Ruang tengah siang itu terasa begitu sepi. Detak jam dinding terdengar amat menyiksa dalam rungu, memecah hening di antara aroma kapur barus dan sisa doa yang masih menggantung di udara.
Baru beberapa jam lalu Ibu mengembuskan napas terakhirnya. Kami duduk melingkar dalam kedukaan yang masih basah, terjebak dalam rasa tidak percaya bahwa sosok penyejuk rumah ini telah tiada.
Di tengah kesunyian yang mencekam itu, suara kakak iparku tiba-tiba memecah udara. Lemat, namun bergema ke seluruh penjuru ruangan.
"Nggak tahu kenapa, pasti di setiap kelahiran ada aja yang meninggal."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, datar tanpa bermaksud menggurui, namun sanggup menghentikan aktifitas yang aku lakukan saat itu.
Aku tertegun. Kata-katanya berputar-putar di kepalaku, memaksaku menarik kembali ingatan ke masa lalu, menyusuri garis waktu yang selama ini tidak pernah kusadari hubungannya.
Pikiranku mendadak mundur ke beberapa tahun lalu. Ingatanku terpaku pada momen setelah anak ketigaku lahir ke dunia. Saat itu rumah penuh dengan tangis bayi dan tawa kebahagiaan.
Namun, semesta seolah punya cara sendiri untuk menyeimbangkan rasa. Tepat selang satu bulan dari hari bahagia itu, sebuah kabar duka datang mengetuk pintu. Nenek berpulang.
Saat itu aku menganggapnya sebagai kebetulan semata. Namun siang ini, di bawah bayang-bayang kepergian Ibu mertua yang begitu tiba-tiba, ucapan kakak iparku mendadak menjadi masuk akal.
Ada rahasia besar yang sedang dimainkan oleh takdir.
Mungkinkah ini cara bumi menjaga timbangannya?
Bahwa setiap kali ada jiwa baru yang ditiupkan, harus ada jiwa lain yang dengan sukarela melangkah pergi untuk memberi ruang?
Kehidupan dan kematian ternyata bukan dua kutub yang saling menjauh, melainkan dua penari yang selalu bergandengan tangan, bergantian menyapa manusia dalam satu tarikan napas yang sama.