Tulisan ini dapat dibaca secara acak karena angka bukan penanda urutan. Kamu bisa mulai di sana, lanjut dengan di mana-mana, dan berakhir di sini. Atau, tentu saja kita bisa mulai di mana-mana, lalu berakhir di sana. Di sini tidak dibaca pun tak apa. Pada akhirnya, 1, 2, atau 3 tidak akan berarti apa-apa. Mereka hanya angka. Seperti hari, sudah hari keberapa kita begini? Tidak tahu. Dan tidak penting lagi.
Sudah sebulan lebih sepuluh hari saya kembali ke Amsterdam setelah sebelumnya berada di Pulau Madura untuk riset lapangan. Sebuah keputusan yang cepat, tidak mudah tapi juga tidak gegabah, dan tentu saja penuh pertimbangan. Enam bulan riset lapangan yang sudah saya jalani ternyata harus ditunda entah sampai kapan. Berganti dengan studi literatur, menulis, dan berdiskusi daring dengan kolega juga promotor. Selama hampir lima minggu itu pula saya berada di studio kami dengan segala keamanan, kenyamanan, dan privilese yang menempel.
Sibuk, banyak yang harus dikerjakan, tapi juga membosankan. Tanpa ke kantor, perpustakaan, toko buku, maupun kedai kopi untuk sekadar melamun dan membaca blurb buku membuat saya minim inspirasi. Lima minggu berjalan cepat dan sepertinya saya belum melakukan apa-apa selain menemukan fakta-fakta kecil tentang diri sendiri, dan juga sekitar (meski “sekitar” adalah tolok ukur yang pantas dipertanyakan karena imbauan jaga jarak harus dipatuhi).
Dari sekian banyak fakta tersebut, di antaranya, pertama, ternyata pertemuan-pertemuan daring membuat saya nyaman terlihat tanpa make up. Polos, cukup modal sisiran. Meski make up bagi saya sebenarnya hanya pewarna alis dan bibir, tapi ternyata saya merasa baik-baik saja tanpa keduanya, entah karena malas atau saya menemukan konsep presentasi diri yang baru.
Kedua, melalui seorang kawan perempuan berkebangsaan Belanda yang sedang menempuh studi master dan tinggal di rumah komunal bersama mahasiswa yang lain, saya belajar istilah “panda points” (poin panda). Poin panda merujuk pada jumlah bulan yang Anda lewati tanpa berhubungan seksual. Setiap bulan yang terlewati tanpa berhubungan seksual akan menambah poin panda seseorang dan siapa pun yang mendapatkan poin panda tertinggi maka pantas mendapat julukan Panda of the Year. Poin panda harusnya meningkat pada bulan-bulan pandemi, tapi yang terjadi di rumah komunal para mahasiswa tersebut justru kebalikannya. Tidak ada panda yang tersisa untuk tahun ini karena, dengan ditiadakannya kelas tatap muka semester ini, pasangan-pasangan para penghuni rumah rutin berkunjung.
Ketiga, mengetahui kondisi orang lain yang terdampak pandemi, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun sosial, ternyata selalu diikuti dengan perasaan marah terhadap sistem (politik) yang ada.
Keempat, ternyata kemarahan tersebut langsung diikuti oleh perasaan sedih dan putus asa karena merasa tidak (bisa) banyak melakukan apa-apa.
Kelima, sulit sekali memikirkan dampak pandemi pada masyarakat yang lebih rentan tanpa merasa marah dan kecewa pada diri sendiri karena merasa tidak memanfaatkan privilese dengan baik. Kurang berkontribusi, kurang produktif, dan kurang memanfaatkan waktu yang (katanya dan semestinya menjadi lebih) banyak karena kita diharuskan berkegiatan dari rumah. Mungkin benar, kita bisa bersembunyi dari kerumunan. Tapi, kita tidak bisa lari dari kemuraman.
Keenam, suara ambulans yang terdengar nyaring dari jendela menjadi terdengar lebih menyebalkan dari biasanya.
Asas resiprositas dan modal sosial. Dalam sebuah diskusi daring mengenai pangan dan kemiskinan rakyat dalam konteks krisis masa pandemi yang diadakan oleh salah satu lembaga studi perintis studi agraria di Indonesia, beberapa pembicara sering sekali kedapatan mengulang kedua kata tersebut. “Absennya negara membuat anggota masyarakat dirawat tetangganya masing-masing,” begitu salah satu pembicara berujar. Tentu saja ini menjadi pernyataan menyakitkan yang membuat saya bertanya: benarkah?
Setiap tiga hari sekali, saya punya jadwal mengobrol dengan Hayatun, seorang kawan dekat yang tinggal di desa tempat saya melakukan penelitian untuk studi doktoral. Desa tersebut terletak di sebelah timur Pulau Madura dengan garis pantai sepanjang 2,32 kilometer. Berdasarkan identifikasi keadaan geografis, desa tersebut termasuk desa pesisir, meski memiliki satu dusun yang, berdasarkan pemahaman penduduk, letaknya di “gunung.”
Kami sering bertukar kabar tentang saya dan suami, tentang Hayatun dan ibunya, tentang musim panen, tentang nelayan yang pindah ke utara karena musim kemarau, juga tentang usaha pembuatan genting milik ibunya yang berhenti karena tidak ada pesanan. Tapi, selalu ada korona dalam setiap obrolan kami. “Kamu takut korona nggak, Tun?” entah kenapa saya bertanya begitu. Tentu saja semua orang takut korona, lebih tepatnya takut mati karena korona. Paling tidak saya pikir begitu.
“Nggak sih, Mbak. Aku nggak takut. Mbak emang takut?” Ya saya takut. Akhir-akhir ini, saya takut akan banyak hal. Tapi percuma juga cerita ke Hayatun kenapa saya takut dan hal-hal apa saja yang membuat saya takut. Saya mencoba mengalihkan pembicaraan, “Tun, di desa ada yang berubah nggak karena korona?”
Hayatun diam di ujung sana. Sepertinya berpikir. “Apa ya, Mbak? Nggak banyak sih. Masjid-masjid disemprot aja paling. Orang-orang masih salat tarawih berjamaah. Buka puasa bersama masih ada, tapi orangnya dibatasin.”
“Dibatasin gimana maksudnya, Tun?” saya penasaran. “Nggak jelas juga sih, Mbak. Katanya kalebun (kepala desa) nggak boleh kumpul-kumpul. Tapi aku nggak ngerti juga gimana (aparat desa) ngawasinnya. Wong ini banyak yang pulang dari Jakarta pada pol-kompol, lama nggak ketemu.” Jantung saya seperti melorot sampai ke perut. Mules. Saya diam, masih mencerna. Akhirnya, saya hanya bisa bilang, “Oh gitu ya, Tun….” Lalu hening kembali. Di ujung telepon, Hayatun melanjutkan, “Iya, Mbak. Di Jakarta itu toko-toko pada tutup. Jadi, mereka pulang ke sini. Daripada susah makan, Mbak, katanya.”
Mencoba menanggapi dengan sisa-sisa tenaga yang ada, “Kalau di sana, makanan aman ya, Tun? Beras, ikan, gitu?” Hayatun menanggapi dengan cepat dan ceria, “Ya aman, Mbak, wong sawahnya dekat, lautnya dekat. Orang sini kan abis panen, ngeslep (menggiling) gabah sendiri terus berasnya dimasukin karung buat simpanan.”
Aku diam, ingin rasanya berdiskusi jauh soal kerentanan pangan dan implikasi panjang akibat korona, tapi rasanya bukan di sini tempatnya. Di ujung sana, Hayatun masih bercerita soal sekarung jagung dari Ibu Zaitun yang dikirim untuk ibunya.
Gara-gara pagebluk korona, rasanya banyak yang ingin dituliskan, dibicarakan, dan dibagikan. Tapi, di sisi yang lain, rasanya semakin sulit melakukan itu semua karena terlalu banyak mengonsumsi informasi yang menguras emosi. Suatu waktu, saat saya sedang berdiskusi dengan seorang rekan di kampus, Dreano, kami berdua sampai pada satu kesimpulan bahwa ada “different temporality” atau dua jenis spatiotemporal berbeda yang sedang terjadi pada masa krisis ini.
Sebelum kita tersesat dalam istilah rumit kepakaran yang sombong, mari kita lihat apa yang dimaksud dengan spatiotemporal. Spatiotemporal atau temporal spasial adalah istilah yang sering digunakan dalam analisis big data untuk menjelaskan proses pengumpulan data yang melintasi ruang dan waktu. Analisis data spatiotemporal adalah bidang penelitian dengan pengembangan prosesor komputasi yang kuat untuk melihat fenomena di lokasi dan periode waktu tertentu. Sering kali aplikasi dari spatiotemporal dapat kita temukan pada riset di bidang biologi, ekologi, meteorologi, transportasi, dan kehutanan.
Baik saya maupun Dreano tidak mendalami bidang-bidang tersebut. Kebetulan kami sama-sama mahasiswa S-3 di departemen antropologi di mana saya tergabung dalam kelompok kajian yang mempelajari konsekuensi sosial dari perpindahan orang maupun barang. Sementara itu, Dreano tergabung dalam kelompok kajian antropologi kedokteran yang mempelajari pola penyebaran penyakit, proses pencegahan penyakit, dan berbagai sistem penyembuhan penyakit. Meski kami berdua tidak menggunakan metode spatiotemporal, model pemikiran metode ini membantu kami berdua untuk menjelaskan fenomena yang terjadi saat ini.
Secara sederhana, Dreano dan saya sependapat bahwa dunia yang sama-sama kita “kenal” selama ini sedang berhenti. Dari yang tanpa batas menjadi terbatas pada lockdown, self-quarantine, pembatasan sosial berskala besar, movement restriction order, apa pun namanya. Jabat tangan, tepukan bahu, dan pertemuan dalam kelompok besar dihindari. Dunia yang kita kenal ramai, seru, dan tidak akan habis dijelajahi mendadak sunyi, senyap, dan sempit. Dari bangun sampai tidur lagi, kita diutus untuk hidup seperti semut dalam kotak korek api.
Sementara itu, ada spatiotemporal yang sebenarnya tidak baru, tapi seperti lahir kembali dan mendapatkan suntikan energi baru. Spatiotemporal yang ini justru sedang ramai-ramainya. Melalui layar kecil pada gawai kita, dunia digital menjadi normal yang baru. Tulisan pada media daring, kelas jarak jauh, pertemuan-pertemuan maya, panel-panel daring, penggalangan dana, konser, photoshoot, musik, film, permainan, segala inisiatif penawar bosan, semua ada. Gaduh, seperti pasar hantu. Di sinilah kita semua mengerubung seperti semut yang menemukan gundukan gula di sudut dapur.