"Ayah, Ayah ayo cerita, cerita yang kemarin belum selesai!" -Ucap Nayla.
"Iya Ayah, gimana kelanjutan Raja Angin, apakah Ia menang melawan Monster Duri?" -Sambung Fadli dengan antusias.
Ayah hanya tersenyum, matanya melirik ke dua piring anaknya. Di atasnya masih tersisa makanan. Dua sampai tiga suap lagi. Kedua anaknya langsung mengerti, karena itu aturan nomor tiga di rumah itu. Tidak boleh menyisakan makanan sedikitpun.
Nayla dan Fadli dengan cepat melahap sisa makanan yang ada. Mereka tak sabar mendengar cerita selanjutnya. Siapakah yang akan menang? Raja Angin atau Monster Duri?
Dua menit berlalu, makanan habis tak bersisa. Semua makanan telah meluncur ke lambung dua anak periang itu. Mereka duduk manis, siap mendengarkan cerita.
"Hayoo kalau setelah makan ngapain?" Tanya Ayah.
"Berdo'a Ayaaah!" Jawab Nayla dan Fadli serentak.
Setelah berdo'a, mereka sigap membereskan alat makannya. Mereka sudah terbiasa membereskan urusan pribadi sendiri, seperti merapihkan tempat tidur, menyusun buku sekolah, dan menyimpan sepatu. Ayah yang mendidik mereka seperti itu. Kata Ayah, jadi orang harus bisa mandiri, kalau bisa dikerjain sendiri, kerjain sendiri!
Setelah semuanya selesai mereka kembali ke ruang "serbaguna". Iya ruangan itu memang serba guna, disitu tempat makan, tempat kumpul, tempat setrika, juga seringkali jadi tempat tidur. Rumah itu kecil, hanya ada ruang serbaguna, dua kamar tidur, dapur, dan toilet yang sekaligus menjadi tempat mencuci baju dan piring.
"Kita ceritanya di luar yuk" -Insiatif Ayah.
Ayah bilang kebetulan malam ini sedang pertengahan bulan. Sayang untuk dilewatkan melihat bulan bulat penuh seutuhnya hadir di langit.
Nayla dan Fadli mengikuti. Mereka mengambil selimut. Rumah mereka di dataran tinggi, udara diluar cukup dingin. Dan ternyata mereka beruntung, malam ini langit cerah, terlihat bintang-bintang menghiasi angkasa, menemani Sang Rembulan.
"Malam ini Ayah mau bicara yang lain, Boleh?" -Tanya lembut Ayah.
Nayla dan Fadli saling melirik. Mereka masih penasaran dengan cerita kemarin.
"Yang pasti nggak kalah serunya!" -Seru Ayah
Mereka mengangguk, mata mereka berbinar, menantikan cerita Ayah.
"Nayla, Fadli, kalau kalian bisa melakukan apa saja, apa yang mau kalian lakukan?" -Tanya Ayah
"Aku mau jadi Raja Angiiin!" -Spontan Nayla
Karena Raja Angin bisa terbang katanya. Ia bebas pergi kemanapun. Nayla ingin sekali terbang ke langit, menuju bulan dan bintanng yang sedang dilihatnya. Walaupun itu hanya imajinasi, Ayah tetap menyimaknya dengan seksama. Ayah tersenyum, anak keduanya ini memang penuh dengan kejutan dan imajinasi.
"Kalau kamu Fadli?" -Tanya Ayah.
"Fadli mau jadi Animator terkenal Ayah. Fadli mau buat animasi untuk anak-anak Ayah!" -Jawabnya dengan mata berbinar.
Fadli cukup berbeda dari anak sebayanya, dia lebih dewasa dari anak seumurannya. Dia senang sekali menggambar. Apalagi menggambar di tablet milik bos Ayahnya jika sedang kunjungan ke rumah.
Begitulah keseharian mereka, Ayah selalu bercerita kepada Fadli dan Nayla. Walau Ayah hanya seorang pemetik teh dan kopi. Juga dari keluarga yang sederhana, tapi Ayah tidak mau anaknya punya mimpi dan imajinasi yang sederhana.
Seringkali sepertinya kita mendengar tangisan anak-anak karena tidak diberikan gawai oleh orang tuanya.
Ada yang sampai merajuk, nggak mau nurutin perkataan orang tua, bahkan menolak apa pun yang orang tuanya minta.
Ketika disuruh makan jawabnya, “Ah gak mau belum laper”
Dipanggil untuk ngebantu orang tua, “Ah ntar lagi.”
Bikin mereka jadi ngelus dada, kesabarannya begitu luas memang.
Mudah sekali kata “Ah” ini terucap. Jangankan anak kecil dengan orang tuanya, kita saja yang sudah gede secara tidak sadar masih mau terucap dengan kata ini. Bukan dengan ortu saja, sama orang lain juga tak sadar mengucapkan itu.
“Ah males lah ikut kegiatan, capek.”
“Ah ngapain dirimu ikut campur urusanku!”
Ah lagi, dan lagi. Kenapa?
Kita tahu bahwa didalam Al-Qur’an kita itu dilarang banget untuk ngomong “Ah” ke orang tua. Dari kecil, sejak SD udah diterapin di sekolah bahkan agar tidak mengatakan “Ah” sebagai bentuk mentaati dan berbakti kepada orang tua kita.
Sebegitu tidak baiknya berarti kata “Ah” itu jika diucapkan. Begitu juga ketika kita berbicara atau ngobrol dengan orang lain. Aku rasa untuk menolak sesuatu dengan mengatakan “Ah” itu termasuk etika yang tidak baik.
Menjauhkan lisan dari kata yang biasa diucapkan itu memang tidak semudah mengedipkan mata. Namun bukan itu yang menjadi patokannya, coba lah perlahan untuk mengurangi kata-kata kasar atau kata yang tidak baik didengar. Agar lawan bicara kita juga senang kalau ngobrol sama kita.
------------------
Tema hari ini adalah “Ah”, ga nyangka sih punya temen yang pada random gini. Suka bingung kadang mau nulis apa, temanya unik, out of the box kali lah! Tapi aku seneng, mereka selalu berhasil buat aku tertawa. Makasih ygy<3
Kenapa ya, harus aku jarang sakit, fisik kuat, subur, dan masih lengkap?
Kenapa ya, harus aku dilahirkan dari keluarga yang supportif dan mapan?
Kenapa ya, harus aku punya pertemanan yang kondusif?
Kenapa ya, harus aku yang karir pekerjaannya mulus?
Kenapa ya, hidupku lurus aja, lempeng, dan mudah² aja?
Bukan, tulisan ini bukan tentangku, bukan juga tentang kesombongan. Aku paham diksi "kenapa ya harus aku?" biasanya digunakan untuk kejadian negatif atau kemalangan bukan?! Tapi pernah nggk sih, kita pakai itu untuk peristiwa yang menyenangkan dan kenikmatan?
Buat apa? Mungkin itu pertanyaan dibenakmu sekarang. Kamu pernah denger istidraj? Istidraj adalah suatu jebakan berupa kelapangan rezeki untuk menjadikan seseorang lalai dan durhaka.
Pernah nggk sih kepikiran? Ibadah biasa aja, usahapun seadanya, maksiat jalan terus, tapi kok aku yang dapat rezeki ini, bukan dia yang ibadah dan usahanya effort banget? Bisa jadi ini istidraj. Ini bentuk ujian. Ingat ujian kualitas keimanan bisa dari dua bentuk. Adakalanya ujian itu berupa sesuatu yang amat memberatkan dan ada pula ujian itu berwujud sesuatu yang amat menyenangkan.
Terus kalau dapat rezeki gitu, harusnya ditolak? Ya nggak gitu juga ferguso! Kalau ada ya disyukuri sambil introspeksi. Periksa segala fasilitas dan privilege yang kamu miliki, selama ini dipakai untuk apa aja dan kemana aja?
Kamu masih muda, maka kamu punya tenaga dan waktu buat kamu manfaatin bermanfaat, berkegiatan sosial bermasyarakat. Kamu kaya, maka kamu punya harta untuk di sedekahkan. Kamu pintar, memahami salah satu bidang, maka kamu bisa memberi dalam bentuk ilmu. Kenapa begitu? Agar kamu punya jawaban kalau nanti ditanya, "Privilege kamu kemarin, udah dipakai apa aja?"
Sore itu banyak anak desa yang main ke rumah baca. Biasanya tidak semua anak-anak berniat untuk membaca buku. Ada yang sekadar menyapa, ada yang minta diajarin mengerjakan tugas, ada juga yang ingin bermain dengan teman-temannya yang lain.
Satu anak terlihat asik sekali membaca sebuah buku, “Seru kali nih bacanya.” Sapaku tepat disampingnya.
Dia tersenyum, giginya terlihat. Tampak ia sedang melihat gambar gedung perkotaan dan dilembar sebelahnya terdapat gambar persawahan, desa yang terlihat tenteram didalam buku itu.
“Abang mau pilih mana jika diajak pergi kesuatu tempat dari buku itu?” Tanyaku melihat buku yang ia baca.
