“Engkau merawat ibumu sambil menunggu kematiannya sementara ibumu merawatmu sambil mengharap kehidupanmu dan kebahagianmu.” (Umar bin Khatthab)
Waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi, tapi seperti biasa di rumah sudah ramai suara gemercik air di kamar mandi, tak mau kalah, suara dentingan gelas dan piring ikut mewarnai pagi itu. Mama dan bapak, panggilan untuk kedua orang tuaku, memang terbiasa bangun dini hari untuk melaksanakan qiyamul lail. Namun, hari ini ada yang berbeda. Mama terlihat sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk perjalanan hari ini. Wajah mama berseri-seri, matanya memancarkan semangat, tanda siap memulai perjalanan.
Sudah sangat lama mama menantikan hari ini, beberapa kali merajuk meminta liburan dipercepat. Setelah menunda-nunda karena urusan pekerjaan saya yang tak kunjung rampung akhirnya kami akan liburan berdua untuk pertama kalinya. Sebab saya tak punya waktu banyak untuk cuti akhirnya kami tidak pergi ke tempat yang jauh, kami akan berlibur di Bandung, kota yang hanya memiliki waktu tempuh kurang lebih 3 jam dari kota tempat kami tinggal.
Beberapa hari sebelum pergi, bapak tak berhenti mewanti-wanti agar saya dapat menjaga mama selama perjalanan. Mama memang sudah tak sekuat dulu, kakinya tak kuat berjalan jauh, bahkan dulu mama pernah tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali hingga dirawat beberapa hari di rumah sakit. Hal tersebut juga yang menjadi pertimbangan untuk menentukan tempat kami berlibur.
Dengan semua resiko yang ada, saya tetap memutuskan akan berlibur berdua dengan mama. Sebab, hati ini sakit kerap kali mama mengeluh kesepian dan bosan berada di rumah seharian.Terakhir kali saya akan pergi untuk pendidikan dan pelatihan di luar kota, tiba-tiba mama merajuk ingin ikut. Saat itu saya hanya tertawa karena saya pikir mama bercanda sampai akhirnya saya sadar mama memang benar-benar merasa sepi dan bosan berada di rumah saja.
Seperti permintaan mama, kami pergi ke Bandung menggunakan kereta. Sepanjang perjalanan, senyuman tak berhenti merekah di wajah mama. Saya yang duduk di sampingnya berharap semoga senyuman itu terus bertahan sampai kami kembali lagi ke rumah.
Tak terasa tiga jam perjalanan telah dilalui, kami sampai di Bandung dengan selamat. Sebelum pergi mengelilingi kota Bandung, saya ada urusan sebentar di kampus sehingga mama saya ajak ke kampus terlebih dahulu. Jarak tempat parkir dan gedung fakultas saya memang agak jauh, apalagi bagi mama yang memang tak kuat jalan jauh. Waktu itu saya pikir daripada meninggalkan mama sendirian di lobby hotel (belum masuk waktu check in jadi harus menunggu di lobby), lebih baik mama saya ajak ke kampus. Namun, ternyata perbuatan saya itu salah dan malah membuat kaki mama sakit selama liburan kami di Bandung.
Selepas beristirahat sebentar di hotel, kami pergi ke salah satu tempat wisata di Bandung. Sesampainya di sana mama langsung minta diantar ke restoran karena kakinya makin sakit ketika berjalan. Jadi, selama di tempat wisata tersebut, kami memang lebih banyak berada di restorannya daripada berkeliling melihat pemandangan dan berfoto. Saya diliputi perasaan bersalah, harusnya ini waktu yang tepat untuk kami bersenang-senang, tapi karena sebelumnya mama saya ajak jalan jauh di kampus, kami jadi tak bisa menikmati perjalanan sama sekali.
Hari sudah mulai gelap, tapi kami masih duduk-duduk di restoran tempat wisata tersebut sampai akhirnya kami mendapat informasi bahwa tempat wisata yang kami kunjungi dapat meminjamkan kursi roda. Saya langsung bergegas pergi ke kantor pusat informasi di tempat wisata tersebut, sesampainya di sana ternyata proses peminjamannya sangat mudah, saya cukup menyerahkan KTP sebagai jaminan. Namun, kami hanya bisa meminjam hingga pukul 7 malam. Sedangkan saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit.
Saya berlari menghampiri mama sembari membawa kursi roda yang telah dipinjam. Kami harus bergegas agar mama dapat menikmati jalan-jalan hari ini, meski tidak banyak waktu yang kami punya. Sayangnya kami berkeliling hanya sebentar, tidak ada yang dapat kami nikmati karena terlalu gelap dan lampu di tempat wisata tersebut redup. Selain itu, selama saya mendorong mama yang duduk di kursi roda, hampir setiap menit mama selalu bertanya apakah dirinya terlalu berat sehingga membuat saya kelelahan. Sesering mama bertanya, sesering itu juga saya menjawabnya bahwa saya tidak merasa lelah sama sekali. Namun, meski saya sudah berusaha meyakinkan mama bahwa saya baik-baik saja, mama tetap meminta pulang. Saya tahu, mama tak tega melihat saya mendorong kursi roda yang didudukinya. Saya juga tahu, mama takut saya malu terhadap kondisinya saat itu. Saya tahu, tapi tak mampu berbuat apa-apa hingga akhirnya kami benar-benar memutuskan pulang ke hotel untuk beristirahat.
Sebelum tidur, mama sempat bilang bahwa esok hari mama hanya ingin di hotel karena kakinya masih sakit. Hati saya terasa sesak mendengarnya, “Bagaimana bisa liburan ini berakhir dengan tidak menyenangkan?” pikir saya. Akhirnya semalaman saya mencari informasi tempat wisata yang dapat menyewakan kursi roda seperti tempat wisata yang kami kunjungi hari ini. Saya baru mendapatkan tempat wisata yang saya cari pukul 8 pagi. Saya harus sedikit memaksa mama agar segera bersiap-siap karena saya ingin mengajaknya jalan-jalan lagi hari ini.
Pukul 9 pagi kami sampai di tempat wisata daerah Lembang tersebut. Jadi, rencananya akhir bulan Oktober nanti rombongan dari RT rumah saya akan berkunjung ke tempat ini. Namun, mama tidak diizinkan ikut oleh bapak karena tidak ada yang mendampingi. Bapak ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, sedangkan saya harus pergi untuk pelatihan dan pendidikan di luar kota. Beryukurlah ternyata tempat ini yang dapat menyewakan kursi roda, jadi sedikit mengobati kekecewaan mama.
Berbeda dengan kursi roda di tempat wisata sebelumnya, kursi roda kali ini terlihat sudah tua dan ternyata setelah dipakai memang butuh tenaga ekstra untuk mendorongnya. Mama yang mengetahui hal tersebut berkali-kali bilang,
“De, kalau cape bilang ya. Nanti mama jalan aja dulu.”
“De, malu gak dorong-dorong mama kaya gini?”
“De, udah yuk pulang aja.”
Saya hanya terdiam sesekali menyangkal setiap perkataan mama, sembari menahan air mata yang sudah membendung. Lagi-lagi, hati saya terasa sesak. Saya tak pernah sedikitpun merasa malu dengan kondisi mama saat itu, saya juga tak merasakan lelah karena mendorongnya di kursi roda. Saya sedih karena yang saya lakukan ini adalah hal yang sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan apa yang telah mama lakukan sejak saya kecil hingga saat ini.
Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, berbagai pemikiran menghampiri saya. Mengingat-ingat pengorbanan mama sejak saya kecil hingga saat ini. Saat kecil dulu mungkin hampir setiap hari saya digendong oleh mama, tapi pernahkah saya bertanya. “Ma, Ayu berat ya? Mama kelelahan ya?” atau pernahkah saya meminta maaf karena telah membuatnya kepayahan?
Saat saya buang air kecil atau buang air besar di celana, pernahkan mama merasa jijik karenanya? Pernahkan mama merasa lelah hingga membuatnya tak lagi mau mengurus saya?
Saat saya mulai beranjak remaja dan mulai banyak yang diinginkan, pernahkan mama menghitung pengeluaran saya dan mencatatnya sebagai hutang agar mama dapat memintanya kembali ketika saya dewasa nanti?
Saat saya melakukan kesalahan di depan banyak orang, pernahkah mama malu mengakui saya sebagai anak?
Saat dulu sampai hari ini, pernahkah saya merasa bersalah karena terus menerus membuat mama susah?
Pemikiran seperti itu terus mendatangi saya sampai hari ini. Setiap kali berangkat ke kantor dan berpamitan dengan mama, saya akan menghabiskan banyak waktu di perjalanan untuk merenung. Sesekali pemikiran itu membuat air mata membanjiri wajah saya. Merasa semua yang hari ini bisa saya beri ke mama tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan semua pengorbanan dan kasih sayangnya sejak kecil hingga sekarang.
Saya membayangkan jika nanti mama sudah tua dan benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa lagi, mampukah saya memperlakukannya seperti perlakuannya terhadap saya selama ini?
Mampukah saya tidak mengeluh selama merawatnya di hari tua nanti?
Mampukah kasih sayang yang saya berikan nanti menyamai kasih sayang mama terhadap saya sejak kecil hingga saat ini?
Jika saya mampu merawatnya dengan baik, apakah sudah cukup untuk membalas kebaikannya selama ini?
“Tidak! Tidak sebanding dengan pengorbanannya merawatmu! Engkau merawat ibumu sambil menunggu kematiannya sementara ibumu merawatmu sambil mengharap kehidupanmu dan kebahagianmu.” (Umar bin Khatthab)