realitas yang pahit namun perlu segera kamu sadari;
yang dia balas hanyalah pesanmu, bukan perasaanmu
seen from United States
seen from Norway

seen from Australia

seen from Türkiye
seen from Norway

seen from United States
seen from Indonesia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Israel
seen from China

seen from United States
seen from China

seen from Germany

seen from Israel

seen from United States
seen from United States
realitas yang pahit namun perlu segera kamu sadari;
yang dia balas hanyalah pesanmu, bukan perasaanmu
Karena Hidup Banyak Rasa
Begitulah tagline dari Kopi Go*d Day yang mungkin sering—atau setidaknya pernah, kita baca dan dengar dari pelbagai media massa.
Namun bukan soal kopi yang akan saya coba ulas, melainkan soal marriage alias pernikahan. (Agak jauh bukan keberangkatannya, dari sebuah slogan menjurus ke pernikahan?)
Lantas, apa hubungan antara Karena Hidup Banyak Rasa dengan Pernikahan?
Sebagai informasi, saya adalah seorang single, belum pernah menikah dan belum sempat instal aplikasi Uber. Tulisan saya di sini adalah murni perspektif saya sebagai seorang yang insya Allah akan menikah.
Kita tahu, bahwa menikah yang paling didambakan tiap orang adalah menikah yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. Itulah mengapa para kaum—terutama yang sedang berada di Quarter-Life Crisis*, menyadari betapa sakralnya sebuah pernikahan. Dan saya pun tidak terkecuali.
***
Ayah dan Ibu saya tidak jarang beradu argumen dari soal menentukan anak kuliah di mana, rumah dicat warna apa, pilihan capres-cawapres, sampai mana yang lebih dulu ada; ayam atau telur. Banyak aspek diperdebatkan, mereka bukanlah tipe pasangan yang selalu sepaham dan sependapat, sama sekali tidak.
Hingga pernah suatu waktu saya mendapati ibu saya menangis sejadi-jadinya, dan ayah saya menjadi ayah yang sediam-diamnya. Tidak ada lagi kehangatan. Itu adalah momen di mana saya berpikir, mungkin mereka akan bercerai.
Hingga pada satu ketika, ayah dan ibu saya masing-masing pernah saya tanyai, "Mengapa kalian tetap bersama padahal kalian sering berselisih paham, bahkan mungkin kerap saling tersakiti oleh satu sama lain?"
Jawaban mereka, yang acap berbeda pandangan dalam banyak hal, justru secara mengejutkan, memiliki esensi yang sama, "Saya menikahinya bukan hanya menikahi tubuhnya, saya juga menikahi jiwanya, kelebihan pun kekurangannya, juga segala permasalahan karenanya".
Dan sampai saat ini saya menulis, mereka tetap bersama menjadi suami istri. Pasangan yang mungkin paling berbahagia di muka bumi—setidaknya biarkan ini menurut saya. Kapal rumah tangga yang sama-sama mereka bangun tetap berlayar. Segala konflik, selisih, dan tangis tidak mampu membuat kapalnya karam.
***
Dari kenyataan inilah yang membuat saya menyadari, bahwa hubungan bukan hanya soal cinta dan bahagia, di dalamnya juga ada luka, kesedihan, dan kekecewaan.
Maka pernikahan, ialah ikatan yang akan tetap mengikat dirimu dan pasanganmu untuk tetap bersama ketika semuanya nampak gelap, seakan tanpa harap. Ikatan yang menjaga kalian tetap bersatu bahkan dalam masa-masa tersulit.
Sebab pernikahan, tidak lain tidak bukan, adalah komitmen antara dua insan untuk 'tetap berusaha' hidup bersama.
Karena hidup banyak rasa.
_____________
*Quarter-Life Crisis adalah masa di mana seseorang yang berusia 25 tahunan mempertanyakan hidupnya. Di masa yang merupakan puncak kedewasaan seseorang ini, orang mulai meninjau kembali masa lalunya, apa yang telah ia lakukan, apa yang ia dapatkan, dan bagaimana kehidupannya di masa datang (IDN Times)