Kalah
Seperti yang dulu aku bilang, bahwa dunia ini merupakan ajang atau serupa kompetisi. Ada pembagian peran masing-masing, manusia jadi peserta, sementara Tuhan lah panitia sekaligus juri lombanya. Disetiap lomba selalu menuntut hasil akhir, apakah menang, seri atau kalah. Uniknya, dalam perlombaan yang singkat ini, menjadi cerminan kita untuk melanjutkan lomba selanjutnya.
Ya, perlombaan ini sangat panjang, mulai dari level mudah hingga level sulit. Apakah bisa sembarang ikutan lomba begitu saja? Layaknya peserta yang mau mendaftar, pasti berlaku syarat dan ketentuan lomba bukan?
Maka untuk perlombaan di Sirkuit bernama “Ad-Dunya” ini, syaratnya cukup syahadat, setelah itu berlaku ketentuan-ketentuan yang lain.
Coba sekarang posisikan kita sebagai peserta lomba, apa saja yang harus dipersiapkan menyambut lomba esok hari?
Menyiapkan Niat, tekad, keyakinan untuk ikut lomba.
Melengkapi syarat dan ketentuan perlombaan.
Punya persiapan yang matang, dan perbekalan yang cukup.
Miliki partner yang bisa diajak berjuang.
Berfokus pada proses, jangan curang dan usil. Nanti bisa di diskualifikasi.
Siapkan hasil, miliki target yang jelas dan terukur.
So, mari kita bahas secara garis besarnya saja.
Kebanyakan dari peserta lomba, biasanya abai dalam memperhatikan syarat dan ketentuan. Imbasnya, ada yang tak bisa ikutan lomba, ada yang mau enaknya saja, dan kejadian yang lain. Perlombaan di dunia ini, bersyarat syahadat. Itu berarti bagi orang-orang kafir dan musyrik, tak bisa ikutan lomba, jelas?
Persiapan dan bekal harus menjadi focus perhatian selanjutnya, untuk itu, mengukur diri dan mempelajari hingga memahami medan juga track lomba adalah kewajiban. Berapa banyak diantara kita yang lagi-lagi abai perihal ini? Hidupnya malas-malasan, fokusnya malah ke dunia, sibuk menyiapkan topeng saja, enggan belajar ilmu agama.
Merasa diri paling baik, paling bisa dan sempurna. Sehingga malah melecehkan kemampuan orang lain. Justru saat kita merasa benar, saat kita merasa baik, disaat itulah kita salah mengartikan perasaan. Jika ini sudah terjadi, kebutuhan untuk bersosial dan empati, berteman dan bersahabat, menolong dan ditolong, jadi hilang dan hancur lebur. “Ngapain juga mikirin orang, lha wong aku pun udah pasti baik dan jaminan masuk syurga kok”. Naaaah, sifat iblis sudah terwarisi, kesombongan sudah merasuk diri.
Sadar sedang ikut lomba, terkadang yang namanya manusia, akal warasnya sering kalah dengan ego dan nafsu. Ingin cepat beres, cepet dapet juara dan trophy kemenangan, alhasil biasanya suka gunain segala cara untuk memuaskan nafsu. Jalan curang dan usil, jadi alat pemuasnya.
Terakhir, saat ikut lomba pastikan tetap on the track, jangan sampai terpedaya oleh sekeliling. Hingga focus nya jadi beda, targetnya malah meleset. Harusnya bisa jadi juara, karena godaan kanan-kiri malah ujung-ujungnya ada di posisi paling buncit. Begitu pula dalam hidup, kita banyak mikirin gimana caranya hidup enak, lupa memikirkan gimana caranya mati enak.
***
Kalah.
Ya, dalam perlombaan ini kusadari banyak kalahnya. Maksudnya apa?
Kalah bukanlah pilihan dalam perlombaan di dunia ini, hanya diri ini belum bisa membendung hal-hal yang menggoda, dan kesemuanya akan berdampak pada kekalahan jika kita tergoda.
Apa tanda-tanda kekalahan sedang ada dalam diri manusia?
Wajahnya murung tak bersemangat, penuh masalah. Seolah masalah tak pernah habis, lalu fokusnya pada dunia saja, pada kerjaan saja. Hatinya tak tenang, gelisah, resah, galau dan sesekali ketakutan. Karena memang jauh dari Tuhan, maka Tuhan pun enggan mendekat. Apa rasanya tak dipedulikan oleh Tuhan?
Mari kita ciptakan kemenangan-kemenangan kecil dalam perlombaan ini, sebelum kita kelak tau apakah kita menang atau kalah dalam mengarungi lomba di dunia ini.
Bagaimana caranya? Dengan senantiasa menjalankan yang wajib, dan menghidupkan yang sunnah.
Bandung, 1 Maret 2017 | dindinbahtiar | Tebar Manfaat Lewat Aksara













