Mereka Ageng dan Sandi, dua sahabat yang sudah saling menganggap sebagai saudara satu sama lain. Ageng berusia tujuh belas tahun, sedangkan Sandi dua belas, baru saja lulus Sekolah Dasar. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, Ageng putus sekolah. Ia harus menghidupi diri sendiri dengan bekerja apa saja dan tinggal bersama pamannya. Pertengahan bulan #Agustus lalu, saya bertemu mereka di #BentengPendem di Kota #Cilacap. Kami sama-sama pengunjung di #Benteng itu yang secara tidak sengaja bertemu kembali di atas perahu saat menyeberang ke Pulau Nusakambangan. Hari itu Ageng sengaja mengajak Sandi untuk berkeliling ke pulau yang selama ini dianggap sebagai "Pulau Kematian" oleh sebagian orang. Ia juga ingin mengajak Sandi berenang di pantai, berburu teripang, kerang, kepiting, ikan dan apa saja yang ada di sana. Itu adalah pertama kalinya bagi Sandi menyeberangi lautan di #TelukPenyu dan menginjakkan kaki di #Nusakambangan. Sebelum berenang, Ageng sempat mengajak saya dan @avraaugesty yang memang sengaja 'membuntuti' mereka untuk menuju ke sebuah tempat tersembunyi yang berada di balik hutan Nusakambangan. Sesekali ia juga berusaha menjelaskan apa saja yang ia tahu tentang cerita di Nusakambangan. Ageng banyak tahu tentang Nusakambangan. Ia sudah sering menjelajahi pulau itu seorang diri, menggunakan perahu saat mengantarkan pamannya memancing lobster di perairan Nusakambangan. Ada satu hal yang membuat saya salut kepadanya. Hari itu, demi mengajak Sandi, Ageng rela mengeluarkan uang perahu sebesar Rp 45.000, meski sebenarnya ia bisa ke sana bersama paman tanpa dipungut biaya. Secara pribadi, saya juga menaruh simpati kepadanya. Bukan karena ia menunjukkan 'surga tersembunyi', akan tetapi karena inisiatifnya sebagai seorang kakak untuk mengajak dan memperkenalkan dunia baru kepada adik angkatnya. Di perjalanan pulang, kami mengajak mereka berdua makan bersama, tetapi Ageng menolak secara halus karena matahari sudah mulai condong ke barat dan Sandi harus segera pulang. Akhirnya mereka berdua pamit di depan Benteng tempat kami bertemu. Mereka berdua pulang menuju rumah dengan sepeda yang dititipkan, dan kamipun berpisah.