Aku ingat di sepuluh juni, banyak kata-kata terucap, tak kunjung berhenti. Selaan demi selaan saling berebut membela dirinya masing-masing. Ego, tak mau terkalahkan, saksi bisu tingkah manusia di teriknya matahari panas tapi tak ingin usai.
Banyak pasang mata melirik, hati tidak percaya mereka, tidak mau mengindahkan mereka. Telunjuk saling menunjuk pada wajah, seolah tak mengenal diri sendiri. Dan dengan keukeuhnya percaya diri berdiri di depan kepala.
Saat itu.. bukanlah kita. Ketidakberdayaan diri diseluput warna darah, merah, mengental yang menguasai diri.
Padahal sesesok tubuh tak berdaya menginginkan dimengerti, bahwa dia sedang sekarat, sakit. Tak mengapa karena tidak perduli, masih saja mengagungkan apriori-apriori belaka.
Andai saja, semua ini hanya mimpi. Akan ku hapus jauh-jauh mimpi ini. Tapi tak mengapa kawan, semuanya mengajarkanku banyak hal.
Ingin sekali aku ingat hari ini, seseorang sedang menginginkan berbahagia walau hanya sedetik saja, entah aku harus menghapus semua ekspetasi yang terlalu besar ini.
Hujan.. terimakasih. Karenamu aku tenang, mengapa kamu tersedu merintihkan air matamu dari langit. Hujan, aku selalu merindumu saat sepuluh juni.