HOAKS Menguntungkan Media Sosial: Bisnis Disinformasi di Era Digital
By : Surya Hadinata · @suryahd-writes · 11 Juni 2025
Di tengah derasnya arus informasi digital, hoaks atau berita bohong telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan maya. Tidak sekadar mengganggu ruang publik yang sehat, hoaks justru menjadi alat bisnis yang diam-diam menguntungkan raksasa media sosial. Fenomena ini mengubah cara kita memandang peran platform digital: dari sekadar penyedia ruang komunikasi menjadi mesin penghasil uang dari disinformasi.
❓Mengapa HOAKS Mudah Viral
Hoaks tumbuh subur karena karakteristiknya yang provokatif, emosional, dan seringkali mengejutkan. Informasi palsu dibuat sedemikian rupa agar menggugah reaksi emosional pembaca, seperti marah, takut, atau simpati. Konten yang menimbulkan reaksi seperti itu cenderung dibagikan lebih luas, lebih cepat, dan lebih sering daripada konten yang faktual tapi datar.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa berita palsu menyebar 70% lebih cepat daripada berita benar di Twitter. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa berita palsu enam kali lebih mungkin untuk dibagikan daripada berita faktual (Vosoughi et al., 2018). Temuan ini menunjukkan bahwa algoritma media sosial secara tidak langsung “menghadiahi” hoaks dengan jangkauan yang lebih luas.
ADA BISNIS DIBALIK HOAKS!
Model bisnis media sosial sangat bergantung pada klik, waktu tayang (watch time), dan interaksi pengguna. Semakin lama seseorang menghabiskan waktu di suatu platform, semakin besar pula potensi pendapatan iklan yang masuk ke platform tersebut. Di sinilah hoaks menemukan ruangnya: konten palsu yang viral mampu menarik perhatian, mengundang reaksi, dan menjaga pengguna tetap aktif di platform.
Facebook, YouTube, dan TikTok misalnya, meraup keuntungan dari iklan yang muncul di sela-sela konten, termasuk konten hoaks. Meskipun platform-platform ini telah menyatakan komitmennya terhadap pemberantasan disinformasi, secara sistemik mereka tetap diuntungkan selama hoaks berhasil menjaga keterlibatan pengguna.
Dalam kasus yang terkenal, remaja-remaja di Veles, Makedonia, menciptakan puluhan situs berita palsu berisi dukungan terhadap Donald Trump selama pemilu Amerika Serikat 2016. Mereka mengaku meraup ribuan dolar dari pendapatan iklan hanya karena artikel hoaks mereka viral (BuzzFeed News, 2016). Ini adalah bukti bahwa hoaks bukan hanya persoalan sosial, tapi juga bisnis yang menguntungkan.
SIAPA YANG PALING DIRUGIKAN?
Masyarakat adalah korban utama dari sistem ini. Hoaks dapat memecah belah masyarakat, merusak reputasi, bahkan membahayakan keselamatan publik. Dalam kasus pandemi COVID-19, misalnya, beredarnya hoaks tentang vaksin menyebabkan banyak orang menolak vaksinasi, yang akhirnya memperburuk penanganan pandemi.
Lebih dari itu, kepercayaan terhadap institusi publik, media profesional, bahkan sains turut tergerus. Ketika masyarakat sulit membedakan antara fakta dan fiksi, maka ruang demokrasi pun ikut terancam.
Perlu Tanggung Jawab Bersama.
Memerangi hoaks bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau media, melainkan juga platform digital itu sendiri. Facebook dan Google telah memulai langkah dengan bermitra bersama organisasi pemeriksa fakta (fact-checker), tapi langkah ini seringkali dianggap lambat dan tidak cukup transparan.
Selain itu, literasi digital menjadi kunci penting dalam menekan penyebaran hoaks. Masyarakat perlu dibekali keterampilan untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu menggencarkan program edukasi digital sejak usia dini.
Jika media sosial terus mengambil keuntungan dari hoaks tanpa pengawasan yang memadai, maka kita semua berisiko terjebak dalam ekosistem informasi yang salah kaprah. Sudah saatnya publik menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari platform digital dan aktif menjadi pengguna yang cerdas.
" Kutipan "
Hoaks bukan sekadar gangguan informasi, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem bisnis digital yang menguntungkan bagi platform media sosial. Melalui algoritma yang mendorong keterlibatan tinggi, hoaks tersebar luas dan menghasilkan pendapatan iklan yang signifikan. Sayangnya, yang dirugikan adalah masyarakat luas terpapar kebohongan, kehilangan kepercayaan publik, dan rentan terpecah.
Tanggung jawab memerangi hoaks harus menjadi tanggung jawab bersama. Platform digital perlu lebih tegas dan transparan, sementara masyarakat harus dibekali dengan literasi digital yang kuat. Jika tidak ada perubahan mendasar, media sosial akan terus menjadi ladang subur bagi bisnis disinformasi yang merusak tatanan informasi publik.
Sumber Referensi:
"Disinformasi dan Manipulasi di Media Digital" oleh Fiandy Mauliansyah, S.I.Kom., MA. (Sonpedia, 2024).
"Buku Panduan Berpikir Kritis menghadapi Berita Palsu (Hoaks) di Media Sosial" oleh Dr. Herdito Sandi Pratama (INFID, 2019)
"Strategi Penggunaan Media Sosial dalam Mengurangi Penyebaran Informasi Hoaks" oleh Andi Asy'hary J. Arsyad, dan Amalia Megawati Arkam (Penerbit Adab).
"Hoaks dan Media Sosial: Saring Sebelum Sharing" oleh Janner Simarmata, dkk. (Yayasan Kita Menulis, 2019).
"Hoaks, Disinformasi, dan Ketahanan Nasional: Ancaman Teknologi Informasi dalam Masyarakat Digital Indonesia" (Jurnal Ilmu Politik dan Kebijakan Publik, 2021 atau sejenisnya).













