Senja Tahun Baru
Akhirnya senja ini menjamu langit, bercengkrama dengan cakrawala setelah sekian lama dirundung rintik rindu dari awal tahun baru. Aku duduk sendiri, ditemani buku yang sedari tadi coba untuk direnungi.
Meski buku ini sudah lama diterbitkan, namun aku mengenal buku ini setelah buku ini sering terlihat di beberapa iklan sebab sudah dijadikan sebuah film. Sejauh ini aku tidak tertarik dengan menonton film adaptasi, sebab aku lebih menyukai membaca karya asli sehingga otak ini bisa bebas berimajinasi. Ini bukan tentang memandang negatif karya anak negeri yang saling berkolaborasi, namun tiap manusia berhak memilih mana yang mereka suka tentu.
Setelah sekian waktu akhirnya kamu datang menghampiri, dengan terenggah sambil merekatkan kedua telapak tangan seraya minta maaf. Aku tidak mempersalahkan tentang itu, sebab bila tentang kamu aku tidak masalah seberapa lama menunggu. Bangku-bangku taman sudah banyak terisi, oleh sepasang kekasih sampai keluarga dengan anak kecil yang terus berlari.
Kita putuskan hari ini untuk mengabiskan waktu senja bersama, tanpa tangan saling menggenggam meski hati sudah saling bergumam. Setelah sekian lama berbincang akhirnya kita memutuskan untuk mengakhiri pertemuan hari ini dengan menonton film, sebuah film yang bukunya sudah aku baca habis sebelum bertemu kamu.
Dengan mencoba mengalihkan pemahamanku soal film ini sewaktu lalu, setidaknya kini aku akan mencoba menyukai hal baru saat bersama kamu.
16 Januari 2020 | (c) adikurniawan




















