(Di atas sajadah yang sama, dengan nama yang tak pernah berubah di dalam doa.)
Aku bukan lagi anak kecilmu yang dulu sering menangis minta dipeluk. Aku sekarang sudah di sini, berdiri di atas kakiku sendiri, memimpin dan merawat sebuah rumah tangga baru yang kupercaya sebagai jalan ibadahku.
Tapi Ibu, Ayah... kenapa setiap kali malam datang, aku tetap merasa sekecil dulu di hadapan bayang-bayang kalian?
Sekarang kepalaku begitu riuh. Ada tanggung jawab baru yang harus kujaga, ada hati pasangan yang harus kuutamakan, dan ada urusan duniawi yang seolah tak pernah ada habisnya menuntut perhatianku. Di tengah semua keriuhan itu, dadaku kerap kali dihantam rasa bersalah yang teramat sunyi. Aku di sini sedang sibuk-sibuknya menata masa depan, sementara di sana, kalian sedang berkejaran dengan sisa usia.
Setiap kali melihat gurat lelah di wajah Ibu lewat layar ponsel, atau mendengar suara batuk Ayah yang mulai sering terdengar, jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat.
Aku takut sekali. Bagaimana jika aku terlalu sibuk mengurus duniaku di sini, sampai aku lupa bahwa waktu kalian di sana terus berjalan tanpa pernah menungguku?
Bagaimana jika takdir menjemputmu saat aku masih terikat oleh jarak dan urusan yang tak bisa kutinggalkan?
Ketakutan terbesar seorang anak yang merantau dan telah berkeluarga adalah... menjadi asing bagi orang tuanya sendiri di sisa waktu yang mereka punya.
Namun, di titik ini, aku belajar untuk berserah. Memasrahkan segala cemas yang tak mampu kupikul sendiri kepada Pemilik Semesta.
Tuhan... aku ikhlas atas takdir jarak dan peranku yang baru ini. Namun, jika boleh meminta, teduhkanlah sisa usia kedua orang tuaku. Lapangkan hatiku untuk bisa membagi bakti, dan pertemukan kami kembali dalam keadaan terbaik-Mu. Biarkan aku pulang dan memeluk mereka, sebelum waktuku benar-benar habis.