Ternyata memang benar...
Ternyata memang benar, menjadi dewasa itu sulit, di dalamnya penuh kebimbangan akan persimpangan jalan apakah harus terhenti, putar balik, bahkan mengulang langkah kita dari awal.
Ternyata memang benar, menjadi dewasa itu menegangkan, di dalamnya penuh uji penerimaan, kesadaran penuh bahwa tiap-tiap dari kita punya jalan masing-masing.
Ternyata memang benar, menjadi dewasa itu benar-benar kendali kita, kendali untuk terus belajar dari tiap episode perjalanan kita. Atau membiarkan hal itu menguap tanpa adanya pembelajaran juga perbaikan.
Ternyata memang benar, menjadi dewasa itu benar-benar membuat sebagian dari kita menginginkan untuk kembali menjadi anak-anak. Di tengah berbagai tanggung jawab yang harus diemban, seringkali membuat kita jengah, sesak nafas akan semua tuntutan diri sendiri, keluarga, bahkan lingkungan.
Ternyata memang benar, menjadi dewasa itu benar-benar kita hidup bukan untuk diri kita sendiri, melainkan banyak faktor yang membuat kita harus tetap bertahan, kuat di tengah rapuhnya diri, gembira di tengah sedihnya hati.
Ternyata memang benar, menjadi dewasa itu harus ada pembekalan, karena di dalamnya penuh distruction, yang terkadang membuat kita kehilangan arah, mengikuti arus sosial, hingga tak sedikit kita lupa akan jalan yang kita pilih.
Ternyata menang benar, menjadi dewasa itu benar-benar saling berkaitan. Keputusan yang kita akan buat, do'a yang kita akan panjatkan, berpengaruh pada jalan hidup seseorang,
Ternyata memang benar, menjadi dewasa itu kita akan dihadapkan banyak kesempatan, dan seringnya terbentur akan sikap overthingking kita. Hingga pada akhirnya kita takut untuk melangkah. Dan terjerebab akan zona nyaman yang perlahan memperlama waktu tempuh goals kita.
Di tengah keruwetan, kebimbangan, tuntutan, distruction, juga pengharapan kita menuju langkah pendewasaan
Percayalah, kamu tidak sendirian.
Karena tiap dari kita akan mengalami fase itu.













