Prinsip
Kadang aku benci dengan sifatku yang pencemburu. Bahkan, bisa dikatakan aku juga overthinking. Rasa cemburu selalu hadir ketika aku mengetahui ada perempuan yang bisa leluasa bercengkrama, bahkan berfoto bersama kamu lalu membagikannya di media sosial.
Berat bagiku untuk mengetahui hal itu. Berat bagiku untuk melihat kebebasan itu. Iya, kebebasan. Terlalu bebas, bahkan.
Aku selalu berusaha tidak melakukan hal-hal yang tidak ingin aku dapatkan dari perlakuan orang lain kepadaku. Begitulah misalnya, aku sangat tidak ingin pasanganku diganggu oleh oranglain, terutama oleh perempuan. Maka, aku sangat berusaha untuk tidak pernah mengganggu laki-laki yang aku ketahui sudah memiliki pasangan. Jangankan untuk berfoto bersama hingga mempostingnya di media sosial, untuk menanggapi chat dan bertemu saja aku segan. Aku menjaga perasaan pasangannya dan aku berusaha tau diri, meskipun mungkin pasangannya tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Aku bisa saja memiliki dan mengumpulkan banyak teman laki-laki dan curhat hingga menghabiskan waktu senang-senang bersama mereka. Tapi aku tidak mau. Alasannya kembali lagi, karena aku sangat tidak ingin orang lain memperlakukan hal yang sangat aku tidak harapkan (bahkan aku hindari) mereka lakukan kepadaku.
Bisa dipahami, tidak?
Entahlah, sampai saat ini aku merasa aku sudah sangat menjaga adab dalam bergaul dengan lawan jenis. Namun sepertinya, masih banyak yang belum memahami hal ini. Atau mungkin sudah tau, namun menganggap sepele sehingga tidak dijalankan.
Satu hal yang ingin aku sampaikan, jangan pernah membahagiakan diri sendiri dengan menggadaikan kebahagiaan dari prinsip orang lain. If you're a woman, you should know this rules.
.
Jakarta, 1 April 2019












