Pada Jawaban yang Benar: tentang Berikan Tanda Silang
Pada November 2018 kemarin, aku mengikuti Nanowrimo (National Novel Writing Month) untuk kedua kalinya. Sebetulnya ini program dari USA, aku kurang tahu bagaimana caranya bisa tersebar ke seluruh dunia, dan Indonesia termasuk. Aturan main di Nanowrimo ini adalah menulis novel sepanjang 50.000 kata atau lebih hanya dalam waktu 30 hari. Novel tersebut tidak harus selesai, atau tidak harus dimulai dari nol, yang penting dalam 30 hari dapat 50 ribu kata saja sudah cukup.
Namun, masalah timbul ketika Nanowrimo dimodifikasi dan dijadikan fitur lomba.
Berikut trivia tentang Berikan Tanda Silang, cerita yang kuikutsertakan di Bulan Nulis Novel Storial 2018, sekaligus entri Nanowrimo-ku tahun ini.
1. Persiapan kurang becus
Sejak pertengahan Oktober, aku sudah merencanakan cerita yang A dengan plot besar B dan bla dan bla dan bla. Rencana sudah setengah matang, tiba-tiba muncul gagasan yang kupikir lebih mampu laksana, lebih brilian, dan.... Okelah! Banting setir ini terjadi tanggal 21 Oktober 2018, hanya 11 hari sebelum 1 November. Astaga. Bagaimana coba: merencanakan cerita misteri dengan bab-bab berupa isian teka-teki silang dan TTS-nya itu harus tersambung dengan baik tanpa kekeliruan? Baiklah 10 hari ke depan kuhabiskan dengan berpusing ria bersama Scrivener App yang baru kubeli dengan kupon hasil menang Nanowrimo 2017, hahahahaha.
2. Angka pertamanya masih 7
Singkat kata, aku menyelesaikan Berikan Tanda Silang pada tanggal 29 November 2018 dengan jumlah kata 75 ribu lebih.
Aku sebetulnya sudah kapok mengarang sedemikian panjang karena yang ada di akhir bulan hanyalah pegal dan hasil juga belum tentu benar. Namun, karena cerita ini cukup sinetroniyah dan kompleksitasnya lumayan tinggi, apa boleh buat, lagi-lagi aku menembus 70 ribu kata dengan gagahnya.
Alhasil, delapan kali aku mencoba menghasilkan novel-length piece, delapan kali pula aku gagal berakhir di jumlah kata kepala 6.
3. Sepatu jadi nama karakter
Aku tidak bisa dibilang penggemar Tulus. Memang aku kadang mengikuti lagu-lagunya tetapi mau dibilang fans ya tidak juga sih. Jadi, Sepatu dalam Berikan Tanda Silang bukan bersumber dari judul lagu Tulus.
Adapun nama Sepatu murni sengaja kubuat karena urusan komponen cerita. Di ceritanya, Sepatu digambarkan sebagai seorang peluncur, alias orang yang hidupnya mau mengikuti arus saja. Sudah di ambang pemecatan pun pasrah saja. Justru, orang yang digambarkan dengan nama Sepatu malah tidak mau melangkah maju. Justru, di situlah aku mencoba memasukkan Linda, Marini, Rajab, dan karakter-karakter lainnya; yang dengan cara mereka masing-masing, berusaha memaksa Sepatu untuk “maju.”
4. Cara membereskan 75 ribu kata itu tanpa berhenti sehari pun
This is the most tricky part. Di tanggal 3 dan 4 November kemarin, aku bepergian ke luar kota. Di tanggal 6, aku menghabiskan malam dengan menonton Bohemian Rhapsody di bioskop. Di tanggal 16 dan 30 November, karena keperluan kerja, aku nyaris tak ada waktu untuk mengarang sama sekali. Lalu bagaimana caraku mempertahankan ritme?
Tidak ada cara yang aneh, sih. Intinya, pada waktu plotting di akhir Oktober, aku sudah menetapkan apa saja yang mau ditulis di suatu bab. Semacam sudah bikin panduannya dulu. Jadi, kalau waktu eksekusinya mepet, aku sudah tidak perlu terlalu banyak berpikir lagi. Tinggal sikat saja, ketik yang banyak.
Soal editing? Itu urusan nanti. Draf pertama adalah ajang menumpahkan segala-galanya, jadi tumpahkan saja. Editing adalah urusan Desember dan sesudah-sudahnya.
5. Menjaga niat pada saat suasana hati buruk
Biasanya aku tidak stop menulis cuma gara-gara suasana hati. Mau suasana hati sangat buruk pun, aku tetap berusaha jalan terus. Memang susah, tetapi lama-lama cara ini berhasil membuatku tidak mandek cuma gara-gara kesal sama orang lain, atau sejenis itu. Malahan, kemudian aku tak ingat mana bagian yang kutulis waktu kesal dan mana yang waktu senang; karena terlihat sama saja (sama-sama kacau, maksudnya).