“Mau kesini (ia menunjuk gambar gedung), tapi ingin tinggal disini aja (ia tunjuk gambar persawahan).” Jawabnya sambil menatap ke arahku. “Mau main ke tempat kakak” Tambahnya lagi.
Ya, yang dia maksud ‘tempat kakak’ adalah gambar gedung perkotaan itu.
Aku tersenyum, “Iya insyaAllah main kesana.” Balasku menunjuk gambar gedung.
Ia mengernyitkan dahi, “Caranya?”
“Do’a ke Allah, agar abang dan kawan-kawan disini bisa main-main ke tempat kakak.”
Ia hanya terdiam. Bibir yang tadinya tersenyum, sekarang tampak seperti garis lurus layaknya orang-orang berpikir. “Iya kak berarti kami harus rajin sholat ya berdo’a ke Allah.” Ucapnya.
Aku hanya tersenyum, menganggukkan ucapannya itu.
Aku terpikir bahwa, jika aku bisa melakukan segalanya, maka apa pun yang diinginkan oleh orang-orang disekelilingku akan aku penuhi. Ingin sekali rasanya mewujudkan keinginan orang-orang terdekat. Namun aku sadar, tugas sebagai manusia tidak sepenuhnya begitu. Sungguh mulia ketika kita memiliki niat membahagiakan orang lain, tetapi untuk mewujudkan keinginan mereka bukan lah tugas utama kita. Kita merupakan perantara , sebab yang mewujudkannya adalah Allaah, atas kehendak-Nya.
Tidak perlu berpikir panjang aku akan menjawab, “Pernah!”
Lucunya, banyak orang-orang sekelilingku yang mengira aku tidak pernah merasakan lelah. Ada yang menanyakan bagaimana tips produktif, cara memanajemen waktu, bahkan bertanya tips biar nggak ngeluh. Nyatanya, aku termasuk yang mau mengeluh lho. Bagiku, lelah itu manusiawi, bahkan kalau nggak merasa lelah itu perlu dipertanyakan, “Bagaimana bisa?”
Tapi mengingat lagi, selelah-lelahnya kita, tidak seberapa dengan lelahnya para Shahabat, apalagi dengan Rasulullah.
Jadi, sebagai penguat diri; ketika lelah, atau saat ada ujian menghampiri, aku mengingat ini merupakan bukti cinta Allah kepada hamba-Nya. Bahkan se-shalih Rasul aja ujiannya gede banget, lah aku yang hanya manusia ujiannya ya belum seberapa lah dengan beliau.
Menjadi bentuk untuk menyanyangi diri, kalau lelah ya istirahat. Semua orang itu butuh rehat, jangan dipaksain segalanya. Ucapkan terimakasih kepada diri, karena mampu menjalani setiap derap langkah hingga sampai saat ini. Istirahatnya juga jangan lama-lama nanti ya, karena perjalanan kita juga masih panjang, belum bisa benar-benar berhenti sebelum Sang Pemilik Skenario Kehidupan menghentikannya.
Mungkin selama ini lelahnya banyak terkuras untuk dunia, maka ini waktunya untuk kita kembali kepada-Nya.
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah: 45)
Mikir random. Kalau ada orang dijodohin, terus ampe menikah, berarti sebenernya mereka itu adalah "jodoh" kan ya? Karena konsep jodoh itu, sama hal nya sama konsep rezeki. Mau sekuat apapun kamu berusaha, kalau sesuatu itu tidak di takdirkan untuk u, maka tidak akan pernah jadi milikmu, begitupula sebaliknya, kalau sesuatu itu di takdirkan untukmu, mau kamu hindari sejauh apapun, mau seisi bumi mencoba menghalangimu, maka dia akan tetap jadi milikmu. Maka kupikir, penjodohan itu adalah emang jodoh. Jalan ketemunya lewat penjodohan.
Lalu bagaimana jika aku dijodohkan? Yang pasti ngobrol dulu, deep talk (bahasa kekiniannya) dengan yang ngejodohin, "kenapa?" itulah yang aku tanyain. Lanjut nge cek calon nya, aku nggk muluk² kok. Cukup dia tuh yang baik agamanya, cukup dia tuh yang dari keturunan jelas (bernasab), cukup dia tuh yang di pandang ngademin, dan cukup dia tuh yang bisa mandiri keuangannya. Nggak banyak kan? Cukup 4 saja!
Heeeiii... Ayo bangun, jangan ngimpi! Karena kalaupun ada yang kriterianya begitu, dia belum tentu mau samaku, waks! Atau enggak udah jadi istri orang, kalah gercep.
