Suatu saat hidup memberi arti perihal sudut pandang. Menjatuhkan tiap masalah sebagai apa? Meleburkan rasa sakit sebagai apa? Melaraskan tiap langkah sebagai apa? Sebagai bentuk syukur atau tetap bergelut dalam pola yang kita lihat. Lagi-lagi sebuah pilihan.
Memaknakan proses layaknya mengais sebuah harapan. Berjalan, sakit, berlari, perih, berhenti, sama saja. Tak bisa menghindar, namun bisa kita pilih untuk hadapi seperti apa?
Walau kadang jatuh di titik hampir menyerah, kita tak bisa memaksa proses itu berhenti tanpa alasan. Dia punya rencana sedang kita tidak.
Satu-satunya jalur ialah mendefinisikan proses demi proses yang bisa kita bentuk jadi alasan terbaik untuk menghadapinya.
Kita tak bisa menulis sebuah akhir, tapi awal sampai kini ibarat puzzle yang boleh disusun perlahan demi perlahan. Kita tak bisa menjawab sebuah solusi, tapi sapaan sampai jeritan masalah boleh disambung jadi sebuah pijakan. Kita juga tak bisa memastikan masa depan, tapi masa lalu dengan riuhnya dan masa kini dengan letihnya adalah awal dari sebuah harapan.
Seringkali mungkin kita sedang bertanya dan lagi-lagi bertanya. Kenapa harus saya? Kenapa harus melalui semua ini? Kenapa harus merasakan jurang yang satu ini?
Nada keharusan yang tidak bisa dilawan, dihindari atau diakhiri. Kenapa? Dia butuh alasan untukmu layak jadi baik atau bahkan terbaik bagiNya.
Kiranya kita perlu sepakat, apa-apa yang kita rasa, alami, jalani, pilih, pikiri, semua-semua hanyalah sementara. Ada saatnya usai, ada saatnya berhenti menghantui. Detik ini, esok, lusa atau entah kapan.
Memastikan kapannya bukanlah tugas kita, tapi kita bisa memetakan tugasNya saat ini untuk alasan apa?
Alasan untuk hidup yang bagaimana? Berharta? Berkarakter? Berposisi? Berstatus? Bermanfaat?
Hanya kamulah yang bisa menjawab, apa maksudNya. Rasa-rasain tiap kerikilnya, langkah kecil yang bisa memberi makna lebih soal hidup yang seperti apa harusnya.
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin