44/365
Izinkan Aku Merayakan Luka
Di atas sajadah yang terbentang sunyi, malam ini aku tidak ingin lagi meminta apa-apa. Aku hanya ingin bersimpuh. Menatap lekat lembar demi lembar kisah kita yang kini telah menjelma menjadi remah-remah sepi. Maka, di sinilah aku sekarang. Izinkan aku merayakan luka ini.
Jangan tanyakan mengapa tak ada air mata yang luruh. Sebab, perih yang paling dalam sering kali lahir tanpa suara. Aku merayakannya dengan cara yang paling tenang. Menghidangkan rasa kecewa di atas meja ingatan, lalu memandangnya satu per satu dengan senyuman paling pias.
Luka ini adalah tanda bahwa aku pernah berjuang sekeras itu. Menambal atap yang bocor sendirian, saat kamu memilih berteduh di tempat lain. Menggenggam erat janji suci yang kian mendingin, hingga jemariku mati rasa. Kini, aku tidak ingin lagi mengutuki malam atau menyalahkan takdir yang patah.
Aku merayakan robeknya hati ini sebagai bentuk kepasrahan tertinggi kepada Sang Pemilik Jiwa. Lewat retakan-retakan ini, aku membiarkan cahaya-Nya masuk dan memelukku. Menyadarkanku bahwa ada hal-hal yang memang harus hancur, agar aku bisa dibangun kembali menjadi jiwa yang baru.
Terima kasih telah memberi luka yang begitu hebat. Hari ini, aku mendulang damai dari reruntuhan kita. Aku berjalan mundur secara perlahan, melepaskanmu, sambil mendekap erat luka yang kini menjadi dewasaku.
Malam sepi | 21.00