Jadi apa simpulan tulisan ini? Nggak ada! Karena terus terang aku bingung, karena belum pernah dijodohin, pun kawan pun nggak ada yang dijodohin kayak drama di tv². Kalaupun ada, bahasanya tuh "dikenalin". Di fasilitasi buat kenalan, kedua calon bertukar data diri dan saling bertanya. Saling ngecek bibit, bebet, dan bobotnya. Bibit ngecek garis keturunan/status sosial keluarganya, bebet ngecek tingkat ekonomi, dan kalau bobot ngecek kapasitas pribadinya. Terlepas itu semua, bagaimana pun juga keputusan akhir untuk terus maju/berhenti tetap di mereka (kedua calon). Dan mereka lah yang akan menjalani bahtera rumah tangga itu bertahun-tahun.
“Kalau adik udah ada jodohnya gak apa, dia duluan aja.”
Suara seorang laki-laki terdengar diujung telepon, dia adalah Abangku.
“Emang udah ada?” tanya Ibuku menimpali perkataan Abang.
Aku masih terpaku menggenggam gawai ini, mencoba mencari jawaban untuk mencairkan suasana.
“Ibu mau calon yang bagaimana?” Jawabku dengan pertanyaan balik.
“Yah yang gimana cocok sama kamu lah.” Balas Ibuku.
Aku berusaha menahan tawa, lucu sekali rasanya jika membahas ini. Walaupun aku sering bercanda menanyakan kepada orang tua mengenai kriteria calon menantu yang mereka inginkan, tapi tetap saja aku masih merasa awkward untuk ini.
“Kalau yang pengusaha, gimana?” Tanyaku random, ingin tau bagaimana pendapat orang tua.
“Nggak apa-apa. Ibu jadi keinget anak temen ibu lah kak, sekarang dia jadi pengusaha. Kemarin ibunya minta bantu cariin jodoh untuk anaknya itu, sebaya abang lho tuh. Temen abang sekolah pas SD kalau ibu gak salah. Hm gimana ya kalau ibu bilang sama kamu aja ?”
Seketika tawaku pecah. Ini dijodohkan kah? Pikirku.
Ini ketiga kalinya Ibu bahas hal seperti ini, sudah tiga anak teman Ibu yang diceritakan ke aku. Bahkan salah satu dari ketiga itu, sudah pernah dibahas antar orang tua. Aku hanya menganggap hal itu becanda, tidak pernah ku anggap serius.
Aku belum bisa membayangkan bagaimana nantinya jika benar-benar dijodohkan. Tapi pada dasarnya aku berpikir walaupun dalam perjodohan, tetap harus melakukan proses ta’aruf; membicarakan visi, misi, life plan, life goals nantinya melalui perantara. Tetap adanya batasan antara laki-laki dan perempuan, dan menjalankan segala prosesnya sesuai dengan syariat Islam. Jadi tidak ada yang membedakan proses ketika aku dijodohkan atau bukan.
“Gimana kak?”
“Haha nggak dulu bu, abang aja lah duluan.” Jawabku untuk mengakhiri obrolan dengan topik ini.
Self Love, Self Reward, Healing... Terus terang saja kata yang berhubungan dengan mental health itu cukup mengangguku. Apa sih? Kayaknya orang tua kita dulu nggak kenal kata² tapi baik² saja. Tapi sekarang kok kayak heboh banget, seolah isu yang paling penting untuk terus dibahas, nggak beres-beres.
Bukannya tidak percaya kata² tersebut. Kebetulan aku punya teman yang memang mengalami mental health issue. Dia tidak mengklaim sendiri, tapi berdasarkan penilaian profesional, Psikolog.
Yang membuatku terganggu adalah jika kata² itu di klaim sendiri, di nilai sendiri, bermodal Informasi dari Google dan Youtube. Seolah paling tahu tentang mental health issue. Mencocoklogikan kepada apa yang terjadi, padahal sebenarnya dia sembunyi dari kemalasan atau dari pemakluman untuk diri sendiri. Kata² itu dijadikan tameng. Baru satu dua langkah minta self reward, ditegur karena salah bilangnya,
"Ya aku kan udah begini, aku mencintai diriku apa adanya!"
Bukannya introspeksi dan memperbaiki malah nyari pembenaran. Makin kesini kok hidup makin banyak drama nya ya.
Hati² pakai kata² itu, selain harus penilaian profesional, kata² itu bisa saja membuatmu sulit berkembang. Membatasi dirimu sendiri. Nggak mau capek. Padahal kalau mau berkembang ya harus capek. Itulah makanya nggak banyak orang yang berkembang, karena nggak mau capek. Yu bisa yu, bangun, qerja!