Aku termasuk mudah dipancing niatnya dengan cara melihat progresivitas grafik jumlah kata di situs resmi Nanowrimo. Ya sudah, caraku begitu saja. Aku memasukkan jumlah kata yang sudah diketik, lalu cek grafik sendiri, sambil bandingkan dengan grafik tahun lalu (aku tidak membandingkan diri dengan grafik teman, karena tak ada gunanya membandingkan dirimu dengan teman lain yang ceritanya sudah pasti beda denganmu). Itu saja sudah cukup jadi setan yang mendebarkan sepanjang proses ber-Nanowrimo.
6. Tahun lalu kan sudah menang?
Tahun 2017, aku juga mengikuti BNNS dan memenangkan juara kedua.
Tahun 2018, sebetulnya aku disuruh-suruh ikut. Akunya juga takabur dan mau saja diajak begitu. Berhubung tidak ada larangan buat pemenang tahun lalu untuk ikut lagi, ya sudah, aku ikut saja. Meskipun aku pesimis juga sih, mengingat sekarang rasanya cerita-cerita drama penuh debat kusir, hitung-hitungan dan berpikir, serta dibumbui balada sinetroniyah begini kurang disukai pembaca.
7. Seharusnya Linda tokoh utamanya, bukan Sepatu.
Cerita Berikan Tanda Silang ini bisa dibilang cerita ensemble, alias karakternya bejibun dan bingung mana pula karakter utamanya. Namun kalau ada yang bilang Linda seharusnya jadi karakter utama karena sebagian besar bab diceritakan dari sudut pandang dia dan cerita merentang sepanjang 68 tahun kehidupannya, okelah, boleh juga sih.
Dari segi teknis, tadinya bagian Sepatu (Menurun) kubuat dalam POV-3 limited. Karena pikiranku sudah kacau saat sampai di tengah-tengah, aku tak ingat lagi apakah aku akhirnya berhasil mempertahankan limitation pada POV-3 tersebut. Sementara itu, di bagian Linda (Mendatar) kubuat dalam POV-1.
8. Hebat, menulisnya bisa nonlinear begitu.
Sebetulnya nonlinearitas ini sudah direncanakan waktu bikin plot. Dalam proses menulis Berikan Tanda Silang ini pun, aku memang loncat-loncat. Bab belakang bisa kutulis duluan, baru bab yang depan. Semua itu dimungkinkan karena apa yang sudah kusebut di nomor 4 tadi, yaitu aku sudah mencatat apa saja poin yang perlu dikembangkan di setiap bab. Cara menjabarkan poin-poin penting per bab ini jelas sangat membantu mempercepat penyelesaian tulisan.
Jadi sebetulnya semua cerita itu terjadi secara linear, tinggal kemasannya dan cara penulisannya. Itu semua tergantung dari plotting.
9. Pertanyaan: Apakah Berikan Tanda Silang mirip Buku Panduan Matematika Terapan?
Ya enggak mungkinlah. Haha.
Gaya bahasa di Berikan Tanda Silang sebetulnya sudah kuusahakan lebih banyak dialog, dan kuusahakan minim istilah aneh (sementara di Buku Panduan Matematika Terapan aku sengaja menggunakan istilah kurang lazim, demi mendapatkan “rasa textbook”). Namun ada saja pembaca yang berkomentar mereka harus buka-buka kamus. Berarti kekerapan kata aneh masih tinggi, jadi kurasa aku masih punya PR besar di sini.
Membuat jalinan cerita rumit memang menyenangkan buatku, tetapi dalam tenggat waktu pendek, promosinya yang jadi berantakan. Kebiasaan berpromosi sendiri dan jarang dibantu rekan lain membuatku agak kesulitan mempertahankan ritme promosi Berikan Tanda Silang selama BNNS berlangsung. Tadinya aku sempat membuat akun Instagram yang berisi promo petak-petak dan kutipan, tetapi aku tumbang di sekitar hari ke-7 s/d 10 karena kemajuan menulisku malah jadi turun gara-gara aku sibuk bermain Canva.
Beginilah nasib kalau waktu dalam sehari-nya (untuk menulis) cuma 4 jam.
11. Pertanyaan: Terus naskah ini mau diapakan? Mau dikirim ke mana? Atau mau dijadikan....
Lihat nanti saja. Untuk saat ini, aku belum ada rencana buat Berikan Tanda Silang. Aku masih mengurus "anak” yang lain dulu. Satu-satu, deh.
Sekian dulu ya, semoga menjawab apa-apa yang kalian ingin ketahui tentang Berikan Tanda Silang. Berikan Tanda Silang masih bisa dibaca di Storial, di tautan berikut.