Jejak yang Tergusur
Tentang ruang yang dirampas dan hidup yang tetap mencari tempatnya
Angin kemarau berhembus pelan, menyeret dedaunan kering yang terlepas dari ranting. Mereka tak langsung jatuh, seakan masih ingin menari sejenak, terombang-ambing oleh laju kendaraan yang lewat. Akhirnya, dengan pasrah, daun-daun itu singgah di atas tikar sederhana yang digelar di tepi jalan Tentara Pelajar, Senayan, tempat sebuah gerobak mungil berpendar dengan lampu warna-warni, memamerkan tulisan sederhana: SATE TAICHAN.
Di sepanjang jalur itu, beberapa gerobak berdiri berderet. Juru parkir merangkap pedagang menebar sapaan, mencoba menggoda pengendara yang lalu-lalang. Namun malam itu, jalan seakan menyimpan jarak, terlalu dingin untuk bersahabat. Hanya beberapa pasang muda-mudi yang berhenti, duduk berdekatan sambil menanggalkan daging ayam dari tusukannya, atau sekadar saling bertukar kata manis yang melayang di udara.
Sate taichan, primadona kuliner jalanan yang mulai bersemi sekitar tahun 2016, perlahan menancapkan nama di lidah anak-anak muda ibu kota. Kala itu, trotoar Gelora Bung Karno menjadi panggungnya. Di bawah cahaya lampu kota, gerobak-gerobak kecil berjejer, mengundang tawa, percakapan, dan rasa lapar yang sederhana.
Popularitasnya mencapai puncak pada 2017 hingga 2018, saat media sosial ikut mengabadikan setiap tusuk sate putih pucat dengan sambal merah menyala. Banyak yang sengaja datang, tak hanya untuk mengusir lapar, melainkan juga untuk menorehkan jejak kebersamaan di malam-malam kota.
Namun, ketika stadion kebanggaan Tanah Air itu kembali dipoles demi Asian Games 2018, para pedagang kaki lima terpaksa beringsut. Jalan protokol harus bersih, kata mereka; “Seolah gemerlap olahraga dunia lebih pantas berdiri di atas trotoar yang hening, ketimbang riuh asap sate taichan yang pernah menghidupkan malam.”
Sate taichan memang sederhana, tetapi unik. Daging ayam yang dibakar tanpa saus kacang atau kecap, hanya diberi garam, perasan jeruk nipis, dan sedikit cabai. Pedas, segar, dan hangat. Seolah menyimpan kesahajaan yang justru membuatnya menawan. Konon, lahirnya dari seorang pelanggan Jepang yang meminta sate tanpa baluran bumbu kacang. Dari permintaan kecil itu, lahirlah nama taichan, yang kemudian menggema di lidah banyak orang.
Yang datang pun dari berbagai kalangan. Ada mahasiswa sampai pekerja kantoran. Tiap akhir pekan, terkadang yang datang bukan sembarang orang. Mobil-mobil mewah berderet, lampu sorotnya menambah cahaya malam. Para pemiliknya rela membayar lebih, bahkan untuk sekadar parkir. Ada yang menyebut itu sekadar cara lelaki muda menunjukkan “aku mampu”. Entah gengsi, entah cinta, uang seolah hanya pelengkap dari hasrat untuk dilihat.
Namun, setelah terusir dari GBK, gerobak-gerobak itu mencari rumah baru di Patal Senayan. Tempatnya tak jauh, tapi auranya berbeda. Tak ada latar megah stadion, tak ada ruang luas untuk parkir yang menyanjung. Yang ada hanyalah jalan sempit dengan kendaraan komuter yang terburu, menyingkirkan rasa aman dan menipiskan kemesraan.
Bagi Ripin—yang melihat dengan hati yang masih berpegang pada nurani—dagangan itu terasa getir. Memang benar, mereka bekerja demi hidup. Namun apakah pantas rezeki lahir dari merebut hak pejalan kaki? Baginya, ada sesuatu yang tak utuh di sana.
Ia pernah menyaksikan sebuah tragedi. Seorang pejalan kaki terhantam motor yang melaju kencang, tubuhnya terpelanting, nyawa hilang seketika. Jalan kembali normal beberapa saat kemudian, seolah tiada yang pernah terjadi. Namun Ripin tahu, akar luka itu nyata: “Trotoar yang mestinya aman telah dipenuhi tikar dan kursi, dipaksa menjadi ruang niaga.”
Begitulah wajah kota. Kebiasaan kecil yang lama-lama menjadi luka besar. Pedagang kaki lima menempati hak pejalan kaki, dan entah bagaimana, restu diam-diam seolah selalu ada, meski restu itu berbayar. Ada tawar-menawar, ada harga bagi setiap jengkal ruang. Nurani semakin tipis, sementara orang-orang menenangkan diri dengan kata “takdir.”
Maka gerobak sate taichan itu kini bagai bayang-bayang. Bagi sebagian orang adalah penghidupan, bagi yang lain hanyalah gangguan. Namun yang paling getir, barangkali, adalah ketika manusia berhenti menggunakan akal dan hati untuk menjaga sesama. Lalu semuanya dibungkus kata pasrah, padahal hidup adalah titipan untuk saling merawat, bukan saling merampas.
Kota ini pandai berpura-pura. Siang ia bicara tentang kemajuan, malam ia menyembunyikan jejak-jejak yang dipinggirkan. Dan sate taichan, dengan segala asap dan pedasnya, hanyalah penanda kecil bahwa di balik rasa ada harga yang dibayar dengan kehilangan.
Srengseng, 18 Agustus 2025







