kita comot pas mau digunakan. Baha stikernya juga berbagai macam ada yang plastik biasa, kertas glossy, kertas doff, dan kertas washi.
Berbagai macam sticky notes
Sticky notes ini juga berbagai jenis ada yan biasa, ada yang bergambar, ada yang mini juga dan ada juga sticky notes yang berisi weekly planner. Kualitas kertasnya pun berbeda-beda ada yang kertasnya tebal ada juga yang tipis yaaa harga ga bisa bohong lah ya kalau soal ini.
Ya kira-kira begitulah hasil belanjaanku beberapa waktu ini hhhhhhhh padahal gatau mau dipake kapan tapi tetep aja rajin banget belinya. Dari dulu emang bawaannya suka koleksi sesuatu mulu gaabis-abis ini hobi, bedanya cuman apa yang dikoleksi aja.
jual komik bekas, kondisi masih bagus, komik koleksian kolektor , harga @10ribu saja, :D , bisa cod jogja, luar jogja bisa transfer ^^ hubungi ig di atas atau ig: @ajriana13